•.•´¯`•.•• ♥ Amalan" Ketika Berbuka Puasa ♥ ••.•´¯`•.••

.✽✽.السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته.✽✽.


Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do'a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:

Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.

Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkann

ya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi'iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.

Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah 'bismillah' agar tambah barokah.

Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ


"Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta'ala (yaitu membaca 'bismillah'). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”." (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,


يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ



»
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda: "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama'ah (bersama-sama).

Keempat: Berdo'a ketika berbuka "Dzahabazh zhoma-u ..."

Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: 'Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)'." (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do'a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do'a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca 'bismillah' sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca 'bismillah', lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do'a di atas 'dzahabazh zhoma-u ...'. Karena do'a di atas sebagaimana makna tekstual dari "إِذَا أَفْطَرَ ", berarti ketika setelah berbuka.


Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.


Kelima: Berdo'a secara umum ketika berbuka.

Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do'a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo'a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

Keenam: Memberi makan berbuka.

Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.

Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia. Dari 'Abdullah bin 'Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do'akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya." (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]" (HR. Muslim no. 2055)

Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,


أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ


"Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath'imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu." (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)


Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca 'bismillah'.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

Kesebelas: Berdoa sesudah makan.

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah”setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah)sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah”saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.

Share Dokumen grup:
https://www.facebook.com/#!/groups/436028619754729/doc/463774533646804

ISTERI YANG PALING MAHAL

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

"Isteri yang mahal dari pandangan Islam ialah
isteri yang tidak meletakkan darjat &
kemuliaannya kepada wang,
tetapi kepada iman, kasih, jiwa dan
hatinya. Kalau diletakkan nilainya
kepada wang, wang akan hilang.
Kalau diletakkan kepada iman,
kasih serta hatinya, ia akan berkekalan
sehingga hari kiamat dan seterusnya
membawanya ke syurga"

~ 5 Ramadhan 1433H ~

Sunnah Sahur

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Firman Allah ta’ala:
Dan makan minumlah kalian hingga telah jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.” (Al-Baqarah: 187)

HadistAnasbinMalik-radhiallahu’anhu-beliau berkata,bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,Makan sahurlah kalian karena pada sahur terdapat berkah.”(HR. al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no.770)

Hadist’Amrubinal-’Ash-radhiallahu’anhu-beliau mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.(HR. Muslim no. 770-771, Abu Dawud no. 2343, at-Tirmidzi no. 708, an-Nasa`i no. 2165, Ahmad 4/197 dan 202 dan ad-Darimi no. 1697)

HadistAbu Sa’idal-Khudri-radhiallahu’anhu-dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahur adalah berkah, makan janganlah kalian meninggalkannya walaupun salah seorang diantara kalian hanya dengan meneguk satu tegukan air. Karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya mendoakan orang-orang yang makan sahur.(HR. Ahmad 3/12 dan 44)

Hadist Abdullah bin Abbas, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mintalah bantuan dengan makan sahur dalam pengerjaan puasa siang hari dan dengan tidur siang dalam pengerjaan shalat malam.(HR. Ibnu Majah no. 1695 dan al-Hakim 1/425)

Hadistal-’Irbadh bin Sariyah beliauberkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundangku untuk makan sahur pada bulan Ramadhan,sembari mengatakan, “Marilah menikmati makan pagi yang ber-berkah.(HR. Abu Dawud no.2344, an-Nasa`i no.2162, Ahmad4/129, al-Baihaqi 4/236 dan Ibnu Khuzaimah no. 1938)

Dan beberapa ulama telah mengutip adanya kesepakatan/ijma’ akan sunnahnya sahur bagi orang-orang yang hendak mengerjakan puasa, selama tidak dikhawatirkan masuknya waktu fajar.

Senyum santun santap sahur dan selamat menjalankan Puasa yang insyaAlloh sudah hari ke enam.....
semuga amal ibadah puasa saudara fillah di terima Alloh Subhanahu Wata'ala...aamiiin

~ 6 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

BURUNG PATAH SAYAP (sebuah catatan dakwah seorang ukhti) Berikut

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

catatan perjalanan dakwah seorang muslimah

Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak
pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi
dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun
sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah
kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili
motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti
bergerak, karena diam dapat mematikan.

“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu
terbatas?
Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan
terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?”
Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “
Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku.
Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah
menikahi akhwat yang lebih muda.

Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I
know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya.

Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat
sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru
setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-
dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola
pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran.
Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah
pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh
tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak
generasi baru jundullah. That’s the point!!

Namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis
yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari
pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner
dakwahku…

Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah
Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena
akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang
meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin
patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah
karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada
saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan
tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka
proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis
dari pernikahan para aktivis.

Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang
nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin
berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak
langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam
kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi
kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi
amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar
mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.

Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai
akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi.
Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina,
kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak
terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan?
Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya,
menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya.
Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang,
jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus
terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya
terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun
mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa
masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu
sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini?

Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para
jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita
IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).

Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal
yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem
yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan
tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat.
Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih
utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis
dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya
umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja.

Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua
kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak
ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia
kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada
tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan
pertemuan dengan-Nya.

Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia
perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk
dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan
gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak
dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan.
Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau
mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot
dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari
apa sih?).

Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat.
Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam
kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya
sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat
kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh
kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat
berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian
dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak).
Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita,
tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah
kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa
membuktikannya alias konsulen teoritis saja).

Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah
genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana
dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun
sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan
yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama
bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini
harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua
adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i
sebelum yang lainnya ).

Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para
akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan.
Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap
jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena
Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja.
Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak
mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir
zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak
karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah
mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah
sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga
kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya,
meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.

Semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat,
dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid
manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka
bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang
harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan
pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan
yang saling menyemangati antar para umahat untuk
mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu
rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.
Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia
tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah
dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan
fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa,
sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang
tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi
mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua
orang yang dicintanya….

Demi izzah Islam.
Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat
bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah
ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena
seringkali ialah musuh terbesar kita.

“ Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu
dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-
orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).

Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping
mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga
kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya.
Wallahualam bishawab.

Share:https://m.facebook.com/groups/436028619754729?view=permalink&id=466526493371608

~ 6 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

{4 Perkara Dalam 4 Keadaan}

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

~Buat Renungan Bersama~

"Sesungguhnya Allah s.w.t menyembunyikan empat perkara dalam empat keadaan.

Disembunyikan redhonya ketika taat padanya,maka janganlah menghina amal yang remeh dan sedikit kemungkinan terdapat padanya redho Allah tanpa diketahui.

Disembunyikan kemurkaanNya pada kemaksiatan hambanya maka janganlah kalian memperkecilkan dosa yang kecil kemungkinan padanya kemurkaan Allah yang tidak
diketahui.

Disembunyikan juga waktu dikabulkan doa maka janganlah kalian memandang remeh dalam berdoa kemungkinan ia bertepatan dengan waktu dimakbulkan doa sedangkan
hambanya tidak mengetahui.

Dan disembunyikan juga wali dari kalangan hambanya maka janganlah di antara kamu memperlekeh mereka yang berpakaian hodoh dan buruk barangkali dia adalah wali
Allah sedangkan kamu tidak mengetahui.

Imam Jaafar as Sadiq.

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan...

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم





Selain Puasa yang Allah wajibkan pada Bulan Ramadhan ada berbagai Amalan yang disunahkan pada bulan ini. Di antaranya :

1. Mengkhatamkan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari Lauhul Mahfuz ke langit Dunia sekaligus (beransur-ansur).

ALLAH SWT berfirman : "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi Manusia dan Penjelasan-penjelasan mengenai Petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)". (QS. Al-baqarah : 185).


2. Solat Tarawih

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang menghidupkan Malam bulan Ramadhan kerana Iman dan mengharap Pahala dari ALLAH akan diampuni Dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari, An-Nasa'i, Muslim, Abu Dawud dari Abu Hurairah).


3. Memperbanyakkan Doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh itu, perbanyakkanlah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa dan saudara-saudara kita sesama Muslim di belahan Dunia.


4. Memberi Buka Puasa (Tafthir Shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan Ifthar (Berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir Kurma sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang memberi Ifthar (untuk Berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (HR. Bukhari & Muslim).


5. Bersedekah

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada Bulan Ramadhan”.
(HR. Tirmidzi).

Dan pada akhir bulan Ramadhan, ALLAH mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan Zakat Fitrah sebagai Penyempurna Puasa yang dilakukannya.


6. I’tikaf.

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada ALLAH. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; kerana Rasulullah SAW selalu Beri’tikaf terutama pada Sepuluh Malam Terakhir dan para isterinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak Zikir, Istighfar, Membaca Al-Qur’an, Berdoa, Solat Sunnah dan lain-lain.


7. Memperbanyak Membuat Kebaikan

Bulan Ramadhan adalah Peluang Emas bagi setiap muslim untuk menambah pahalanya di sisi ALLAH. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi dikatakan bahawa Amalan Sunnah pada Bulan Ramadhan Bernilai seperti Amalan Wajib dan Amalan Wajib senilai 70 Amalan Wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap Peluang untuk Berbuat Kebaikan sekecil apapun meskipun hanya sekadar tersenyum di depan orang lain.

Semoga kita termasuk di kalangan mereka yang memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk merealisasikan Ketaqwaan Diri kita dan meraih predikat “Bebas dari Neraka.”

Aaamiiin Allahumma Aaamiiin..

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa buat semua sahabat Muslim yang dikasihi ^_^


سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

.....MENABUR FITNAH....

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Allah swt berfirman:

Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘FITNAH’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,

“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu FITNAH. Maksudnya adalah suatu cubaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cubaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah FITNAH yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah swt memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedehakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.” (Jami’ al-Bayan [13/473] asy-Syamilah)

al-Baghawi rahimahullah berkata:

“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan FITNAH adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.” (Ma’alim at-Tanzil [3/346] asy-Syamilah)

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Muraqabatullah ( Pengawasan Allah )

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

“ Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan ” (QS. Fushhdilat: 40)

Saya sering diingatkan oleh istri saya ,"....ingat Muraqabatullah ( Pengawasan Allah )
ya Aa (panggilan istri thd saya) dan pengawasan malaikat ".......

Salah satu jalan menuju Muraqabatullah ( Pengawasan Allah ) adalah dengan kita memiliki sifat Malu yang bersumber dari Iman.....

Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “ Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain ”

Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan ” (HR Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)

" sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan " begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)

Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)

Dari Zainab binti Abi Salamah, dari Ummu Salamah Ummu Mukminin berkata, “Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, menemui Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi bila bermimpi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, bila ia melihat air (keluar dari kemaluannya karena mimpi).’” (HR. Bukhari dalam Kitab Ghusl, hadits nomor 273)

Sebagaimana yang sampai kepada kita melalui Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya ” Kami berkata, “ Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu ” Beliau berkata, “ Bukan itu yang aku maksud,Tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allah ” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah, hadits nomor 2382)

oh ya sobat pejuang semua yang coolz cintai jangan pernah lupa menaruh malu pada tempatnya ya......ketika ada yang mengajak bersalaman kepada kita (pria-wanita) dan kita menyambutnya dengan alasan saya malu menolaknya........

“Idza lam tastahyii fashna’ maa syi’ta, bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225).

Wallaahu a'lamu bish_shawaab................

Share: https://m.facebook.com/groups/436028619754729?view=permalink&id=466990659991858

~ 7 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Berbuat baik kepada makhluq berpahala

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al- Anshariyah di kebun kurma miliknya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah dia seorang muslim atau kafir?” Dia menjawab, “Seorang Muslim....” Maka beliau bersabda:

لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman apapun atau bertani dengan tumbuhan apapun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, atau binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan berniali sedekah untuknya.” (HR. Muslim no. 1552)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim bercocok tanam dengan tanaman apapun kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya. Apa saja yang dicuri orang darinya (tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang liar (dari tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah seseorang mengambil darinya melainkah itu juga akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim no. 1552)

Penjelasan ringkas:

Di antara rahmat Allah Ta’ala adalah Dia menjanjikan banyak pahala pada berbagai bentuk amalan kebaikan walaupun yang sifatnya rendah di mata kebanyakan manusia. Allah tidak menjadikan pahala sedekah hanya untuk orang-orang yang kaya, akan tetapi juga menyediakan jalan-jalan sedekah bagi mereka yang biasanya miskin, seperti para petani. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam.

Lihatlah bagaimana setiap petani -dengan syarat jika dia seorang muslim- bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak dari siapa saja yang makan dari hasil pertaniannya, baik itu manusia maupun binatang, baik itu atas seizinnya maupun diambil tanpa seizinnya (dicuri). Ini memperkuat sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Berbuat baik kepada setiap makhluk hidup adalah berpahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jika hasil tanamannya dimakan oleh orang lain melalui jalur jual beli, apakah petani tersebut tetap mendapatkan pahala?
Wallahu a’lam, lahiriah haditsnya bermakna umum. Dia mendapatkan pahala dari setiap makhluk yang memakan hasil pertaniannya baik dia berikan secara gratis maupun dia jual kepada orang lain.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/enaknya-jadi-petani.html
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Biidznillah.. (Dengan izin ALLAH SWT)

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Ada seorang hamba DIA.. sakit, lalu dia makan ubat. Akhirnya sembuh.
Ada seorang hamba DIA.. sakit, lalu dia makan ubat. Tidak juga sembuh.

Ada seorang hamba DIA.. belajar dengan tekun. Akhirnya dia lulus peperiksaan.
Ada seorang hamba DIA.. belajar dengan tekun. Tidak juga lulus peperiksaan.

Ada seorang hamba DIA.. berniaga dengan gigih. Akhirnya berjaya.
Ada seorang hamba DIA.. berniaga dengan gigih. Tidak juga berjaya.

⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱

Biiznillah (dengan izin ALLAH SWT). Maka yakinlah DIA tidak zalim, tidak akan memberi sesuatu yang tidak berfaedah kepada hambaNYA.

Jika ubat itu tidak menyembuhkan, maka sakit itulah penghapus dosa..
Dan rintihan kesakitan bersama doa pengharapan itulah jalan yang mendekatkan kita kepada DIA.

Jika ketekunan belajar itu dibalas dgn kegagalan, maka yakinlah kegagalan menyebabkan kita belajar cara untuk berjaya, menambahkan lagi ketekunan dan memberi rasa nikmatnya apabila kejayaan diperoleh hasil usaha yang bersungguh-sungguh..

Teruskan melangkah, lupakan gundah,
Pastikan arah, yakinkan diri!!
Tekadkan semangat!!!

Semua akan lebih baik jika kita mahu berdoa, berusaha dan hanya padaNYA kita berserah :)

~ 9 Ramadhan 1433H ~
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Sholat Tarawih 11 atau 23 Raka'at

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Sebenarnya dalam permalasalahan jumlah raka'at shalat tarawih tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada masalah dengan 23 raka'at atau 11 raka'at. Semoga kita bisa semakin tercerahkan dengan tulisan berikut.

Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)
Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan

Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.

‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah).
Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)
Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:

Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. ... Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)
Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)
Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih

Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.

Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.
Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”
Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”
Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”
‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”
Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)

Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)
Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
“Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.
Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)
Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.
Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.
Yang Paling Bagus adalah Yang Panjang Bacaannya
Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)
Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Cuplikan dari Buku Panduan Ramadhan

http://rumaysho.com/
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Hadits Lemah dan Palsu Berkaitan dengan Ramadhan

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Berikut adalah beberapa hadits yg masyhur(populer) di masyarakat, khususnya saat bulan Ramadhan yg penur berkah. Sering dibawakan oleh para penceramah, disebarkan lewat sms tausiyah, maupun artikel dan selebaran. Namun amat disayangkan, hadits2 tsb ialah Lemah dan Palsu. Amat penting bagi ummat Islam untuk mengetahui derajat sebuah hadits sebelum mengamalkan atau menyebarkannya, siapa yg meriwayatkan? apakah shahih atau tidak?. Karena hadits lemah, apalagi palsu, tidak dapat disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mengatakan Rasulullah berkata begini dan begitu padahal -ia tahu bahwa hal tsb- tidak pernah keluar dari lisan beliau yg mulia ataupun tidak pernah dilakukan oleh beliau, merupakan dosa yg besar, sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [Muttafaqun ‘Alaihi dari shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan yang lainnya]

Hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan amat banyak, berikut saya bawakan 10 diantaranya;

Hadits ke-1

صوموا تصحوا

“Berpuasalah, kalian akan sehat.” [HR. Abu Nu’aim]

Hadits Lemah[1].

* nb: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Hadits ke-2

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” [HR. Al Baihaqi dlm Syu’abul Iman (3/1437)]

Hadits Lemah[2].

Hadits ke-3

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا

“Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya.” [HR.Ibnu Khuzaimah III/190]

Hadits Palsu[3].

Hadits ke-4

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka” [Disebutkan dlm Kitab Durratun Nashihin tanpa sanad]

Hadits Palsu[4].

Hadits ke-5

من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر

“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.” [HR. Ibnu Hibban dlm Al Majruhin I/300, Al Baihaqi di Syu’abul Iman III/1441]

Hadits Lemah [5].

* nb: Yang benar, orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yg diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits: “Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” [HR. At Tirmidzi no.807, ia berkata: “Hasan shahih”]

Hadits ke-6

Hadits ttg doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

Allahu“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”

Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu[6] . Sedangkan pada do’a yg tidak mengandung lafadz ‘wabika aamantu’ pada do’a di atas, maka sanadnya berkisar antara lemah/lemah sekali.

* nb: doa berbuka puasa yg benar, terdapat dalam hadits:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

(Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah) ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah” [HR. Abu Daud 2357, Ad Daruquthni II/401]

Hadits ke-7

رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” [HR. Ad-Dailami, Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh I/186]

Hadits Palsu[7]

Hadits ke-8

يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه … وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار

“Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut …, dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” [HR.Ibnu Khuzaimah III/191, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman III/305]

Hadits ini adalah hadits Munkar(Lemah)[8].

* nb: Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760]. Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja.

Hadits ke-9

أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر

“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.” [Diriwayatkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib II/157, Ibnu Syahin dlm at-Targhib]

Hadits Lemah[9]

Hadits ke-10

“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai 3 kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Hadits ini adalah hadits Palsu, tidak ada asal-usulnya. bahkan teks arabnya pun tidak ditemukan[10]. kemungkinan baru keluar tahun kemarin.

* nb: yang benar, Islam mengajarkan untuk meminta maaf jika berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Demikian yg dapat saya share ke teman2, semoga kita dapat -senantiasa- beragama berdasarkan dalil2 yg shahih, dan terhindar dari penyimpangan akibat menggunakan dalil yg lemah maupun palsu. Semoga beranfaat :)

wallahul muwaffiq..

____________________________________________________

footnote:

[1]Sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).

[2]sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

[3]Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Jarir bin Ayyub. Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/103] dan juga Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 74] menghukumi dia (Jarir bin Ayyub) adalah perawi yang suka memalsukan hadits -yakni pendusta-. Lihat Lisanul Mizan [II/302] karya Ibnu Hajar.

[4]Hadits Laa Ashlalahu /tidak ada asal-usulnya (Lebih parah dari hadits palsu).

[5]sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

[6]Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih.

[7]Sebagaimana dikatakan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).

[8]Lihat Lisanul Mizan [II/169] karya Ibnu Hajar, As-Siyar [V/207] karya Adz-Dzahabi, dan As-Silsilah Adh-Dha’ifah [II/262] karya Asy-Syaikh Al-Albani.

[9]Lihat Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43) Syaikh al-Albaniy.

[10]‘Hadits ini merupakan hadits yg dipelesetkan lafadznya dari hadits riwayat Ibnu Khuzaimah III/192, Ahmad II/246&254, dengan lafadz hadits yg benar: “Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.

Artikel:http://buahatiku.wordpress.com/2011/08/11/hadits-lemah-dan-palsu-berkaitan-dengan-ramadhon/
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Bersedekahlah Jangan Berlebihan...!

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Berpada-padalah dalam berbelanja semasa berbuka puasa mahupun persiapan untuk hari raya. Jangan membazir kerana membazir itu adalah perangai syaitan. Perbuatan syaitan itu memang sia-sia dan merugikan.

ALLAH SWT berfirman yang bermaksud : "Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara Syaitan, sedang Syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya." [Surah Al-Israa : Ayat 27]

Nauzubillah...

Daripada melakukan pembaziran secara besar-besaran, adalah lebih baik berinfak ke jalan Allah yakni berzakat (wajib) dan bersedekah (sunat). Ingatlah, hak kita ada pada mereka, kerana harta yang dimiliki oleh kita ini hakikatnya adalah milik ALLAH. Maka ALLAH bersama dengan orang-orang yang miskin kerana mereka insan yang lemah, oleh itu duit kita tu adalah milik ALLAH dan hendaklah kita 'pulangkan' hak ALLAH itu kepada orang yang dijaga haknya oleh ALLAH SWT. Apa yang kita infakkan itu tidak mungkin akan disia-siakan. Apa yang dimakan akan habis tetapi pahala infak itu tidak akan habis malahan akan kekal sehingga ke hari akhirat!

Firman ALLAH SWT yang mafhumnya : “Perbandingan untuk mereka yang menyumbangkan harta di jalan ALLAH, adalah laksana sebutir benih yang mampu menumbuhkan tujuh tangkai, manakala di setiap tangkainya pula mampu menghasilkan tambahan seratus benih baru. ALLAH pasti melipatgandakan (ganjaranNYA) kepada sesiapa yang DIA inginkan. Dan ALLAH Maha Luas (kurniaanNYA), lagi Maha Mengetahui”. (Surah Al-Baqarah 2 : Ayat 261)

Rasulullah SAW bersabda, "(Ada) seorang hamba Allah berkata: 'Hartaku Hartaku!' padahal hartanya yang sebetulnya ada TIGA MACAM :

1- Apa yang dimakan lalu habis.
2- Apa yang dipakainya lalu lusuh.
3- Apa yang disedekahkannya, lalu tersimpan (untuk akhirat).

Maka selain daripada 3 macam itu (ia akan) lenyap atau ditinggalkan BAGI ORANG LAIN!"
(Hadis riwayat Imam Muslim).

ALLAH SWT berfirman : "..dan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal" (Surah Al-A'ala)

"Katakanlah apa yang ada di sisi Allah (ganjaran Allah) lebih baik daripada hiburan dan daripada perniagaan dan Allah sebaik-baik Pemberi rezeki" (Surah Al-Munafiqun)

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Di saat kematian seseorang anak adam, maka akan terputuslah segala amalannya, melainkan hanya tiga perkara, iaitu SEDEKAH JARIAH, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.” (Riwayat Muslim No. 4310)

Latihlah diri untuk rajin bersedekah.
Jadilah orang yang pemurah.
Gandakan nilai wang kita dengan cara bersedekah atau berbelanja pada jalan ALLAH.
SEMAMPU kita...
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Penjelasan Shalat Tarawih 11 dan 23 rokaat

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Ikhtilaf apa perdebatan Tarawih?

hadits nabi Muhammad Saw : Man ‘Amila Amalan Laisa Alaihi Amruna Fahuwa Ra’dhun. Artinya siapa saja yang beramal suatu amalan yang padanya tidak ada contoh dan perintah kami, maka amalan itu tertolak.

MasyaAlloh, sangat berbahaya sekali. Amalan kita selama sebulan penuh bisa tertolak hanya karena pada amalan tarawih kita tidak ada contoh dan perintah Rasululloh. Jadi kekhawatiran yang ada merupakan satu kekhwatiran yang wajar dan mesti ada pada jiwa-jiwa seroang muslim yang mengaharap Rhidho Alloh. Lalu harus bagaimana mengahadapi polemic ini?

Baiklah, saya akan coba berbuat semampu saya dengan meninjau semua keterangan yang ada dalam permasalahan tarawih ini? Mulai dari :
- Jumlah rakaat.
- masalah tata cara rakaatnya
- Setelah Isya atau tengah malam?
- Sampai masalah Berjemaah atau tidak?

Dengan pemaparan ini bukan berarti saya lebih pintar dari sahabat muslim semua. Bukan pula saya merasa sok pintar dalam masalah-masalah Dienul Islam. Hanya saja saya berusaha berbuat sesuai kemampuan saya dan ilmu yang Alloh titipkan pada saya. Saya pun tidak akan menjudge ini yang Sunnah dan ini yang Bid’ah, ini salah dan yang yang ini yang benar. Semua saya serahkan kepada sahabat muslim yang mebaca keterangan-keterangan saya nanti. Jadi intinya saya hanya menyuguh keteranga-keterangan yang ada, baik dari hadits-hadits shohih maupun dari Al-Quranul-Karim.

Jadi marilah kita mulai mengulas, Bismillah :

a. Jumlah Rakaat.

Pertama, marilah kita mengulas permasalahan jumlah rakaat dahulu. Dalam permasalahan ini ada dua pendapat, ada yang mengatakan 23 rakaat ada juga yang mengatakan 11 rakaat. Mana yang benar, jawab saya Wallohu ‘alam. Namun, saya akan membawakan kepada sahabat muslim semua keterangan hadits-haditsnya.

"Pertama marilah kita lihat keterangan hadits yang mengatakan bahwa shalat tarawih itu 23 rakaat. Inilah haditsnya :

Artinya :
“Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi SAW, shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka’at, . Di riwayat lain ada tambahan : “Dan witir setelah shalat dua puluh raka’at”.

Mari kita mulai tinjau hadits yang pertama ini. Setelah saya mencoba menelusuri silsilah hadits tentang jumlah rakaat tarawih adalah 23 di atas, saya mendapatkan sebuah keterangan tentang perowi hadits ini. Hadits ini semuanya diriwayatkan dari jalan Abu Syaibah, yang nama aslinya adalah Ibrahim bin Utsman dari Al-Hakim dari Misqam dari Ibnu Abbas.

Nah, kali ini kita akan menyoroti sebuah nama yaitu Abu Syaibah. Ada apa dengan Abu Syaibah? Sahabat muslim ada yang tahu? Emh, pada awalnya juga saya tidak banyak tahu tentang Abu Syaibah. Namun setelah coba mencari info dalam kitab-kitab hadits. Ternyata para Imam hadits masyur mengatakan bahwa Abu Syaibah adalah seorang perowi yang riwayatnya tidak bisa digunakan, karena Abu Syaibah memiliki kecacatan dalam periwayatannya. Berikut adalah komentar para Imam Hadits Masyhur :

• Kata Imam Ahmad, Abu Dawud, Muslim, Yahya, Ibnu Main dll : Dlo’if.
• Kata Imam Tirmidzi : Munkarul Hadits.
• Kata Imam Bukhari : Ulama-ulama mereka diam tentangnya .
• Kata Imam Nasa’i : Matrukul Hadits.
• Kata Abu Hatim : Dlo’iful Hadits, Ulama-ulama diam tentangnya dan mereka meninggalkan haditsnya.
• Kata Ibnu Sa’ad : Adalah dia Dlo’iful Hadits.
• Kata Imam Jauzajaniy : Orang yang putus .
• Kata Abu Ali Naisaburi : Bukan orang yang kuat .
• Kata Imam Ad-Daruquthni : Dlo’if.
• Al-Hafidz menerangkan : Bahwa ia meriwayatkan dari Al-Hakam hadits-hadits munkar.

Lalu apa tanggapan para Imam hadits terhadap hadits ini?

Al-Hafidz berkata di kitabnya Al-Fath : Isnadnya dlo’if, Al-Hafidz Zaila’i telah mendlo’ifkan isnadnya di kitabnya Nashbur Rayah . Demikian juga Imam Shan’ani di kitabnya Subulus Salam mengatakan tidak ada yang sah tentang Nabi shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka’at.

Sedangkan Imam Thabrani berkata : Tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas melainkan dengan isnad ini. Imam Baihaqi berkata : Abu Syaibah menyendiri dengannya, sedang dia itu dlo’if. Imam Al-Haistami berkata di kitabnya “Majmauz Zawaid : Sesungguhnya Abu Syaibah ini dlo’if.

Nah, jadi begitulah tanggapan para Imam Hadits terhadap hadits yang menyatakan bahwa sholat tarawih itu sebanyak 23 rakaat dhoif adanya. Jadi kini telah nampak bagi kita bahwa keterangan yang menyatakan sholat tarawih berjumlah 23 rakaat tenryata tidak bisa dipakai karena terdapat kelemahan dalam periwayatanya yaitu pada rowinya yang bernama Abu Syaibah.

Barulah sekarang kita melangkah kebagian kedua, yaitu bagaimana kedudukan dalil yang menyatakan bahwa sahalat tarawih itu berjumlah 11 rakaatnya. Berikut adalah haditsnya :
Artinya :
Dari ‘Aisyah Rhodiyallohu Anha : Tidak pernah Rosululloh Saw kerjakan (sholat tathowu) di ramadhan dan tidak di lainnya lebih daripada sebelas Rakaat, yaitu ia shalat empat (rakaat)- jangan engakau tanyakan tentang bagus dan panjangnnya. – kemudian ia shalat empat (rakaat) – jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya – kemudian ia shalat tiga (rakaat).
Berkata Aisyah : Saya Bertanya : Ya Rasululloh apakah paduka tuan hendak tidur sebelum witir?
Sabdanya (Rosululloh) : Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya dua mataku tidur tapi tidak tidur hatik. (HR. Bukhari Muslim).

Hadits di atas bisa sahabat muslim lihat dalam Kitab Bulughul Marram karya Imam Ibnu hajar Al-Atsqolani pada Bab Sholatu Tathowu (sunah) hadits no 400.

Dalam hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah di atas tidak terdapat kecacatan sedikitpun. Para ulama hadits pun sepakat akan keshohihan hadits ini. Maka keterangan hadits yang menyatakan bahwa Rasululloh shalat tarawih sebelas rakaat itu kuat dan bisa dipakai.

Sekarang, keputusan ada ditangan sahabat muslim. apakah sahabat muslim memilih dalil keterangan yang dhoif (lemah), maka sholatlah 23 rakaat. Atau sahabat muslim lebih memilih keterangan dalil yang kuat dan mengikuti sunnah, maka sholatlah 11 rakaat. Itu haq sahabat muslim, sebab sahabat muslim sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya. Tugas saya hanya sekedar menyampaikan saja.

B. Permasalahan Tata Caranya.

Kita masuk kepada peninjauan dalil pada permasalah yang kedua, yaitu tatacara praktek rakaatnya. Apakah 2 rakaat salam kemudian ditambah lagi 2 rakaat dan seterusnya? Atau empat rakaat salam dan ditambah lagi empat rakaat lagi? Mana tatacara yang benar dan mengikuti sunnah?

Baiklah mari kita tinjau kembali dalil-dalilnya!

Jika sahabat muslim meperhatikan keterangan hadits di atas (rakaat tarawih itu 11) yang di riwayatkan oleh ‘Aisyah. Pada hadits di atas sebetulnya telah nyata bagi kita keterangan untuk menjawab hadits ini. berikut potongan hadits yang menunjukan keterangan tersebut :
yaitu ia shalat empat (rakaat)- jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnnya. – kemudian ia shalat empat (rakaat) – jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya – kemudian ia shalat tiga (rakaat).

Dari penejalsan detail hadits di atas maka sholat tarawih yang Rasululloh lakukan adalah empat rakaat salam kemudian empat rakaat salam Dan inilah pendapat yang paling kuat untuk tatacara rakaat pada shalat tarawih atau qiamu romadhon.

Lalu bagaimana kedudukan pendapat yang mengatakan bahwa shalat sunnah Tarawih atau qiamu romadhon itu dua rakaat salam, dua rakaat salam dan seterusnya. Dalil yang menyatakan sholatnya itu dua rakaat salam, tidaklah salah dan benar adanya. Hanya saja orang yang berpendapat bahwa shalat tarawih 2 rakaat salam dengan menggunakan dalil ini, kurang tepat atau keliru. Sebab dalil yang menyatakan 2 rakaat salam itu, dalillnya untuk shalat malam atau tahajud biasa.. berikut dalilnya :

Artinya : Dari Ibnu Umar, Ia berkata : Telah bersabda rosululloh Saw : “Shalat malam itu ialah dua rakaat – dua rakaat, tetapi apabila salah seorang diantara kalian khawatir datangnya subuh, boleh ia sholat satu rakaat (witir) yang mengganjilkan baginya sholat yang ia kerjakan.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Hadits ini terdapat pada kitab Bulughul marram karya Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani pada bab Sholat Tathowu, hadits no 390.

Ketarangan hadits melalui jalan Ibnu Umar ini memang membahas tatacara sholat dengan dua rakaat salam dua rakaat salam. Namum hadits ini juga sudah menjelaskan pada awal hadits, bahwa yang dua rakaat salam dua rakaat salam itu hanya untuk sholat malam atau Qiamu Lail atau yang sering kita sebut tahajud, dan bukan untuk sholat tarawih atau sholat Qiamu Romadhon.

D. Apakah Sholat Tarawih Harus Berjemaah atau Sendiri?

Sekarang kita masuk pada peninjauan masalah pertentangan yang selanjutnya, apakah sholat tarawih harus berjemaah atau tidak? Di permasalahan ini juga menimbulkan pro kontra yang cukup sengit jika permasalahan ini dibawah ke ranah diskusi.

Seperti yang kita ketahui, pada umumnya di masyarakat luas bahwa kebanyakan di masyarakat kita adalah shalat tarawih berjemaah setelah sholat Isya selesai dilaksanakan. Atau dengan kata lainnya inilah yang lebih umum dilakukan oleh mayoritas orang-orang di lingkungan kita. Maka dari itu saya akan mengajak sahabat muslim semua untuk meninjau bagian ini dahulu.

Kita akan sama-sama meninjau, apakah ibadah sholat sunnah tarawih berjemaah dan dilakukan ba’da Isya itu ada dalil serta dasar hukumnya?

Mengapa harus ditinjau dari segi hal itu dahalu?

Karena, tarawih adalah ibadah, dan menurut qoidah Ushul Al-Ashlu il ‘Ibaadah Buthlan, hatta yaakuna ad-dalilu ‘ala amrihi (Asal dalam melaksanakan ibadah itu adalah batil, sehingga ada dalil yang memerintahkannya). Jadi semua Ibadah yang kita lakukan di dunia ini pada mulanya bathil, ia menjadi sunnah atau wajib yang bernilai ibadah ketika ada dalil yang memerintahkan ibadah tersebut.

Setelah saya coba cari dan telusuri tentang dalil-dalil tentang sholat tarawih berjemaah ba’da Isya, Alhamdulillah saya menemukannya. Dan berikut adalah haditsnya :

Dari 'Aisyah Radhiallahu 'anha bahwa ia menuturkan :

"Dahulu manusia shalat di masjid Nabi Shalalllahu 'alaihi wa sallam di malam bulan Ramadhan dengan berpencar-pencar (yakni dengan berimam sendiri-sendiri). Seorang yang banyak hapal Al-Qur'an, mengimami lima sampai enam orang, atau bisa jadi lebih atau kurang. Masing-masing kelompok shalat bersama imamnya. lalu Rasulullah menyuruhku untuk memasang tikar di depan pintu kamarku.
Akupun melakukan perintahnya. Sesuai melakukan shalat 'Isya di akhir waktu, beliau keluar kemuka kamar itu. 'Aisyah melanjutkan ceritanya : Manusia yang kala itu ada di masjidpun lantas berkumpul ke arah beliau. Lalu beliau sholat bersama mereka shalat sepanjang malam. Kemudian orang-orang bubar, dan beliaupun masuk rumah. Beliau membiarkan tikar tersebut dalam keadaan terbentang. Tatkala datang waktu pagi, mereka memperbincangkan shalat yang dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama orang-orang yang ada pada malam itu (maka berkumpullah manusia lebih banyak lagi) dari sebelumnya. Sehingga akhirnya masjid menjadi bising Pada malam ke dua itu, Nabi Shalalllahu 'alaihi wa sallam kembali shalat bersama mereka. Maka di pagi harinya, orang kembali memperbincangkan hal itu, sehingga orang yang berkumpulpun bertambah banyak lagi (pada malam ketiga) sampai masjid menjadi penuh sesak. Rasul-pun keluar dan shalat mengimami mereka. Di malam yang keempat, disaat masjid tak dapat lagi menampung penghuninya ; Rasulullah-pun keluar untuk mengimami mereka shalat 'Isya dipenghujung waktu. Lantas (pada malam itu juga) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke rumahnya, sedangkan manusia tetap menunggunya di masjid". 'Aisyah lalu menuturkan : "Rasulullah bertanya kepadaku :"Orang-orang itu sedang apa ya 'Aisyah ?" Saya pun menjawab : "Wahai Rasulullah, orang-orang itu sudah mendengar tentang shalatmu tadi malam bersama orang-orang yang ada di masjid ; maka dari itu mereka berbondong memenuhi masjid untuk ikut shalat bersamamu". Lalu 'Aisyah melanjutkan kisahnya : "Beliau lantas memerintahkan :"Tolong lipat kembali tikarmu, wahai 'Aisyah !". Akupun lantas melakukan apa yang beliau perintahkan. Malam itu, beliau berdiam di rumah tanpa tidur sekejappun. Sedangkan orang-orang itu tetap menunggu ditempat mereka. Hingga datang pagi, barulah Rasulullah keluar. Seusai melaksanakan shalat subuh, beliau menghadap kearah para sahabatnya] dan bersabda :
"Wahai manusia, sungguh demi Allah, aku sama sekali tidak tertidur tadi malam. Akupun tahu apa yang kalian lakukan. Namun (aku tidak keluar untuk shalat bersama kalian) karena aku khawatir shalat itu menjadi (dianggap) wajib atas diri kalian.
Sesungguhnya Allah tak akan bosan, meskipun kamu sendiri sudah bosan". (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343).

Itulah hadits yang sangat panjang yang menjadi dasar dalil melakukan sholat taraweh berjemaah (dan tidak ada penjelasan ba’da Isya, untuk yan ba’da Isya entah dari mana, saya belum menemukannya).

Nah, sekarang mari kita tinjau hadits Riwayat Imam Bukhari melalu jalan Aisyah RA tersebut.

Setelah saya perhatikan dengan mengkaji, justru malah sebaliknya lho. Hadits ini seharusnya menjadi dalil bahwa sholat tarawih itu tidak berjemaah. Lho, kenapa? Pasti sahabat muslim bertanya-tanya seperti itu. Okay, mari kita runut satu persatu kejadian dalam hadits di atas, dan apa kesimpulannya?

Pada malam pertama dibulan Ramdhan (yang pertama kali dilakukan) Rasululloh melakukan sholat Qiamu Ramadhan (Tarawih) di mesjid, kemudian beberapa orang yang melihat hal itu mengikuti sholat dibelakang Rasululloh.

Ketika Pagi hari, orang-orang yang mengikuti Sholat Rasululloh bercerita kepada teman-temannya tentang sholat yang mereka lakukan tadi malam. Maka tatkala Rasululloh Sholat pada malam Kedua jumlah orang yang mengikuti sholat bersama Rasululloh menjadi lebih banyak.

Kemudian ketika pagi tiba orang-orang yang banyak itu bercerita kepada teman-temannya lagi. Sehingga pada malam ketiga, saat Rasululloh sholat, semakin banyak saja yang mengiti. Dan di malam yang keempat Mesjid membeludak jemaah dan tidak mampu lagi menampung jemaahnya. Dan Rasululloh tidak keluar untuk sholat lagi, beliau tetap diam di rumahnya tanpa tidur (sholat di rumah).

Maka orang-orang yang membeludak itu merasa keheranan. Kenapa Rosululloh tidak keluar sampai subuh tiba? Setelah Sholat Subuh Rosululloh langsung berkhutbah untuk menjawab pertanyaan mereka, beliau bersabda : "Wahai manusia, sungguh demi Allah, aku sama sekali tidak tertidur tadi malam. Akupun tahu apa yang kalian lakukan. Namun (aku tidak keluar untuk shalat bersama kalian) karena aku khawatir shalat itu menjadi (dianggap) wajib atas diri kalian.

Dan di sinilah yang menjadi titik kesimpulan yang saya katakana bahwa hadits ini seharusnya menjadi dalil bahwa sholat tarawih itu tidak dengan berjemaah. Karena rasululloh yang tadinya melakukan sholat tersebut pada akhirnya meninggalkannya sampai akhir hayat beliau.

Inilah yang disebut dalam kajian ilmu ushul fiqieh Nasih Mansuh, yaitu menghapus ketentuan yang lama dengan ketentuan hukum yang baru (kalau bahasa di Hukum UUD thogut, Amandement). Artinya Rasululloh yang tadinya sholat dengan bersama di mesjid, dihapus oleh ketentuan yang baru, yaitu Rosululloh tidak sholat berjamaah dan sholat di rumah. Dan ketentuan itu tidak beliau rubah hingga beliau wafat.

Jadi dari situlah kesimpulan saya tentang hadits ini, yang mana saya katakan bahwa hadits ini sebetulnya menyatakan bahwa rasululloh sholat tidak dengan berjemaah.
Lalu ada beberpa kalangan yang berpendapat, “Kan Rasululloh meninggalkannya karena takut di anggap wajib,” atau dengan kata lain mereka ingin mengatakan “Takut jadi diwajibkan oleh Alloh.”

Ini sebuah alasan yang terlalu mengada-ngada (menurut saya). Kenapa? Apa mungkin Alloh bisa dipermainkan dalam segi memberikan hukum? Hingga kita bisa atur supaya suatu hal itu tidak dijadikan wajib oleh Alloh. Inilah pendapat yang sangat patal, sebab sama saja menggapa Alloh bodoh dan tidak maha kuasa. Itu Mustahil bagi Alloh, sebab jika Alloh ingin mewajibkan suatu hal, pasti Alloh wajibkan, tanpa harus manusia melakukannya terlebih dahulu. Begitu pun sebaliknya jika Alloh tidak akan mewajibkan sesuatu, tidak harus menunggu manusia membiasakannya terlebih dahulu. Karena Alloh tidak butuh dan tidak mungkin bisa dintervensi oleh manusia.

Itulah yang sangat mendasari saya menolak alasan hadits ini dijadikan alasan untuk melakkan sholat tarawih dengan berjemaah. Tentunya setelah meninjaunya, seperti yang sahabat muslim saksikan tadi.

Lalu sejak kapan ada lagi tarawih berjemaah dimesjid?

Sekali lagi sampai Nabi wafat tidak pernah terjadi lagi. begitu pula pada masa kekhalifahan Abu Bakar As-Shidiq. Lalu kapan? Jawabannya pada masa Khalifah Umar Bin Khatab RA. Dan inilah yang menjadi dalil lagi bagi yang melaksanakan Tarawih berjemaah. Padahal keteranngannya pun sangat lemah, mari kita lihat dalilnya :

Dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”
(Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dengan keterangan di atas, maka kita bisa mengetahui kapan adanya tarawih berjemaah. Dan tidak lain jawabannya adalah pada masa Khalifah Umar Bin Khotob.
Dan sekarang mari kita cermati dan amati, apakah keterangan dalil di atas bisa kita jadikan alasan untuk tarawih berjemaahnya.
Mari kita mulai meninjau lagi :

Kita lihat Al-Quran untuk mencari keterangan menanggapi hadits ini, mari kita baca apa yang dikatakan Alloh :

“....Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu,” (QS. Al-Maidah :3).

Apa maksudnya saya memposting ayat ini? Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa Rosululloh tidak pernah melakukan Sholat Tarawih berjemaah lagi. Dan dengan turun ayat di atas pada saat haji wada, maka telah sempurna semua ajaran Islam. Baik yang berupa ibadah, hukum, ataupun yang bersiafat syariat. Maka ajaran yang sudah sempurna, tidak membutuhkan lagi penambahan dengan alasan apapun.
Jika masih ditambah dengan alasan itu kan baik, berarti beranggapan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad belum sesempurna yang diidamkan.

Lalu, dalam hadits di atas mesti banyak yang kita tinjau lagi. Seperti, perkataan Umar (nimatul bid’ah hadzihi), kenapa diartikan inilah sebaik-baiknya bi’dah? Padahal arti yang tepat secara mufrodat artinya INILAH NIKMATNYA BID’AH. Ya begitulah Bid’ah, selalu saja nikmat karena dianggap baik dan bagus.
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Meniti Jalur Dakwah

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم



Cerita dakwah adalah cerita indah . Jalannya penuh liku dan cabarannya menuntut pengorbanan. Tidak ada yang lebih indah dalam kehidupan seorang pendakwah apabila dengan izin ALLAH SWT orang yang didakwah berubah.

Kerja dakwah adalah kerja mulia . Tanpa dakwah ajakan tidak akan berlaku dan seruan tidak akan terjadi. Dakwah bukan sekadar menjentik minda tetapi perlu juga menjentik hati. Kalimah dakwah bukan sahaja berfikir tetapi membimbing manusia merasa kebenaran. Jalur dakwah adalah jalur terbaik membimbing manusia berubah.

Kerja dakwah adalah tugas kita, memberi hidayah adalah kerja ALLAH SWT. Apabila orang tdak berubah, mungkin cara kita tidak kena. Orang tidak harus dipersalahkan. Apa yang penting PUTUS ASA tidak ada dalam diri kita.

Selagi prinsip ini menjadi tunjang seorang Murabbi dan Da'ie, gerak kerja dakwah akan terus subur dan Islam akan terus bangkit membawa perubahan ~..(✿◠‿◠)

Mengenal Lebih Dekat Pribadi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

Kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

1. Allah Ta’ala berfirman:

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan mereka Al Kitab dan Al Hikmah dan sebelum itu, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran:164)

2. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Sesungguhnya saya ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa.” (QS. Al Kahfi:11)

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab: “Pada hari itulah aku dilahirkan, lalu diangkat menjadi Rasul dan diturunkan Al-Qur’an kepadaku.” (HR. Muslim)

4. Rasullauh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari Senin bulan Rabi’ul Awal di Makkah Al Mukarramah tahun Al Fiil (571 M), berasal dari kedua orang tua yang sudah ma’ruf. Bapaknya bernama Abdullah bin Abdul Muthallib dan ibunya bernama Aminah binti Wahb. Kakek beliau memberinya nama Muhammad. Bapak beliau meninggal dunia sebelum kelahirannya.

5. Sesungguhnya termasuk kewajiban seorang muslim adalah hendaknya dia mengetahui kedudukan Rasul yang mulia ini, berhukum dengan Al Qur’an yang diturunkan kepadanya, berakhlak dengan akhlaknya serta mengutamakan dakwah kepada Tauhid yang mana risalahnya dimulai dengannya sesuai firman Allah Ta’ala:

“Katakan: Sesungguhnya saya hanya menyembah Rabbku dan saya tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (QS. Al-Jin:20)



Nama dan Garis keturunan (Nasab) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

1. Allah Ta’ala berfirman:

“Muhammad adalah Rasulullah.” (QS. Al Fath:29)

2. Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Saya memiliki lima nama: Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, saya Al-Hasyir yang manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku, dan saya Al-’Aqib yang tidak ada Nabipun setelahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dan Allah menamakannya dengan “Raufur Rahim“

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenalkan dirinya kepada kita dengan beberapa nama: “Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al Muqaffy (Nabi terakhir) dan Al Hasyir, saya Nabi At Taubah, Nabi Ar Rahman.” (HR. Muslim )

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidaklah kamu heran bagaimana Allah memalingkan dari saya cacian orang-orang Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencaci dan melaknat saya (dengan sesutu) yang sangat tercela, dan saya adalah Muhammad.” (HR. Bukhari )

5. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Ismail Kinayah, dan dari Kinayah Allah memilih Quraisy, dari Quraisy Allah memilih bani Hasyim, dan dari bani Hasyim Allah memilih saya.” (HR. Muslim )

6. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

“Namailah diri kalian dengan nama-nama saya, tapi janganlah kalian berkuniah (mengambil gelar) dengan kuniah saya. Karena sesungguhnya saya adalah Qasim sebagai pembagi diantara kalian.” (HR. Muslim )



Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Seolah-Olah jika Kamu Melihatnya

1. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling bagus bentuk penciptaannya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. (Muttafaq ‘Alaih)

2. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkulit putih dan berwajah elok. (HR. Muslim)

3. Bahwasanya badan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dadanya bidang, jenggotnya lebat, rambutnya sampai ke daun telinga, saya (Shahabat-pent) pernah melihatnya berpakaian merah, dan saya tidak pernah melihat yang lebih indah dari padanya. (HR. Bukhari)

4. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepalanya besar, demikian juga kedua tangan dan kedua kakinya, serta tampan wajahnya. Saya (Shahabat-pent) belum pernah melihat orang yang seperti dia, baik sebelum maupun sesudahnya. (HR. Bukhari)

5. Bahwasanya wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bundar bagaikan Matahari dan Bulan. (HR. Muslim)

6. Bahwasanya apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam gembira, wajahnya menjadi bercahaya seolah-olah seperti belaian Bulan, dan kami semua mengetahui yang demikian itu. (Muttafaq ‘Alaih)

7. Bahwasanya tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa kecuali dengan senyum, dan apabila kamu memandangnya maka kamu akan menyangka bahwa beliau memakai celak pada kedua matanya, padahal beliau tidak memakai celak. (Hadits Hasan, Riwayat At Tirmidzi)

8. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidak pernah saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. Bukhari)

9. Dari Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada bulan purnama. Saya memandang beliau sambil memandang bulan. Beliau mengenakan pakaian merah. Maka menurut saya beliau lebih indah daripada bulan.” (Dikeluarkan At Tirmidzi, dia berkata Hadits Hasan Gharib. Dan dishahihkan oleh Al Hakim serta disetujui oleh Adz-Dzahabi)

10. Dan betapa indahnya ucapan seorang penyair yang mensifati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sya’irnya:

“Si Putih diminta memohon hujan dari awan dengan wajahnya. Si Pemberi makan anak-anak yatim dan pelindung para janda.”

Sya’ir ini berasal dari kalamnya Abu Thalib yang disenandungkan oleh Ibnu Umar dan yang lain. Ketika itu kemarau melanda kaum muslimin, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon hujan untuk mereka dengan berdo’a: Allahummasqinaa (Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami), maka turunlah hujan. (HR. Bukhari)

Adapun makna dan sya’ir tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disifati dengan Si Putih diminta untuk menghadapkan wajahnya yang mulia kepada Allah dan berdo’a supaya diturunkan hujan kepada mereka. Hal itu terjadi ketika beliau masih hidup, adapun setelah kematian beliau maka Khalifah Umar bin Al Khathab bertawasul dengan Al Abbas agar dia berdo’a meminta hujan dan mereka tidak bertawasul dengan beliau.

Dikutip dari http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=187, Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Judul: Mengenal Lebih Dekat Pribadi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam

Jangan Ghibah Jaga Lidah

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
(Al-Hujurat: 12)

“dan katakanlah kepada hamba-hambaku! Hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang terbaik…” (Al-Isra: 53)

Rasulullah bersabda “tutur kata yang baik adalah sedekah”
(HR. Bukhari-Muslim).

Allah telah menjanjikan syurga bagi hambanya yang selalu berusaha berkata baik sebagaimana sabda Rasulullah Saw, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda “di dalam syurga terdapat sebuah kamar yang terlihat bahagian luarnya dari dalam dan bahagian dalamnya dari luar” seorang sahabat bernama Abu Malik al-Asy’ari bertanya! untuk siapakah kamar itu wahai Rasulullah? Rasulullah Saw menjawab, “kamar itu disediakan bagi orang yang bertutur kata baik, orang yang memberi makan orang lain, dan untuk orang yang sholat malam saat manusia sedang tertidur” (HR.Thabrani dan al-Hakim),
“amalan yang dapat memasukkan seorang ke dalam surga adalah: memberi makan orang lain, menyebarkan salam, dan bertutur kata yang baik” (HR.Thabrani).

Dalam riwayat yang lain diceritakan pula oleh al-Bazzar dari Anas, dia berkata bahwa seseorang pernah berkata kepada Rasulullah Saw, ajarilah aku suatu amalan yang dapat membuatku masuk surga!, Rasulullah bersabda “berilah makan, sebarkanlah salam, perindahlah ucapan, dan shalatlah di malam hari saat manusia sedang tertidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat” (Hadis Shahih)

Dengan harta kita bisa bersedekah dan berempati, dengan salam kita dapat menebarkan keselamatan, dan dengan kata yang indah dan baik kita dapat menebarkan kedamaian dan ketenangan. Bukankah Rasulullah Saw, pernah bersabda, “…takutlah kalian kepada neraka walaupun dengan sepotong kurma, dan barang siapa yang tidak mampu menginfakkan sepotong kurma, maka hendaknya bertutur kata yang baik” (HR.Bukhari-Muslim)

Sebuah Kisah Untuk Renungan

Dia adalah penarik beca selama 20 tahun yang telah menderma sebanyak RM150,000 untuk membantu 300 pelajar yang amat miskin.

Pada satu musim salji, beliau telah memberi RM250 terakhirnya untuk cikgu2 pelajar tersebut dan berkata, "Ini adalah derma terakhir saya kerana saya sudah tua dan tidak dapat bekerja lagi". Beliau meninggal dunia pada umur 93. Namanya Bai Fan Li

Anda tidak perlu menjadi kaya sebelum anda menolong orang yang susah.

P/S : Bagaimana dengan kita sebagai umat Islam yang tahu besarnya pahala sedekah? Bagaimana dengan kita di bulan Ramadhan yang boleh memperoleh pahala yang berlipat ganda ?

~ 2 Ramadhan 1433H ~

Al Quran Obat Segala Penyakit

Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:

“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat- ayat tersebut tidaklah menambah baginya kecuali kerugian. Karena, hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

نُنَزِّلُ

“Kami turunkan.” Jumhur ahli qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (نُنْزِلُ). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (يُنْزِلُ). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. (Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253)

مِنَ الْقُرْآنِ

“dari Al-Qur`an.” Kata min (مِنْ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu. Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (An-Nur: 55)

Kata min dalam lafadz مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang- orang yang beriman dan beramal shalih. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan At-Thibb An-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138)

شِفَاءٌ

“Penyembuh.” Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.

Penjelasan Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur`an, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur`an- lah yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.

Adapun orang kafir yang mendzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Al-Qur`an tidaklah bertambah baginya melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيْدٍ

“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” (Fushshilat: 44)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 124-125)

Dan masih banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/60)

Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:

“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat- ayat tersebut tidaklah menambah baginya kecuali kerugian. Karena, hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.

Penyembuhan yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Al-Qur`an) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasehat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu, Al-Qur`an juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.

Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 465)

Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani

Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani?

Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy- Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” (Fathul Qadir, 3/253)

Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Zadul Ma’ad:

“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)

Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Al-Qur`an.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena sihir1, sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istrinya padahal tidak mendatanginya.

Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’

Dijawab: ‘Terkena sihir.’

Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’

Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi, ia seorang munafiq.’

(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’

Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’

(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’

Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”

‘Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab At-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama Al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab Al-Adab, bab Innallaha Ya`muru Bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063). Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), Al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan Al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272). Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah Subhanahu wa Ta’ala):

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Hingga selesai bacaan surah tersebut.”

Demikian pula yang diriwayatkan Al-Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Sekelompok2 shahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.

Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’

Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’

Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing3. Maka dia (salah seorang shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.

Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’

Merekapun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melaporkan hal tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.”

Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدَّوَاءِ الْقُرْآنُ

“Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.”

Dan hadits:

الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ

“Al-Qur`an adalah obat.”

Keduanya adalah hadits yang dha’if, telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.

Membuka Klinik Ruqyah

Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah:

“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan tabi’in.

(Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf dan bimbingan As-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama.

Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. (Ar-Ruqa Wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh, hal. 20-21)

1 Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan orientalis dan ahli bid’ah mengingkari hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah –walhamdulillah- para penolak hadits ini dalam sebuah kitab yang berjudul Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar- Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadits. Silahkan merujuk kepada kitab tersebut.

2 Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.

3 Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka.

Dikuti dari http://www.asysyariah.com/, Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

~ 2 Ramadhan 1433 H ~
     

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | AUFA