http://go.onclasrv.com/afu.php?zoneid=1323360

Tuesday, July 31, 2012

Kesilapan Kerap Muslim Dalam Bulan Ramadhan

Kemampuan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala Ramadhan kerap kali tergugat akibat kekurangan ilmu dan kekurangan perihatinan umat Islam kini. Antaranya adalah :-

1) Makan dan minum dengan bebas setelah batal puasa dengan sengaja (bukan kerana uzur yang diterima Islam). Perlu diketahui bahawa sesiapa yang batal puasanya dengan sengaja tanpa uzur seperti mengeluarkan mani secara sengaja, merokok, makan & minum. Ia dilarang untuk makan & minum lagi @ melakukan apa jua perkara yang membatalkan puasa yang lain sepanjang hari itu. (Fiqh as-Siyam, Al-Qaradawi, hlm 112).

Ia dikira denda yang pertama baginya selain kewajiban menggantikannya kemudiannya. Keadaan ini disebut di dalam sebuah hadith, Ertinya : "sesungguhnya sesiapa yang telah makan (batal puasa) hendaklah ia berpuasa baki waktu harinya itu" (Riwayat al-Bukhari)

2) Makan sahur di waktu tengah malam kerana malas bangun di akhir malam. Jelasnya, individu yang melakukan amalan ini terhalang dari mendapat keberkatan & kelebihan yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW malah bercanggah dengan sunnah baginda. "Sahur" itu sendiri dari sudut bahasanya adalah waktu terakhir di hujung malam. Para Ulama pula menyebut waktunya adalah 1/6 terakhir malam. (Awnul Ma'bud, 6/469). Imam Ibn Hajar menegaskan melewatkan sahur adalah lebih mampu mencapai objektif yang diletakkan oleh Rasulullah SAW. (Fath al-Bari, 4/138)

3) Bersahur dengan hanya makan & minum sahaja tanpa ibadah lain. Ini satu lagi kesilapan umat Islam kini, waktu tersebut pada hakikatnya adalah antara waktu terbaik untuk beristigfar dan menunaikan solat malam.

Firman Allah ketika memuji orang mukmin ertinya : " dan ketika waktu-waktu bersahur itu mereka meminta ampun dan beristighfar" (Surah Az-Zariyyat : Ayat 18)

"Ditanya kepada Nabi (oleh seorang sahabat) : Wahai Rasulullah :" Waktu bilakah doa paling didengari (oleh ALLAH SWT) ; jawab Rasulullah SAW : Pada hujung malam (waktu sahur) dan selepas solat fardhu" ( Riwayat At-Tirmidzi, no 3494 , Tirmidzi & Al-Qaradhawi : Hadis Hasan ; Lihat Al-Muntaqa , 1/477)

4) Tidak menunaikan solat ketika berpuasa. Ia adalah satu kesilapan yang maha besar. Memang benar, solat bukanlah syarat sah puasa. Tetapi ia adalah rukun Islam yang menjadi tonggak kepada keislaman sesorang. Justeru, ‘ponteng' solat dengan sengaja akan menyebabkan pahala puasa seseorang itu menjadi ‘kurus kering' pastinya.

5) Tidak mengutamakan solat Subuh berjemaah sebagaimana Terawih. Ini jelas suatu kelompongan yang ada dalam masyarakat tatakala berpuasa. Ramai yang lupa & tidak mengetahui kelebihan besar semua solat fardhu berbanding solat sunat, terutamanya solat subuh berjemaah yang disebutkan oleh Rasulullah SAW bagi orang yang mendirikannya secara berjemaah, maka beroleh pahala menghidupkan seluruh malam.

6) Menunaikan solat terawih di masjid dengan niat inginkan meriah. Malanglah mereka kerana setiap amalan di kira dengan niat, jika niat utama seseorang itu ( samada lelaki atau wanita) hadir ke masjid adalah untuk meriah dan bukannya atas dasar keimanan dan mengharap ganjaran redha ALLAH sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadith riwayat al-Bukhari. Maka, "Sesungguhnya sesuatu amalan itu dikira dengan niat". (Riwayat al-Bukhari)

7) Bermalasan dan tidak produktif dalam kerja-kerja di siang hari dengan alasan berpuasa. Sedangkan, kerja yang kita lakukan di pejabat dengan niat ibadat pastinya menambahkan lagi pahala. Justeru, umat Islam sewajarnya memperaktifkan produktiviti mereka dan bukan mengurangkannya di Ramadhan ini.

via: USTAZ ZAHARUDIN ABDUL RAHMAN

~ 5 Ramadhan 1433H ~

•.•´¯`•.•• ♥ Amalan" Ketika Berbuka Puasa ♥ ••.•´¯`•.••

.✽✽.السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته.✽✽.


Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do'a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:

Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.

Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkann

ya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi'iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.

Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah 'bismillah' agar tambah barokah.

Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ


"Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta'ala (yaitu membaca 'bismillah'). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”." (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,


يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ



»
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda: "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama'ah (bersama-sama).

Keempat: Berdo'a ketika berbuka "Dzahabazh zhoma-u ..."

Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: 'Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)'." (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do'a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do'a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca 'bismillah' sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca 'bismillah', lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do'a di atas 'dzahabazh zhoma-u ...'. Karena do'a di atas sebagaimana makna tekstual dari "إِذَا أَفْطَرَ ", berarti ketika setelah berbuka.


Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.


Kelima: Berdo'a secara umum ketika berbuka.

Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do'a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo'a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

Keenam: Memberi makan berbuka.

Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.

Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia. Dari 'Abdullah bin 'Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do'akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya." (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]" (HR. Muslim no. 2055)

Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,


أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ


"Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath'imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu." (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)


Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca 'bismillah'.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

Kesebelas: Berdoa sesudah makan.

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah”setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah)sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah”saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.

Share Dokumen grup:
https://www.facebook.com/#!/groups/436028619754729/doc/463774533646804

ISTERI YANG PALING MAHAL

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

"Isteri yang mahal dari pandangan Islam ialah
isteri yang tidak meletakkan darjat &
kemuliaannya kepada wang,
tetapi kepada iman, kasih, jiwa dan
hatinya. Kalau diletakkan nilainya
kepada wang, wang akan hilang.
Kalau diletakkan kepada iman,
kasih serta hatinya, ia akan berkekalan
sehingga hari kiamat dan seterusnya
membawanya ke syurga"

~ 5 Ramadhan 1433H ~

Sunnah Sahur

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Firman Allah ta’ala:
Dan makan minumlah kalian hingga telah jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.” (Al-Baqarah: 187)

HadistAnasbinMalik-radhiallahu’anhu-beliau berkata,bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,Makan sahurlah kalian karena pada sahur terdapat berkah.”(HR. al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no.770)

Hadist’Amrubinal-’Ash-radhiallahu’anhu-beliau mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.(HR. Muslim no. 770-771, Abu Dawud no. 2343, at-Tirmidzi no. 708, an-Nasa`i no. 2165, Ahmad 4/197 dan 202 dan ad-Darimi no. 1697)

HadistAbu Sa’idal-Khudri-radhiallahu’anhu-dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahur adalah berkah, makan janganlah kalian meninggalkannya walaupun salah seorang diantara kalian hanya dengan meneguk satu tegukan air. Karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya mendoakan orang-orang yang makan sahur.(HR. Ahmad 3/12 dan 44)

Hadist Abdullah bin Abbas, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mintalah bantuan dengan makan sahur dalam pengerjaan puasa siang hari dan dengan tidur siang dalam pengerjaan shalat malam.(HR. Ibnu Majah no. 1695 dan al-Hakim 1/425)

Hadistal-’Irbadh bin Sariyah beliauberkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundangku untuk makan sahur pada bulan Ramadhan,sembari mengatakan, “Marilah menikmati makan pagi yang ber-berkah.(HR. Abu Dawud no.2344, an-Nasa`i no.2162, Ahmad4/129, al-Baihaqi 4/236 dan Ibnu Khuzaimah no. 1938)

Dan beberapa ulama telah mengutip adanya kesepakatan/ijma’ akan sunnahnya sahur bagi orang-orang yang hendak mengerjakan puasa, selama tidak dikhawatirkan masuknya waktu fajar.

Senyum santun santap sahur dan selamat menjalankan Puasa yang insyaAlloh sudah hari ke enam.....
semuga amal ibadah puasa saudara fillah di terima Alloh Subhanahu Wata'ala...aamiiin

~ 6 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

BURUNG PATAH SAYAP (sebuah catatan dakwah seorang ukhti) Berikut

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

catatan perjalanan dakwah seorang muslimah

Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak
pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi
dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun
sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah
kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili
motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti
bergerak, karena diam dapat mematikan.

“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu
terbatas?
Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan
terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?”
Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “
Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku.
Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah
menikahi akhwat yang lebih muda.

Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I
know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya.

Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat
sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru
setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-
dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola
pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran.
Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah
pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh
tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak
generasi baru jundullah. That’s the point!!

Namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis
yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari
pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner
dakwahku…

Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah
Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena
akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang
meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin
patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah
karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada
saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan
tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka
proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis
dari pernikahan para aktivis.

Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang
nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin
berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak
langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam
kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi
kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi
amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar
mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.

Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai
akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi.
Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina,
kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak
terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan?
Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya,
menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya.
Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang,
jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus
terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya
terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun
mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa
masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu
sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini?

Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para
jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita
IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).

Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal
yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem
yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan
tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat.
Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih
utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis
dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya
umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja.

Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua
kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak
ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia
kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada
tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan
pertemuan dengan-Nya.

Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia
perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk
dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan
gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak
dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan.
Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau
mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot
dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari
apa sih?).

Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat.
Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam
kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya
sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat
kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh
kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat
berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian
dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak).
Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita,
tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah
kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa
membuktikannya alias konsulen teoritis saja).

Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah
genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana
dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun
sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan
yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama
bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini
harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua
adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i
sebelum yang lainnya ).

Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para
akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan.
Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap
jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena
Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja.
Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak
mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir
zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak
karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah
mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah
sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga
kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya,
meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.

Semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat,
dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid
manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka
bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang
harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan
pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan
yang saling menyemangati antar para umahat untuk
mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu
rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.
Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia
tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah
dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan
fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa,
sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang
tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi
mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua
orang yang dicintanya….

Demi izzah Islam.
Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat
bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah
ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena
seringkali ialah musuh terbesar kita.

“ Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu
dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-
orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).

Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping
mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga
kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya.
Wallahualam bishawab.

Share:https://m.facebook.com/groups/436028619754729?view=permalink&id=466526493371608

~ 6 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Dari ‘Belenggu Salib’ Menuju ‘Keteduhan Islam

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Kisah berikut adalah kisah seorang mu’alaf dari kota Malang mantan Pendeta Militan pelaku Pemurtadan yang banyak mengandung pelajaran berharga dan bahan renungan bagi kita bersama, berikut ini penuturannya.

Saya dilahirkan 14-Juli 1943 di kota Malang Jawa Timur, hari Minggu pukul 09.00 WIB saat lagu kidung suci dikumandangkan di Gereja. Ayah saya seorang militer AD yang ditokohkan dan disegani oleh warga Kristiani (Protestan). Hidup dalam kedisiplinan yang tinggi adalah ciri keluarga kami. Sebagai seorang anggota militer, ayah saya telah menerapkan kedisiplinan yang tinggi dalam kehidupan kami dan sebagai seorang Kristiani yang ditokohkan, maka ayah saya termasuk yang sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Saya masih ingat betapa hebatnya orang tua menanamkan kebencian-kebencian dalam hati saya terhadap Islam. Menurut penuturan ibu, hal itu bermula dari tingkah laku oknum-oknum orang Islam yang banyak membikin sakit hati ayah. Itulah sebabnya saya dilarang bergaul dengan mereka dan selalu diawasi dengan ketat.

Dari ‘Belenggu Salib’ Menuju ‘Keteduhan Islam
Pada usia tiga bulan saya di babtis di gereja GPI Malang dengan nama Jonathan Arnold. Tiga tahun kemudian saya mulai sekolah di sekolah Minggu (Zondaag School) di gereja, sampai kemudian melanjutkan ke SMP dan SLTA Kristen.


1. Menjadi Pengkabar Injil

Kelebihan-kelebihan saya dalam sastra, kelancaran lidah saya dalam menyampaikan nas-nas suci BIBLE, ditunjang dengan keberanian dan penamplan saya yang meyakinkan, maka beberapa sesepuh Gereja menyatakan bahwa saya cocok sekali untuk menjadi pengkabar Injil. Inilah alasan ayah saya mengirim saya ke sekolah Theologia di kota Batu-Malang. Nilai akhir yang gemilang dan suksesnya theater yang saya tangani, para pendeta dan tokoh gereja mendesak orang tua saya agar mau mengirimkan saya ke Universitas Leiden-Belanda.

Perjalanan ke negeri Kincir Angin saya lewati dengan mulus, saya memilih jurusan Pekabaran Injil dan filosofia, prinsip mata kuliahnya tidak jauh berbeda dengan yang saya terima di STI Batu-Malang.

Setelah lulus dari Belanda, saya diangkat menjadi pendeta di kabupaten Lumajang pada akhir tahun 1967, saya langsung membentuk misi pekabaran yang sering dikenal dengan istilah kristenisasi, apa yang saya lakukan ini bukanlah hal yang baru. Hal ini telah dilakukan sejak zaman Belanda.

2. Perjalanan hidupku sebagai penginjil

Saya susun personil-personil yang cukup terlatih, terampil dan mau bekerja untuk Tuhan, ramah tamah, murah senyum dan tak kalah pentingnya bekal yang harus dimiliki anggota misi adalah sabar dan tahan pukul. Karena tugas meraka memang sangat berat. Mereka harus berani menyampaikan berita dari Allah dengan ‘door to door system’, Semua harus dilaksanakan dengan iklash, bersih hati dan senang. Karena Tuhan Yesus ( padahal Yudas-lah yang memanggul salib) telah rela memanggul salib sengsaranya yang cukup jauh. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk berberat hati.

3. Mencari kelemahan orang Islam
Sebelum operasi benar-benar mulai, saya tebarkan anggota misi untuk meneliti dari dekat kehidupan orang-orang muslim. Ternyata ada 3 kelemahan :

Pertama, Banyak orang Islam yang ikut-ikutan, Islamnya hanya Islam KTP dan tidak paham tentang Islam.
Kedua, seringkali terjadi perpecahan antar umat Islam.
Ketiga, banyak umat Islam yang serakah, tamak, bakhil tidak mau menolong fakir miskin dan yatim piatu. Dengan tiga faktor ini saya mulai misi, darah militer orang tua rupanya mengalir dalam tubuh saya, seperti seorang jendral mengatur pasukan tempur, saya sebar anggota saya ke daerah-daerah terpencil, berpendidikan rendah dan berekonomi rendah.

4. Strategi memurtadkan orang Islam

Saya menyebut misi ini dengan sebutan ‘Operasi Simpati’, yaitu agar memperoleh simpati orang-orang Islam dengan jalan menolong fakir miskin. Dana yang kami peroleh cukup besar, karena di samping bersumber dari jemaat sendiri juga dari luar negeri seperti : Belanda, Amerika dan Australia. Saya juga berpesan kepada anggota misi agar segala sesuatunya tidak berkesan menarik orang masuk Kristen. Yang kesulitan biaya untuk sekolah di beri bea siswa, yang sakit diberi obat-obatan, yang susah dihibur, yang lapar diberi makan, yang lemah ekonomi diberi modal, bahkan yang keluarganya matipun ditolong dalam biaya dan pelaksanaan pemakaman, maka operasi simpati ini tampak dari luar sebagai operasi kemanusiaan, sehingga orang Islam banyak yang tertarik masuk Kristen tanpa dipaksa.

Hasilnya sangat mengagumkan, dalam waktu singkat dapat memurtadkan hampir 1000 orang. Namun saya belum puas dengan hasil ini, saya meragukan kemurtadan mereka, apakah karena ekonomi atau benar-benar iklash masuk Kristen. Maka saya bikin formula baru yaitu saya kembangkan pergaulan bebas muda-mudi ala barat, saya kenalkan valentine day, pakaian dan kesenian barat, kebudayaan hingga olahraga dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mencuri waktu sholat hingga banyak anak-anak tidak sholat dan mengaji, padahal, hal tersebut sebelumnya telah menjadi budaya umat Islam.

5. Usaha saya melemahkan pondok pesantren
Penyusunan sistem, metode, personil untuk pelayanan pekerjaan Tuhan juga telah saya persiapkan sangat matang, bahkan gerejapun sudah saya dirikan lengkap dengan sekedul kegiatannya. Dalam perjalan-an pengkabaran Injil ke daerah Jember saya rencanakan hendak melemahkan pondok-pondok pesantren, terutama pondok pesantren Kyai Haji Ahmad Shiddiq”. Di sinilah saya bertemu dengan gadis berkerudung putih, pertemuan yang kemudian membuahkan pernikahan antara pendeta dan gadis muslimah. Saya dapat menikahinya karena berpura-pura telah masuk Islam dengan surat palsu yang saya bikin di penghulu Jatiroto.

Rumah tangga berjalan aman hanya beberapa hari saja. Sebab masing-masing punya akidah yang tidak bisa dipertemukan, kebencian saya terhadap Islam makin lama semakin tidak bisa ditutup-tutupi, terjadilah pertengkaran demi pertengkaran dan setiap kali saya marah, istri saya tidak pernah melawan, yang dilakukannya yaitu langsung shalat dan baca Al-Qur’an. Dari sinilah timbul keinginan saya yang makin lama makin keras untuk mengetahui kandungan Al-Qur’an, maka saya pinjam AL-Qur’an yang ada terjemahannya terbitan dari DEPAG.

5. Hatiku mulai mendapat petunjuk

Terus terang saya belum pernah membaca Al-Qur’an, kalau membuang hampir tiap hari, pada suatu malam terjadilah sesuatu yang aneh, saat semua orang tidur nyenyak, sepi dan hening, Al-Qur’an saya buka dan seluruh tubuh saya seolah gemetar semua, ketika saya buka persis pada halaman yang ditandai benang pembatas yaitu surat Ar-Rahman, saya terpana dengan keindahan bahasa Al-Qur’an yang di ulang-ulang walau kalimatnya sederhana ‘Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan”.

Lembar demi lembar saya buka, dan sampailah pada ‘surat Maryam’, Maryam ibunya Yesus dikisah-kan dalam Al-Qur’an lebih terhormat, suci, luhur dan mulya dari pada kisah Maryam dalam Alkitab.

Begitu juga dengan sifat Tuhan dalam Al-Qur’an, Tuhan itu Esa adanya, ini berarti tidak boleh ada alternatif lain selain Allah SWT. Berbeda dengan Alkitab yang menyatakan Tuhan itu tiga yang amat tidak logis, apalagi doktrin Tuhan trinitas tersebut baru ada 325 tahun setelah Yesus diangkat kelangit. Al-Qur’an mengisahkan Allah itu kekal, yang membedakan antara mahluk dengan Tuhan, tetapi dalam Alkitab dikisahkan Tuhan telah mati di salib dan Tuhan dikisahkan kalah berkelahi dengan Ya’kub. Masih banyak hal-hal logis yang tidak saya jumpai dalam Alkitab yang membuat imanku mulai goyang.

Hari masih pagi ketika itu, langit tampak cerah dan matahari begitu hangatnya, semalaman saya tidak dapat tidur dengan pikiran yang kalut. Kemarin saya bertengkar dengan istriku, seperti biasa karena keyakinan yang berbeda. Pagi itu istriku minta dipulangkan ke rumah orang tuanya, karena tidak kuat menahan perasaan karena suami selalu memojokkan bahkan menghina keyakinan.

“Maaf mas, saya mau nikah sama mas karena kehendak orang tua. Di Islam hukumnya anak harus nurut sama orang tua. Saya sudah taat, tetapi rupanya saya mau di-Kristenkan, maaf mas, bagi saya lebih baik kehilangan Mas dari pada harus kehilangan Iman-Islam, Besok setelah sholat subuh antarkan saya kembali ke orang tua.”

Besok harinya, tiba-tiba istri saya sudah siap untuk minta dipulangkan ke orang tuanya. “Kamu harus tetap tinggal di rumah ini bersama saya” kata-kataku memulai dan dia menatapku dengan tajam. “sampai perasaanku hancur…sampai imanku hancur..??” tanyanya. “..Tidak..!!, aku tidak akan berbuat sekasar itu lagi terhadapmu, aku berjanji didepan Tuhan, kau bebas dengan agamamu, bahkan kau bebas membaca kitab sucimu. Tadi malam kitab itu telah aku baca, isinya luar biasa dan benar mutlak. Tapi maaf…aku masih belum yakin, bahwa Islam agama yang benar, aku akan menyelidiki” jawabku menjelaskan pada istriku. “Kalau Islam yang benar mas ?” tanya istriku. “Kalau Islam yang benar maka aku akan masuk Islam, tetapi kalau ternyata Islam yang salah atau keliru, maka kamu haarus masuk gereja” jawab saya menantang.

7. Iman saya mulai goyang dan tertarik dengan agama Islam
Saya mulai membeli buku-buku Islam, minta bantuan ke kedutaan-kedutaan Islam, bagian penerangan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Saya datang ke pondok-pondok pesntren mulai dari Banyuwangi sampai ke Kediri. Tidak ada waktu yang berlalu kecuali saya isi dengan belajar perbandingan agama, saya bertekad mencari kebenaran. Saya tidak ingin membohongi hati nurani.

Banyak sekali kebenaran hakiki yang saya jumpai dalam Al-Qur’an, semakin lama semakin nampak kejanggalan-kejanggalan dalam Alkitab, dalam Alkitab banyak sekali pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, banyak juga berkisah tentang pornografi dan mensifati Tuhan dengan sifat yang mustahil, belum lagi Alkitab tidak ditulis dalam bahasa Yesus. Kejanggalan-kejanggalan ini membuat saya semakin bernafsu mencari sampai dimana kekeliruan-kekeliruan Alkitab.

8. Aku resmi keluar dari Gereja Protestan

Pada suatu malam saya bermimpi melihat menara gereja saya yang dikerubuti burung-burung. Langit mendadak terbuka, Para malaikat dan bidadari turun, dan seorang bidadari cantik menyanyikan lagu yang amat merdu, sampai saya terjaga dari tidur, dan masih kedengaran suara bidadari itu. Setelah saya amati, ternyata suara itu adalah suara istri saya yang sedang membaca Al Qur’an. Sejenak kemudian istri saya membangunkan saya ”Mas… katanya ingin ketemu Tuhan, mari silakan”. Malam itu saya bangun, di luar hujan deras diselingi petir menyambar-nyambar. Saya bangun dan cuci muka lalu duduk di atas sajadah yang biasa digunakan istri saya sholat. Saya memang sering bangun tengah malam. Kalau istri saya sholat, saya cuma berdoa saja. Sementara hujan belum reda saya khusu’ berdoa sampai tidak terasa air mata saya berlinang, saya memohon kepada Tuhan, ”..Ya Tuhan tolonglah saya, berilah petunjuk kepada saya, kalau memang benar Yesus itu Tuhan, tetapkan hati saya, akan tetapi kalau bukan, tolong beri saya petunjuk kepada siapa saya harus menyembah”. Tiba-tiba badan saya menggigil, keringat dingin mengucur amat derasnya, kembali terngiang suara kiai-kiai, ulama-ulama, yang pernah berdialog dengan saya bahkan suara dari buku-buku Islam yang saya pelajari, seolah semua berkata ”Islam adalah agama yang benar”.

Lalu secepatnya saya menulis surat kepada Dewan Gereja Jatirto-Lumajang dengan tembusan ke Jakarta, saya menyatakan keluar dari gereja protestan, dan ketika membaca surat saya, istri saya terkejut dan berkata, “Terlalu cepat pernyataan ini, sudahkah Mas pikirkan benar?”. Saya jawab, ”Bagiku bahkan terlalu lamban, sekian lamanya aku terombangambing antara kebenaran dan ketidak benaran, aku sudah tak sanggup lagi membohongi diri sendiri”. “Sudah mantap benar Mas?”, tanya istri saya, ”Yah, aku mantap bahwa Islam adalah agama yang benar!”. Jawab saya, ”Kalau begitu mari saya bimbing membaca syahadat”. Lalu istri saya berwudhu dan sholat dua rakaat. Sementara itu saya melihat lonceng di dinding menunjuk pukul 02.10 WIB dini hari. Usai ia sholat, tangan saya dijabat, katanya, “Mari saya bimbing masuk Islam, disaksikan oleh Allah, seluruh malaikat, Nabi dan Rasul, termasuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, coba tirukan: Asyhadu Alla Ilahaillallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”. Istri saya tak kuat menahan air matanya jatuh bercucuran. Dan sejak itu tersiarlah berita dari mulut ke mulut, ”..Jonathan masuk Islam..!”. Majalah dan surat-kabar juga turut meramaikan. Ayahpun akhirnya mengetahui kalau saya masuk Islam dan memanggil saya pulang, ayah menyodorkan majalah ke hadapan saya dan saya menganggukkan berita tentang saya. Ayah marah sekali dan wajahnya nampak merah padam.

Ayah saya marah sekali, “Terlalu gila kamu..Biaya ayah habis banyak karena kamu. Ini berarti kamu telah mengkhianati cita-cita orang tua. Sekarang aku perintahkan kamu pulang kembali ke Malang dan kembali ke Gereja!”. Saya hanya dapat menundukkan kepala dan ti-dak berani menatap wajah ayah yang merah padam itu. Saya jawab, ”Tidak ayah, saya sudah menyatakan masuk Islam dan saya sudah berjanji mati bersama Islam”. Ayah saya semakin berang dan tiba-tiba menggedor meja, “Terlalu gila..jadi kau sudah benar-benar hendak meninggalkan gereja?”. Saya hanya bisa menganggukkan kepala, langsung ayah saya menyahut tidak senang, ”Baiklah kalau kamu sudah tidak bisa diatur lagi, kamu tidak usah mengaku orang tua di sini, keluar! Dan jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!”.

9. Saya diusir dan kerja di pabrik gula
Sejak itu saya diusir dan sayapun meninggalkan rumah . Di Jatiroto, saya ajak istri saya untuk segera meninggalkan rumah dinas Gereja. Tidak ada yang saya bawa dari rumah itu, sebab saya memang merasa semua kekayaan di rumah itu milik gereja. Selanjutnya, saya ditolong oleh orang-orang Islam, ditempatkan di rumah dinas PG. Jatiroto yang kebetulan tidak ada yang menempati.

Alhamdulillah, berkat perjuangan tokoh-tokoh Islam akhirnya saya masuk dan menjadi karyawan PG.Jatiroto. Saya mulai belajar sholat dan membaca Al-Qur’an, dibawah tuntunan istri saya sendiri.

Satu ketika, disaat lagi asyik-asyiknya belajar sholat, datanglah adik saya yang anggota marinir dua jip lengkap dengan anggota-anggotanya. Agaknya keluarga saya di Malang tetap akan memaksa saya kembali ke Malang dan kembali mengelola gereja. Saat itu dengan tegas saya jawab,”Maaf, saya sudah memilih Islam dan berjanji mati dengan Islam!”. Agaknya sudah diatur sebelumnya, begitu mendengar jawaban saya, ia langsung membuka sabuk kopelreim dan dipukul-pukulkan di kepala saya dan saya terjatuh ke lantai dengan berlumuran darah. Saya baru sadar kembali setelah di RS Jatiroto.

Kala itu, ulama-ulama dan tokoh-tokoh agama Islam sama berdatangan menjenguk saya di RS. Jatiroto. Setelah peristiwa itu, beberapa ulama dan kyai mulai menampilkan saya di masjid-masjid untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran ajaran Islam. Atas bimbingan dan dorongan dari mereka itulah saya akhirnya lebih giat lagi mempelajari, memperdalam Al-Qur’an dan Hadits.

Saya mulai dikenal masyarakat Islam secara luas, waktu-waktu saya terisi dengan acara-acara pengajian, dari kampung ke kampung, dari pesantren ke pesantren, dari kota ke kota, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatera Selatan, Kalimantan dan Alhamdulillah sampai ke Malaysia.

Bapak M. Nasir dengan Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) nya mendengar cerita tentang saya dan pada tanggal 29 Agustus sampai dengan 8-9-1991 saya mendapat kehormatan diundang pada kesempatan Silaaturrahmi Jamaah Muhtadien di Cisalopa, Bogor Jawa Barat, dimana pada kesempatan itu dihadiri pula oleh para Pengurus Rabithah Al Alam Islamy dari Saudi Arabia.

10. Bergabung ke jamaah Muhtadien
Forum silaturrahmi Jamaah Muhtadien ini adalah suatu acara yang diselenggarakan oleh orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT yang kemudian masuk Islam, mereka terdiri dari bekas orang-orang Kristen, Pendeta maupun Pastur.

Sejak itu, setiap kali diundang pengajian, saya selalu dipanggil dengan “Haji Muhammad Abdillah” sebenarnya saya merasa sangat malu, karena saya belumlah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Pada suatu malam, sepulang dari acara pengajian, sebelum berangkat tidur saya menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat tahajjud. Pada saat sholat itulah, sengaja saya menangis dihadapan Allah SWT, saya bermunajat, memohon kemurahan Allah SWT agar saya dapat menunaikan ibadah haji.

Setelah sekian puluh kali hal ini saya lakukan, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim mendengar munajat saya dan Alhamdulillah pada musim haji tahun 1992, di suatu pagi sekitar tiga hari setelah hari raya Idul Fitri, datang kepada saya sepucuk surat undangan dari Raja Fadh Arab Saudi yang isinya mengundang saya untuk menunaikan ibadah haji.

Allah sungguh Maha Besar, saya seolah dalam mimpi ketika tiba-tiba saya sudah bersujud di Masjidil Haram persis di muka Ka’bah. Kala itu air mata saya tak terbendung lagi, mengalir deras membasahi pipi dan seolah-olah menjeritkan suara hati saya, ”.. Yaa Allah, pada akhirnya telah sampailah perjalanan saya yang sangat meletihkan dari Yerusalem ke Tanah Suci Mekkah, ampuni dan terima taubat hambamu ini dan jadikan hambamu ini termasuk golongan haji yang mabrur…amien Ya Robbal Alamin..”. (al-islahonline)

source: www.swaramuslim.net

~ 6 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

{4 Perkara Dalam 4 Keadaan}

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

~Buat Renungan Bersama~

"Sesungguhnya Allah s.w.t menyembunyikan empat perkara dalam empat keadaan.

Disembunyikan redhonya ketika taat padanya,maka janganlah menghina amal yang remeh dan sedikit kemungkinan terdapat padanya redho Allah tanpa diketahui.

Disembunyikan kemurkaanNya pada kemaksiatan hambanya maka janganlah kalian memperkecilkan dosa yang kecil kemungkinan padanya kemurkaan Allah yang tidak
diketahui.

Disembunyikan juga waktu dikabulkan doa maka janganlah kalian memandang remeh dalam berdoa kemungkinan ia bertepatan dengan waktu dimakbulkan doa sedangkan
hambanya tidak mengetahui.

Dan disembunyikan juga wali dari kalangan hambanya maka janganlah di antara kamu memperlekeh mereka yang berpakaian hodoh dan buruk barangkali dia adalah wali
Allah sedangkan kamu tidak mengetahui.

Imam Jaafar as Sadiq.

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan...

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم





Selain Puasa yang Allah wajibkan pada Bulan Ramadhan ada berbagai Amalan yang disunahkan pada bulan ini. Di antaranya :

1. Mengkhatamkan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari Lauhul Mahfuz ke langit Dunia sekaligus (beransur-ansur).

ALLAH SWT berfirman : "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi Manusia dan Penjelasan-penjelasan mengenai Petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)". (QS. Al-baqarah : 185).


2. Solat Tarawih

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang menghidupkan Malam bulan Ramadhan kerana Iman dan mengharap Pahala dari ALLAH akan diampuni Dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari, An-Nasa'i, Muslim, Abu Dawud dari Abu Hurairah).


3. Memperbanyakkan Doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh itu, perbanyakkanlah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa dan saudara-saudara kita sesama Muslim di belahan Dunia.


4. Memberi Buka Puasa (Tafthir Shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan Ifthar (Berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir Kurma sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang memberi Ifthar (untuk Berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (HR. Bukhari & Muslim).


5. Bersedekah

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada Bulan Ramadhan”.
(HR. Tirmidzi).

Dan pada akhir bulan Ramadhan, ALLAH mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan Zakat Fitrah sebagai Penyempurna Puasa yang dilakukannya.


6. I’tikaf.

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada ALLAH. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; kerana Rasulullah SAW selalu Beri’tikaf terutama pada Sepuluh Malam Terakhir dan para isterinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak Zikir, Istighfar, Membaca Al-Qur’an, Berdoa, Solat Sunnah dan lain-lain.


7. Memperbanyak Membuat Kebaikan

Bulan Ramadhan adalah Peluang Emas bagi setiap muslim untuk menambah pahalanya di sisi ALLAH. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi dikatakan bahawa Amalan Sunnah pada Bulan Ramadhan Bernilai seperti Amalan Wajib dan Amalan Wajib senilai 70 Amalan Wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap Peluang untuk Berbuat Kebaikan sekecil apapun meskipun hanya sekadar tersenyum di depan orang lain.

Semoga kita termasuk di kalangan mereka yang memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk merealisasikan Ketaqwaan Diri kita dan meraih predikat “Bebas dari Neraka.”

Aaamiiin Allahumma Aaamiiin..

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa buat semua sahabat Muslim yang dikasihi ^_^


سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

.....MENABUR FITNAH....

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Allah swt berfirman:

Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘FITNAH’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,

“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu FITNAH. Maksudnya adalah suatu cubaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cubaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah FITNAH yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah swt memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedehakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.” (Jami’ al-Bayan [13/473] asy-Syamilah)

al-Baghawi rahimahullah berkata:

“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan FITNAH adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.” (Ma’alim at-Tanzil [3/346] asy-Syamilah)

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Muraqabatullah ( Pengawasan Allah )

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

“ Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan ” (QS. Fushhdilat: 40)

Saya sering diingatkan oleh istri saya ,"....ingat Muraqabatullah ( Pengawasan Allah )
ya Aa (panggilan istri thd saya) dan pengawasan malaikat ".......

Salah satu jalan menuju Muraqabatullah ( Pengawasan Allah ) adalah dengan kita memiliki sifat Malu yang bersumber dari Iman.....

Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “ Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain ”

Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan ” (HR Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)

" sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan " begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)

Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)

Dari Zainab binti Abi Salamah, dari Ummu Salamah Ummu Mukminin berkata, “Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, menemui Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi bila bermimpi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, bila ia melihat air (keluar dari kemaluannya karena mimpi).’” (HR. Bukhari dalam Kitab Ghusl, hadits nomor 273)

Sebagaimana yang sampai kepada kita melalui Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya ” Kami berkata, “ Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu ” Beliau berkata, “ Bukan itu yang aku maksud,Tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allah ” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah, hadits nomor 2382)

oh ya sobat pejuang semua yang coolz cintai jangan pernah lupa menaruh malu pada tempatnya ya......ketika ada yang mengajak bersalaman kepada kita (pria-wanita) dan kita menyambutnya dengan alasan saya malu menolaknya........

“Idza lam tastahyii fashna’ maa syi’ta, bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225).

Wallaahu a'lamu bish_shawaab................

Share: https://m.facebook.com/groups/436028619754729?view=permalink&id=466990659991858

~ 7 Ramadhan 1433 H ~

سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Berbuat baik kepada makhluq berpahala

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al- Anshariyah di kebun kurma miliknya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah dia seorang muslim atau kafir?” Dia menjawab, “Seorang Muslim....” Maka beliau bersabda:

لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman apapun atau bertani dengan tumbuhan apapun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, atau binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan berniali sedekah untuknya.” (HR. Muslim no. 1552)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim bercocok tanam dengan tanaman apapun kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya. Apa saja yang dicuri orang darinya (tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang liar (dari tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah seseorang mengambil darinya melainkah itu juga akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim no. 1552)

Penjelasan ringkas:

Di antara rahmat Allah Ta’ala adalah Dia menjanjikan banyak pahala pada berbagai bentuk amalan kebaikan walaupun yang sifatnya rendah di mata kebanyakan manusia. Allah tidak menjadikan pahala sedekah hanya untuk orang-orang yang kaya, akan tetapi juga menyediakan jalan-jalan sedekah bagi mereka yang biasanya miskin, seperti para petani. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam.

Lihatlah bagaimana setiap petani -dengan syarat jika dia seorang muslim- bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak dari siapa saja yang makan dari hasil pertaniannya, baik itu manusia maupun binatang, baik itu atas seizinnya maupun diambil tanpa seizinnya (dicuri). Ini memperkuat sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Berbuat baik kepada setiap makhluk hidup adalah berpahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jika hasil tanamannya dimakan oleh orang lain melalui jalur jual beli, apakah petani tersebut tetap mendapatkan pahala?
Wallahu a’lam, lahiriah haditsnya bermakna umum. Dia mendapatkan pahala dari setiap makhluk yang memakan hasil pertaniannya baik dia berikan secara gratis maupun dia jual kepada orang lain.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/enaknya-jadi-petani.html
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Biidznillah.. (Dengan izin ALLAH SWT)

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Ada seorang hamba DIA.. sakit, lalu dia makan ubat. Akhirnya sembuh.
Ada seorang hamba DIA.. sakit, lalu dia makan ubat. Tidak juga sembuh.

Ada seorang hamba DIA.. belajar dengan tekun. Akhirnya dia lulus peperiksaan.
Ada seorang hamba DIA.. belajar dengan tekun. Tidak juga lulus peperiksaan.

Ada seorang hamba DIA.. berniaga dengan gigih. Akhirnya berjaya.
Ada seorang hamba DIA.. berniaga dengan gigih. Tidak juga berjaya.

⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱⊰♥⊱

Biiznillah (dengan izin ALLAH SWT). Maka yakinlah DIA tidak zalim, tidak akan memberi sesuatu yang tidak berfaedah kepada hambaNYA.

Jika ubat itu tidak menyembuhkan, maka sakit itulah penghapus dosa..
Dan rintihan kesakitan bersama doa pengharapan itulah jalan yang mendekatkan kita kepada DIA.

Jika ketekunan belajar itu dibalas dgn kegagalan, maka yakinlah kegagalan menyebabkan kita belajar cara untuk berjaya, menambahkan lagi ketekunan dan memberi rasa nikmatnya apabila kejayaan diperoleh hasil usaha yang bersungguh-sungguh..

Teruskan melangkah, lupakan gundah,
Pastikan arah, yakinkan diri!!
Tekadkan semangat!!!

Semua akan lebih baik jika kita mahu berdoa, berusaha dan hanya padaNYA kita berserah :)

~ 9 Ramadhan 1433H ~
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Sholat Tarawih 11 atau 23 Raka'at

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Sebenarnya dalam permalasalahan jumlah raka'at shalat tarawih tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada masalah dengan 23 raka'at atau 11 raka'at. Semoga kita bisa semakin tercerahkan dengan tulisan berikut.

Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)
Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan

Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.

‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah).
Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)
Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:

Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. ... Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)
Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)
Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih

Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.

Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.
Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”
Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”
Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”
‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”
Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)

Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)
Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
“Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.
Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)
Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.
Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.
Yang Paling Bagus adalah Yang Panjang Bacaannya
Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)
Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Cuplikan dari Buku Panduan Ramadhan

http://rumaysho.com/
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Hadits Lemah dan Palsu Berkaitan dengan Ramadhan

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Berikut adalah beberapa hadits yg masyhur(populer) di masyarakat, khususnya saat bulan Ramadhan yg penur berkah. Sering dibawakan oleh para penceramah, disebarkan lewat sms tausiyah, maupun artikel dan selebaran. Namun amat disayangkan, hadits2 tsb ialah Lemah dan Palsu. Amat penting bagi ummat Islam untuk mengetahui derajat sebuah hadits sebelum mengamalkan atau menyebarkannya, siapa yg meriwayatkan? apakah shahih atau tidak?. Karena hadits lemah, apalagi palsu, tidak dapat disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mengatakan Rasulullah berkata begini dan begitu padahal -ia tahu bahwa hal tsb- tidak pernah keluar dari lisan beliau yg mulia ataupun tidak pernah dilakukan oleh beliau, merupakan dosa yg besar, sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [Muttafaqun ‘Alaihi dari shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan yang lainnya]

Hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan amat banyak, berikut saya bawakan 10 diantaranya;

Hadits ke-1

صوموا تصحوا

“Berpuasalah, kalian akan sehat.” [HR. Abu Nu’aim]

Hadits Lemah[1].

* nb: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Hadits ke-2

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” [HR. Al Baihaqi dlm Syu’abul Iman (3/1437)]

Hadits Lemah[2].

Hadits ke-3

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا

“Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya.” [HR.Ibnu Khuzaimah III/190]

Hadits Palsu[3].

Hadits ke-4

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka” [Disebutkan dlm Kitab Durratun Nashihin tanpa sanad]

Hadits Palsu[4].

Hadits ke-5

من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر

“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.” [HR. Ibnu Hibban dlm Al Majruhin I/300, Al Baihaqi di Syu’abul Iman III/1441]

Hadits Lemah [5].

* nb: Yang benar, orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yg diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits: “Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” [HR. At Tirmidzi no.807, ia berkata: “Hasan shahih”]

Hadits ke-6

Hadits ttg doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

Allahu“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”

Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu[6] . Sedangkan pada do’a yg tidak mengandung lafadz ‘wabika aamantu’ pada do’a di atas, maka sanadnya berkisar antara lemah/lemah sekali.

* nb: doa berbuka puasa yg benar, terdapat dalam hadits:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

(Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah) ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah” [HR. Abu Daud 2357, Ad Daruquthni II/401]

Hadits ke-7

رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” [HR. Ad-Dailami, Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh I/186]

Hadits Palsu[7]

Hadits ke-8

يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه … وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار

“Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut …, dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” [HR.Ibnu Khuzaimah III/191, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman III/305]

Hadits ini adalah hadits Munkar(Lemah)[8].

* nb: Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760]. Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja.

Hadits ke-9

أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر

“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.” [Diriwayatkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib II/157, Ibnu Syahin dlm at-Targhib]

Hadits Lemah[9]

Hadits ke-10

“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai 3 kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Hadits ini adalah hadits Palsu, tidak ada asal-usulnya. bahkan teks arabnya pun tidak ditemukan[10]. kemungkinan baru keluar tahun kemarin.

* nb: yang benar, Islam mengajarkan untuk meminta maaf jika berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Demikian yg dapat saya share ke teman2, semoga kita dapat -senantiasa- beragama berdasarkan dalil2 yg shahih, dan terhindar dari penyimpangan akibat menggunakan dalil yg lemah maupun palsu. Semoga beranfaat :)

wallahul muwaffiq..

____________________________________________________

footnote:

[1]Sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).

[2]sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

[3]Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Jarir bin Ayyub. Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/103] dan juga Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 74] menghukumi dia (Jarir bin Ayyub) adalah perawi yang suka memalsukan hadits -yakni pendusta-. Lihat Lisanul Mizan [II/302] karya Ibnu Hajar.

[4]Hadits Laa Ashlalahu /tidak ada asal-usulnya (Lebih parah dari hadits palsu).

[5]sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

[6]Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih.

[7]Sebagaimana dikatakan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).

[8]Lihat Lisanul Mizan [II/169] karya Ibnu Hajar, As-Siyar [V/207] karya Adz-Dzahabi, dan As-Silsilah Adh-Dha’ifah [II/262] karya Asy-Syaikh Al-Albani.

[9]Lihat Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43) Syaikh al-Albaniy.

[10]‘Hadits ini merupakan hadits yg dipelesetkan lafadznya dari hadits riwayat Ibnu Khuzaimah III/192, Ahmad II/246&254, dengan lafadz hadits yg benar: “Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.

Artikel:http://buahatiku.wordpress.com/2011/08/11/hadits-lemah-dan-palsu-berkaitan-dengan-ramadhon/
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Bersedekahlah Jangan Berlebihan...!

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Berpada-padalah dalam berbelanja semasa berbuka puasa mahupun persiapan untuk hari raya. Jangan membazir kerana membazir itu adalah perangai syaitan. Perbuatan syaitan itu memang sia-sia dan merugikan.

ALLAH SWT berfirman yang bermaksud : "Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara Syaitan, sedang Syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya." [Surah Al-Israa : Ayat 27]

Nauzubillah...

Daripada melakukan pembaziran secara besar-besaran, adalah lebih baik berinfak ke jalan Allah yakni berzakat (wajib) dan bersedekah (sunat). Ingatlah, hak kita ada pada mereka, kerana harta yang dimiliki oleh kita ini hakikatnya adalah milik ALLAH. Maka ALLAH bersama dengan orang-orang yang miskin kerana mereka insan yang lemah, oleh itu duit kita tu adalah milik ALLAH dan hendaklah kita 'pulangkan' hak ALLAH itu kepada orang yang dijaga haknya oleh ALLAH SWT. Apa yang kita infakkan itu tidak mungkin akan disia-siakan. Apa yang dimakan akan habis tetapi pahala infak itu tidak akan habis malahan akan kekal sehingga ke hari akhirat!

Firman ALLAH SWT yang mafhumnya : “Perbandingan untuk mereka yang menyumbangkan harta di jalan ALLAH, adalah laksana sebutir benih yang mampu menumbuhkan tujuh tangkai, manakala di setiap tangkainya pula mampu menghasilkan tambahan seratus benih baru. ALLAH pasti melipatgandakan (ganjaranNYA) kepada sesiapa yang DIA inginkan. Dan ALLAH Maha Luas (kurniaanNYA), lagi Maha Mengetahui”. (Surah Al-Baqarah 2 : Ayat 261)

Rasulullah SAW bersabda, "(Ada) seorang hamba Allah berkata: 'Hartaku Hartaku!' padahal hartanya yang sebetulnya ada TIGA MACAM :

1- Apa yang dimakan lalu habis.
2- Apa yang dipakainya lalu lusuh.
3- Apa yang disedekahkannya, lalu tersimpan (untuk akhirat).

Maka selain daripada 3 macam itu (ia akan) lenyap atau ditinggalkan BAGI ORANG LAIN!"
(Hadis riwayat Imam Muslim).

ALLAH SWT berfirman : "..dan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal" (Surah Al-A'ala)

"Katakanlah apa yang ada di sisi Allah (ganjaran Allah) lebih baik daripada hiburan dan daripada perniagaan dan Allah sebaik-baik Pemberi rezeki" (Surah Al-Munafiqun)

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Di saat kematian seseorang anak adam, maka akan terputuslah segala amalannya, melainkan hanya tiga perkara, iaitu SEDEKAH JARIAH, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.” (Riwayat Muslim No. 4310)

Latihlah diri untuk rajin bersedekah.
Jadilah orang yang pemurah.
Gandakan nilai wang kita dengan cara bersedekah atau berbelanja pada jalan ALLAH.
SEMAMPU kita...
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Penjelasan Shalat Tarawih 11 dan 23 rokaat

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Ikhtilaf apa perdebatan Tarawih?

hadits nabi Muhammad Saw : Man ‘Amila Amalan Laisa Alaihi Amruna Fahuwa Ra’dhun. Artinya siapa saja yang beramal suatu amalan yang padanya tidak ada contoh dan perintah kami, maka amalan itu tertolak.

MasyaAlloh, sangat berbahaya sekali. Amalan kita selama sebulan penuh bisa tertolak hanya karena pada amalan tarawih kita tidak ada contoh dan perintah Rasululloh. Jadi kekhawatiran yang ada merupakan satu kekhwatiran yang wajar dan mesti ada pada jiwa-jiwa seroang muslim yang mengaharap Rhidho Alloh. Lalu harus bagaimana mengahadapi polemic ini?

Baiklah, saya akan coba berbuat semampu saya dengan meninjau semua keterangan yang ada dalam permasalahan tarawih ini? Mulai dari :
- Jumlah rakaat.
- masalah tata cara rakaatnya
- Setelah Isya atau tengah malam?
- Sampai masalah Berjemaah atau tidak?

Dengan pemaparan ini bukan berarti saya lebih pintar dari sahabat muslim semua. Bukan pula saya merasa sok pintar dalam masalah-masalah Dienul Islam. Hanya saja saya berusaha berbuat sesuai kemampuan saya dan ilmu yang Alloh titipkan pada saya. Saya pun tidak akan menjudge ini yang Sunnah dan ini yang Bid’ah, ini salah dan yang yang ini yang benar. Semua saya serahkan kepada sahabat muslim yang mebaca keterangan-keterangan saya nanti. Jadi intinya saya hanya menyuguh keteranga-keterangan yang ada, baik dari hadits-hadits shohih maupun dari Al-Quranul-Karim.

Jadi marilah kita mulai mengulas, Bismillah :

a. Jumlah Rakaat.

Pertama, marilah kita mengulas permasalahan jumlah rakaat dahulu. Dalam permasalahan ini ada dua pendapat, ada yang mengatakan 23 rakaat ada juga yang mengatakan 11 rakaat. Mana yang benar, jawab saya Wallohu ‘alam. Namun, saya akan membawakan kepada sahabat muslim semua keterangan hadits-haditsnya.

"Pertama marilah kita lihat keterangan hadits yang mengatakan bahwa shalat tarawih itu 23 rakaat. Inilah haditsnya :

Artinya :
“Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi SAW, shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka’at, . Di riwayat lain ada tambahan : “Dan witir setelah shalat dua puluh raka’at”.

Mari kita mulai tinjau hadits yang pertama ini. Setelah saya mencoba menelusuri silsilah hadits tentang jumlah rakaat tarawih adalah 23 di atas, saya mendapatkan sebuah keterangan tentang perowi hadits ini. Hadits ini semuanya diriwayatkan dari jalan Abu Syaibah, yang nama aslinya adalah Ibrahim bin Utsman dari Al-Hakim dari Misqam dari Ibnu Abbas.

Nah, kali ini kita akan menyoroti sebuah nama yaitu Abu Syaibah. Ada apa dengan Abu Syaibah? Sahabat muslim ada yang tahu? Emh, pada awalnya juga saya tidak banyak tahu tentang Abu Syaibah. Namun setelah coba mencari info dalam kitab-kitab hadits. Ternyata para Imam hadits masyur mengatakan bahwa Abu Syaibah adalah seorang perowi yang riwayatnya tidak bisa digunakan, karena Abu Syaibah memiliki kecacatan dalam periwayatannya. Berikut adalah komentar para Imam Hadits Masyhur :

• Kata Imam Ahmad, Abu Dawud, Muslim, Yahya, Ibnu Main dll : Dlo’if.
• Kata Imam Tirmidzi : Munkarul Hadits.
• Kata Imam Bukhari : Ulama-ulama mereka diam tentangnya .
• Kata Imam Nasa’i : Matrukul Hadits.
• Kata Abu Hatim : Dlo’iful Hadits, Ulama-ulama diam tentangnya dan mereka meninggalkan haditsnya.
• Kata Ibnu Sa’ad : Adalah dia Dlo’iful Hadits.
• Kata Imam Jauzajaniy : Orang yang putus .
• Kata Abu Ali Naisaburi : Bukan orang yang kuat .
• Kata Imam Ad-Daruquthni : Dlo’if.
• Al-Hafidz menerangkan : Bahwa ia meriwayatkan dari Al-Hakam hadits-hadits munkar.

Lalu apa tanggapan para Imam hadits terhadap hadits ini?

Al-Hafidz berkata di kitabnya Al-Fath : Isnadnya dlo’if, Al-Hafidz Zaila’i telah mendlo’ifkan isnadnya di kitabnya Nashbur Rayah . Demikian juga Imam Shan’ani di kitabnya Subulus Salam mengatakan tidak ada yang sah tentang Nabi shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka’at.

Sedangkan Imam Thabrani berkata : Tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas melainkan dengan isnad ini. Imam Baihaqi berkata : Abu Syaibah menyendiri dengannya, sedang dia itu dlo’if. Imam Al-Haistami berkata di kitabnya “Majmauz Zawaid : Sesungguhnya Abu Syaibah ini dlo’if.

Nah, jadi begitulah tanggapan para Imam Hadits terhadap hadits yang menyatakan bahwa sholat tarawih itu sebanyak 23 rakaat dhoif adanya. Jadi kini telah nampak bagi kita bahwa keterangan yang menyatakan sholat tarawih berjumlah 23 rakaat tenryata tidak bisa dipakai karena terdapat kelemahan dalam periwayatanya yaitu pada rowinya yang bernama Abu Syaibah.

Barulah sekarang kita melangkah kebagian kedua, yaitu bagaimana kedudukan dalil yang menyatakan bahwa sahalat tarawih itu berjumlah 11 rakaatnya. Berikut adalah haditsnya :
Artinya :
Dari ‘Aisyah Rhodiyallohu Anha : Tidak pernah Rosululloh Saw kerjakan (sholat tathowu) di ramadhan dan tidak di lainnya lebih daripada sebelas Rakaat, yaitu ia shalat empat (rakaat)- jangan engakau tanyakan tentang bagus dan panjangnnya. – kemudian ia shalat empat (rakaat) – jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya – kemudian ia shalat tiga (rakaat).
Berkata Aisyah : Saya Bertanya : Ya Rasululloh apakah paduka tuan hendak tidur sebelum witir?
Sabdanya (Rosululloh) : Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya dua mataku tidur tapi tidak tidur hatik. (HR. Bukhari Muslim).

Hadits di atas bisa sahabat muslim lihat dalam Kitab Bulughul Marram karya Imam Ibnu hajar Al-Atsqolani pada Bab Sholatu Tathowu (sunah) hadits no 400.

Dalam hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah di atas tidak terdapat kecacatan sedikitpun. Para ulama hadits pun sepakat akan keshohihan hadits ini. Maka keterangan hadits yang menyatakan bahwa Rasululloh shalat tarawih sebelas rakaat itu kuat dan bisa dipakai.

Sekarang, keputusan ada ditangan sahabat muslim. apakah sahabat muslim memilih dalil keterangan yang dhoif (lemah), maka sholatlah 23 rakaat. Atau sahabat muslim lebih memilih keterangan dalil yang kuat dan mengikuti sunnah, maka sholatlah 11 rakaat. Itu haq sahabat muslim, sebab sahabat muslim sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya. Tugas saya hanya sekedar menyampaikan saja.

B. Permasalahan Tata Caranya.

Kita masuk kepada peninjauan dalil pada permasalah yang kedua, yaitu tatacara praktek rakaatnya. Apakah 2 rakaat salam kemudian ditambah lagi 2 rakaat dan seterusnya? Atau empat rakaat salam dan ditambah lagi empat rakaat lagi? Mana tatacara yang benar dan mengikuti sunnah?

Baiklah mari kita tinjau kembali dalil-dalilnya!

Jika sahabat muslim meperhatikan keterangan hadits di atas (rakaat tarawih itu 11) yang di riwayatkan oleh ‘Aisyah. Pada hadits di atas sebetulnya telah nyata bagi kita keterangan untuk menjawab hadits ini. berikut potongan hadits yang menunjukan keterangan tersebut :
yaitu ia shalat empat (rakaat)- jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnnya. – kemudian ia shalat empat (rakaat) – jangan engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya – kemudian ia shalat tiga (rakaat).

Dari penejalsan detail hadits di atas maka sholat tarawih yang Rasululloh lakukan adalah empat rakaat salam kemudian empat rakaat salam Dan inilah pendapat yang paling kuat untuk tatacara rakaat pada shalat tarawih atau qiamu romadhon.

Lalu bagaimana kedudukan pendapat yang mengatakan bahwa shalat sunnah Tarawih atau qiamu romadhon itu dua rakaat salam, dua rakaat salam dan seterusnya. Dalil yang menyatakan sholatnya itu dua rakaat salam, tidaklah salah dan benar adanya. Hanya saja orang yang berpendapat bahwa shalat tarawih 2 rakaat salam dengan menggunakan dalil ini, kurang tepat atau keliru. Sebab dalil yang menyatakan 2 rakaat salam itu, dalillnya untuk shalat malam atau tahajud biasa.. berikut dalilnya :

Artinya : Dari Ibnu Umar, Ia berkata : Telah bersabda rosululloh Saw : “Shalat malam itu ialah dua rakaat – dua rakaat, tetapi apabila salah seorang diantara kalian khawatir datangnya subuh, boleh ia sholat satu rakaat (witir) yang mengganjilkan baginya sholat yang ia kerjakan.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Hadits ini terdapat pada kitab Bulughul marram karya Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani pada bab Sholat Tathowu, hadits no 390.

Ketarangan hadits melalui jalan Ibnu Umar ini memang membahas tatacara sholat dengan dua rakaat salam dua rakaat salam. Namum hadits ini juga sudah menjelaskan pada awal hadits, bahwa yang dua rakaat salam dua rakaat salam itu hanya untuk sholat malam atau Qiamu Lail atau yang sering kita sebut tahajud, dan bukan untuk sholat tarawih atau sholat Qiamu Romadhon.

D. Apakah Sholat Tarawih Harus Berjemaah atau Sendiri?

Sekarang kita masuk pada peninjauan masalah pertentangan yang selanjutnya, apakah sholat tarawih harus berjemaah atau tidak? Di permasalahan ini juga menimbulkan pro kontra yang cukup sengit jika permasalahan ini dibawah ke ranah diskusi.

Seperti yang kita ketahui, pada umumnya di masyarakat luas bahwa kebanyakan di masyarakat kita adalah shalat tarawih berjemaah setelah sholat Isya selesai dilaksanakan. Atau dengan kata lainnya inilah yang lebih umum dilakukan oleh mayoritas orang-orang di lingkungan kita. Maka dari itu saya akan mengajak sahabat muslim semua untuk meninjau bagian ini dahulu.

Kita akan sama-sama meninjau, apakah ibadah sholat sunnah tarawih berjemaah dan dilakukan ba’da Isya itu ada dalil serta dasar hukumnya?

Mengapa harus ditinjau dari segi hal itu dahalu?

Karena, tarawih adalah ibadah, dan menurut qoidah Ushul Al-Ashlu il ‘Ibaadah Buthlan, hatta yaakuna ad-dalilu ‘ala amrihi (Asal dalam melaksanakan ibadah itu adalah batil, sehingga ada dalil yang memerintahkannya). Jadi semua Ibadah yang kita lakukan di dunia ini pada mulanya bathil, ia menjadi sunnah atau wajib yang bernilai ibadah ketika ada dalil yang memerintahkan ibadah tersebut.

Setelah saya coba cari dan telusuri tentang dalil-dalil tentang sholat tarawih berjemaah ba’da Isya, Alhamdulillah saya menemukannya. Dan berikut adalah haditsnya :

Dari 'Aisyah Radhiallahu 'anha bahwa ia menuturkan :

"Dahulu manusia shalat di masjid Nabi Shalalllahu 'alaihi wa sallam di malam bulan Ramadhan dengan berpencar-pencar (yakni dengan berimam sendiri-sendiri). Seorang yang banyak hapal Al-Qur'an, mengimami lima sampai enam orang, atau bisa jadi lebih atau kurang. Masing-masing kelompok shalat bersama imamnya. lalu Rasulullah menyuruhku untuk memasang tikar di depan pintu kamarku.
Akupun melakukan perintahnya. Sesuai melakukan shalat 'Isya di akhir waktu, beliau keluar kemuka kamar itu. 'Aisyah melanjutkan ceritanya : Manusia yang kala itu ada di masjidpun lantas berkumpul ke arah beliau. Lalu beliau sholat bersama mereka shalat sepanjang malam. Kemudian orang-orang bubar, dan beliaupun masuk rumah. Beliau membiarkan tikar tersebut dalam keadaan terbentang. Tatkala datang waktu pagi, mereka memperbincangkan shalat yang dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama orang-orang yang ada pada malam itu (maka berkumpullah manusia lebih banyak lagi) dari sebelumnya. Sehingga akhirnya masjid menjadi bising Pada malam ke dua itu, Nabi Shalalllahu 'alaihi wa sallam kembali shalat bersama mereka. Maka di pagi harinya, orang kembali memperbincangkan hal itu, sehingga orang yang berkumpulpun bertambah banyak lagi (pada malam ketiga) sampai masjid menjadi penuh sesak. Rasul-pun keluar dan shalat mengimami mereka. Di malam yang keempat, disaat masjid tak dapat lagi menampung penghuninya ; Rasulullah-pun keluar untuk mengimami mereka shalat 'Isya dipenghujung waktu. Lantas (pada malam itu juga) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke rumahnya, sedangkan manusia tetap menunggunya di masjid". 'Aisyah lalu menuturkan : "Rasulullah bertanya kepadaku :"Orang-orang itu sedang apa ya 'Aisyah ?" Saya pun menjawab : "Wahai Rasulullah, orang-orang itu sudah mendengar tentang shalatmu tadi malam bersama orang-orang yang ada di masjid ; maka dari itu mereka berbondong memenuhi masjid untuk ikut shalat bersamamu". Lalu 'Aisyah melanjutkan kisahnya : "Beliau lantas memerintahkan :"Tolong lipat kembali tikarmu, wahai 'Aisyah !". Akupun lantas melakukan apa yang beliau perintahkan. Malam itu, beliau berdiam di rumah tanpa tidur sekejappun. Sedangkan orang-orang itu tetap menunggu ditempat mereka. Hingga datang pagi, barulah Rasulullah keluar. Seusai melaksanakan shalat subuh, beliau menghadap kearah para sahabatnya] dan bersabda :
"Wahai manusia, sungguh demi Allah, aku sama sekali tidak tertidur tadi malam. Akupun tahu apa yang kalian lakukan. Namun (aku tidak keluar untuk shalat bersama kalian) karena aku khawatir shalat itu menjadi (dianggap) wajib atas diri kalian.
Sesungguhnya Allah tak akan bosan, meskipun kamu sendiri sudah bosan". (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343).

Itulah hadits yang sangat panjang yang menjadi dasar dalil melakukan sholat taraweh berjemaah (dan tidak ada penjelasan ba’da Isya, untuk yan ba’da Isya entah dari mana, saya belum menemukannya).

Nah, sekarang mari kita tinjau hadits Riwayat Imam Bukhari melalu jalan Aisyah RA tersebut.

Setelah saya perhatikan dengan mengkaji, justru malah sebaliknya lho. Hadits ini seharusnya menjadi dalil bahwa sholat tarawih itu tidak berjemaah. Lho, kenapa? Pasti sahabat muslim bertanya-tanya seperti itu. Okay, mari kita runut satu persatu kejadian dalam hadits di atas, dan apa kesimpulannya?

Pada malam pertama dibulan Ramdhan (yang pertama kali dilakukan) Rasululloh melakukan sholat Qiamu Ramadhan (Tarawih) di mesjid, kemudian beberapa orang yang melihat hal itu mengikuti sholat dibelakang Rasululloh.

Ketika Pagi hari, orang-orang yang mengikuti Sholat Rasululloh bercerita kepada teman-temannya tentang sholat yang mereka lakukan tadi malam. Maka tatkala Rasululloh Sholat pada malam Kedua jumlah orang yang mengikuti sholat bersama Rasululloh menjadi lebih banyak.

Kemudian ketika pagi tiba orang-orang yang banyak itu bercerita kepada teman-temannya lagi. Sehingga pada malam ketiga, saat Rasululloh sholat, semakin banyak saja yang mengiti. Dan di malam yang keempat Mesjid membeludak jemaah dan tidak mampu lagi menampung jemaahnya. Dan Rasululloh tidak keluar untuk sholat lagi, beliau tetap diam di rumahnya tanpa tidur (sholat di rumah).

Maka orang-orang yang membeludak itu merasa keheranan. Kenapa Rosululloh tidak keluar sampai subuh tiba? Setelah Sholat Subuh Rosululloh langsung berkhutbah untuk menjawab pertanyaan mereka, beliau bersabda : "Wahai manusia, sungguh demi Allah, aku sama sekali tidak tertidur tadi malam. Akupun tahu apa yang kalian lakukan. Namun (aku tidak keluar untuk shalat bersama kalian) karena aku khawatir shalat itu menjadi (dianggap) wajib atas diri kalian.

Dan di sinilah yang menjadi titik kesimpulan yang saya katakana bahwa hadits ini seharusnya menjadi dalil bahwa sholat tarawih itu tidak dengan berjemaah. Karena rasululloh yang tadinya melakukan sholat tersebut pada akhirnya meninggalkannya sampai akhir hayat beliau.

Inilah yang disebut dalam kajian ilmu ushul fiqieh Nasih Mansuh, yaitu menghapus ketentuan yang lama dengan ketentuan hukum yang baru (kalau bahasa di Hukum UUD thogut, Amandement). Artinya Rasululloh yang tadinya sholat dengan bersama di mesjid, dihapus oleh ketentuan yang baru, yaitu Rosululloh tidak sholat berjamaah dan sholat di rumah. Dan ketentuan itu tidak beliau rubah hingga beliau wafat.

Jadi dari situlah kesimpulan saya tentang hadits ini, yang mana saya katakan bahwa hadits ini sebetulnya menyatakan bahwa rasululloh sholat tidak dengan berjemaah.
Lalu ada beberpa kalangan yang berpendapat, “Kan Rasululloh meninggalkannya karena takut di anggap wajib,” atau dengan kata lain mereka ingin mengatakan “Takut jadi diwajibkan oleh Alloh.”

Ini sebuah alasan yang terlalu mengada-ngada (menurut saya). Kenapa? Apa mungkin Alloh bisa dipermainkan dalam segi memberikan hukum? Hingga kita bisa atur supaya suatu hal itu tidak dijadikan wajib oleh Alloh. Inilah pendapat yang sangat patal, sebab sama saja menggapa Alloh bodoh dan tidak maha kuasa. Itu Mustahil bagi Alloh, sebab jika Alloh ingin mewajibkan suatu hal, pasti Alloh wajibkan, tanpa harus manusia melakukannya terlebih dahulu. Begitu pun sebaliknya jika Alloh tidak akan mewajibkan sesuatu, tidak harus menunggu manusia membiasakannya terlebih dahulu. Karena Alloh tidak butuh dan tidak mungkin bisa dintervensi oleh manusia.

Itulah yang sangat mendasari saya menolak alasan hadits ini dijadikan alasan untuk melakkan sholat tarawih dengan berjemaah. Tentunya setelah meninjaunya, seperti yang sahabat muslim saksikan tadi.

Lalu sejak kapan ada lagi tarawih berjemaah dimesjid?

Sekali lagi sampai Nabi wafat tidak pernah terjadi lagi. begitu pula pada masa kekhalifahan Abu Bakar As-Shidiq. Lalu kapan? Jawabannya pada masa Khalifah Umar Bin Khatab RA. Dan inilah yang menjadi dalil lagi bagi yang melaksanakan Tarawih berjemaah. Padahal keteranngannya pun sangat lemah, mari kita lihat dalilnya :

Dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”
(Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dengan keterangan di atas, maka kita bisa mengetahui kapan adanya tarawih berjemaah. Dan tidak lain jawabannya adalah pada masa Khalifah Umar Bin Khotob.
Dan sekarang mari kita cermati dan amati, apakah keterangan dalil di atas bisa kita jadikan alasan untuk tarawih berjemaahnya.
Mari kita mulai meninjau lagi :

Kita lihat Al-Quran untuk mencari keterangan menanggapi hadits ini, mari kita baca apa yang dikatakan Alloh :

“....Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu,” (QS. Al-Maidah :3).

Apa maksudnya saya memposting ayat ini? Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa Rosululloh tidak pernah melakukan Sholat Tarawih berjemaah lagi. Dan dengan turun ayat di atas pada saat haji wada, maka telah sempurna semua ajaran Islam. Baik yang berupa ibadah, hukum, ataupun yang bersiafat syariat. Maka ajaran yang sudah sempurna, tidak membutuhkan lagi penambahan dengan alasan apapun.
Jika masih ditambah dengan alasan itu kan baik, berarti beranggapan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad belum sesempurna yang diidamkan.

Lalu, dalam hadits di atas mesti banyak yang kita tinjau lagi. Seperti, perkataan Umar (nimatul bid’ah hadzihi), kenapa diartikan inilah sebaik-baiknya bi’dah? Padahal arti yang tepat secara mufrodat artinya INILAH NIKMATNYA BID’AH. Ya begitulah Bid’ah, selalu saja nikmat karena dianggap baik dan bagus.
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Labels

loading...

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik