Awas! RIYA'

:: Sorokkan kecantikanmu, sepertimana engkau sorokkan keburukanmu ::
:: Sorokkan kebaikanmu sepertimana engkau sorokkan kejahatanmu ::
:: Sorokkan kejayaanmu sepertimana engkau sorokkan kegagalanmu ::

Awas! RIYA' penghapus pahala amalan! =)
READ MORE →
Bagikan Ke :

Ringkas tapi penuh makna.Bacaan di antara dua sujud

1) Rabbighfirli (Tuhanku, ampuni aku)
2) Warhamni (sayangi aku)
3) Wajburnii (tutuplah aib-aibku)
4) Warfa’nii (angkatlah darjatku)
5) Warzuqnii (berilah aku rezeki)
6) Wahdinii (berilah aku petunjuk)
7) Wa’Aafinii (sihatkan aku)


7 senjata (doa) ini sering dibaca dalam solat ketika duduk antara dua sujud. Namun kadang kala jarang juga mengamati maknanya. Mungkin kerana ia hanya sunat. Jadi acuh tak acuh pun tidak menjejaskan solat.

Namun, ini adalah bacaan yang Nabi ajar 1400 tahun yang lampau kepada generasi terawal, dan kerana perkara kecil inilah Nabi mampu membentuk manusia hebat ketika itu.

Sekarang bagimana? Kecil pun tak buat, yang besar lagilah payah.Bukanlah banyaknya amalan itu menjadi pengukur hebatnya seseorang di sisi Allah, tetapi, sejauh mana setiap tindakan itu terus berkekalan, ada fokus dan ikhlas untuk-Nya.

Wallahua'lam.
READ MORE →
Bagikan Ke :

Zainab

Nama dan Nasab Zainab

Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya. Sifat-sifatnya Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya.

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya, وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِ كْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَاال لهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَ لَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri -isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. ” (QS. Al-Ahzab: 37) Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab biasa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan, “Kalian dinikahkan oleh Allah dari atas Arsy- Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al- Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa ’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih). Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’

Kemudian datanglah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘ Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘ Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘ Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah, مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ ال لهِ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. ” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan Allah berfirman, ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5) Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al- Isti’ab, 4:1849-1850)


Turunnya Ayat Hijab

Anas bin Malik berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang turunnya ayat hijab, ketika terjadi pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan hidangan dan mengundang para sahabat sehingga mereka datang dan masuk ke rumahnya. Ketika itu Zainab sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah, kemudian para sahabat berbincang-bincang, saat itu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian kembali dalam keadaan para sahabat duduk-duduk di rumahnya, saat itu turunlah firman Allah, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلآَّ أَن يُؤْذَ نَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُ مْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلاَمُسْتَئْنِسِينَ لِ حَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِ مِنكُمْ وَاللهُ لاَيَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak ( makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu ( keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir).” (QS. Al-Ahzab: 53) Saat itu berdirilah para sahabat dan diulurkan hijab. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra , 8:105-106 dengan sanad yang shahih)


Keutamaan-keutamaan Zainab

Aisyah berkata, “Zainab binti Jahsyi yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851) Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada istri-istrinya, ‘yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya,’ Aisyah berkata, ‘Maka kami setelah itu jika berkumpul saling mengukur tangan-tangan kami di tembok sambil melihat mana yang paling panjang, tidak henti-hentinya kami melakukan hal itu sampai saat meninggalnya Zainab, padahal dia adalah wanita yang pendek dan tidaklah tangannya paling panjang di antara kami, maka tahulah kami saat itu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkan panjang tangan adalah yang paling banyak bershadaqah. Adalah Zainab seorang wanita yang biasa bekerja dengan tangannya, dia biasa menyamak dan menjahit kemudian menshadaqahkan hasil kerjanya itu di jalan Allah’,” (Muttafaq Alaih) Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar, “Sesungguhnya Zainab adalah wanita yang awwahah.” Seseorang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan awwahah wahai Rasulullah?” Rasulullahs shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang khusyu lagi merendahkan diri di hadapan Allah.” (Al-Isti’ab, 4:1852) Dari Barzah binti Rofi dia berkata, “Suatu saat Umar mengirimkan sejumlah uang kepada Zainab, ketika sampai kepadanya Zainab berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Umar, sebenarnya selain aku lebih bisa membagi- bagikan ini,’ mereka berkata, ‘Ini semua untukmu,’ Zainab berkata, ‘Subhanallah, letakkanlah uang-uang itu dan tutupilah dengan selembar kain!’ kemudian dia bagi- bagikan uang itu kepada kerabatnya dan anak-anak yatimnya dan dia berikan sisanya kepadaku yang berjumlah delapan puluh lima dirham, kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Ya Allah jangan sampai aku mendapati pemberian Umar lagi setelah tahun ini.’ Tidak lama kemudian dia meninggal dunia.” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106) Peran Zainab di Dalam Penyebaran Sunah- sunah Rasulullah Zainab binti Jahsyi termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjaga dan menyampaikan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara deretan perawi yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah saudaranya Muhammad bin Abdullah bin Jahsyi, Ummul Mu’minin Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Zainab bintu Abi Salamah, dan selain mereka dari kalangan shahabat dan tabi’in.


Wafatnya Zainab

Zainab binti Jahsyi wafat di Madinah pada tahun 20 Hijriyyah di masa kekhilafahan Umar , saat Mesir ditaklukkan oleh kaum muslimin, waktu itu beliau berusia 53 tahun. Beliau dikuburkan di pekuburan Baqi. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan kebaikan yang melimpah. Rujukan: Thabaqoh Kubra oleh Ibnu Sa’ad (8:101-1150, Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Zubair bin Bakar (1:48), Dalail Nubuwwah 1:40-41 oleh Firyabi, Siyar A’lamin Nubala oleh Adz-Dzahabi (2:211-218), Al- Ishabah oleh Ibnu Hajar (7:667-669), dan Al- Isti’ab oleh Ibnu Abdil Barr. (4/1849-1452). Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun III
READ MORE →
Bagikan Ke :

Wanita Perhiasan Dunia

Assalamualaikum Warohmatullohi wa Barokaatuh

Laa ilahaa illalloh....
Subhanalloh alhamdulillah Allohuakbar


Saudaraku.....
Jika banyak digemborkan kesetaraan gender di seluruh negeri di dunia ini, bagi mereka wanita itu harus sama derajadnya dengan laki-laki, baik dari segi reputasi, hak kedudukan, karir dll. Itu adalah angapankaum-kaum yang menggunakan kacamata materialisme.

Yaa?.. tidak salah tapi bagi mereka. Akan tetapi kalau kita cermati lebih dalam, dengan membandingkan dengan perbagai perpektif ilmu tentu saja ini adalah produk-produk liberal, mungkin produk-produk orang sekuler. Mengingat peranan seorang wanita ini amatlah vital, pemikiran ini seyogyanya perlu diteliti ulang agar kelangsungan hidup manusia bernegara dan beragama dimuka bumi ini tetap berlangsung dengan baik.

Coba kita gunakan kacamata yang berbeda dengan mereka, coba kita gunakan kacamata hakiki(hakekat), dengan itu kita bisa melihat bahwa keberadaan Wanita itu lebih mulia dibandingkan dengan laki-laki. Bayangkan saja jika wanita menjalankan kodratnya sebagai Umi (Ibu) yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan. Tentunya pemimpin-pemimpin yang akan mengubah dunia ini menjadi lebih baik, baik di hadapan Allah maupun dihadapan dunia ini.

Dari situ kita bisa menilai, bahwa seorang umi itu sungguh sangat mulia tegak dan hancurnya sebuah negara tergantung dari wanita yang ada di negara tersebut.

Dari perspekti Islam, Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda
"dunia itu adalah harta, tapi sebaik-baik harta adalahwanita yang sholihah)."

Wanita di dalam islam mendapatkan berbagai perlakuan khusus, tanpa mengurangi derajadnya dan andilnya di muka bumi ini. Mulai dari keringanan sholat dan puasa ketika Haid, sampai dengan kelimpahan pahala dalam menjalankan ibadah kepada Allah.

Akan tetapi wanita itu akan menjadi sumber benca dimuka bumi ini jika telah meninggalkan kodratnya sebgai seorang wanita,seperti yang disabdakan Rasulluloh Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam

"Tidak aku tinggalkan fitnah yang lebih besar setelah ku selain daripada wanita"

Dari dasar diatas mestinya seorang wanita bisa memilih dengan benar, bagaimana harus bersikap didalam hidupnya (tinggal pilih : ingin menjadi wanita yang benar-benar mulai ataukah menjadi sekeji-kejinya fitnah), mestinya setiap manusia diberikan petunjuk untuk membedakan mana yang seharusnya dipilih antara kebaikan dan keburukan.

Dari berbagai perspektif diatas harapan saya seorang wanita bisa menjalankan kodratnya sebagai seorang Umi (ibu) yang memang sangat beperan bagi kelangsungan hidup manusia.

Menjadi ibu yangbenar-benar sadar bahwa tanpa peranannya, kehidupan bernegara dan beragama tidak akan berjalan dengan baik. Bagi wanita yang memang sudah memiliki profesi, harus memiliki kemampuan yang ekstra dalam menjalankan aktivitas profesinya dan juga bisa menjalankan fungsi utamanya sebagai Umi.

Umi yang mengorientasikan pendidikan bagi putra-putranya, umi yang bisa menjadi pembangkit gairah bagi suami tercintanya, serta umi yang berorientasi mulia dihadapan Allah.Dengan berjalannya waktu dan akhirnya zaman lama berganti zaman baru, wanita tetaplah wanita,tidak akan pernah wanita menjadi laki-laki, bisa akan tetapi menyalahi fungsi, coba kita bayangkan jika semua manusia berlaku seperti itu, tentu saja dunia ini akan musnah (hancur karena perilaku menyimpang manusia itu sendiri)Wallohu'Alam....

(copyright)
READ MORE →
Bagikan Ke :

..:::Memakai Wewangian:::..

...::Bismillahirrohmaanirrohim::...

Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mencintai keindahan. Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengajarkan kepada umatnya agar mencintai keindahan.

Dalam keseharian, banyak hal yang bisa dilakukan agar seseorang tampak rapi dan bersih. Di antaranya, memakai wewangian. Rasulullah SAW adalah orang yang suka dengan wewangian. Dari Anas Radhiyallahu anhu (RA), Nabi bersabda, ”Aku dikaruniai rasa cinta dari dunia kalian; wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat” (Riwayat an-Nasa`i, Ahmad, dan al-Hakim)

Namun, ibarat bumbu masakan, porsi parfum tersebut harus pas, tak boleh berlebihan. Demikian juga dengan waktu dan tempat pemakaiannya. Berikut beberapa aturan yang terkait dengan hal tersebut:

1. Sunnah Memakainya Sebelum Ke Masjid

Memakai wewangian termasuk berhias, disunnahkan ketika hendak berangkat ke masjid. Firman Allah, “Wahai anak cucu Adam, pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang bagus pada setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf [7]: 31).

Memakai parfum juga termasuk perkara yang disunnahkan ketika shalat Jum’at, shalat Ied, dan ibadah-ibadah lainnya.

2. Boleh Memakai Ketika Berpuasa

Hukum bersiwak, memakai minyak rambut, wangi-wangian, celak mata, dan beberapa hal lainnya termasuk perkara yang dibolehkan ketika berpuasa. Sebab, ia kembali kepada hukum asal sesuatu yaitu mubah (boleh), selama tak ada dalil yang melarangnya.

Namun, ada aturan khusus bagi wanita dalam masalah ini, di antaranya:

a. Tidak Memakai Saat Keluar Rumah

Berbeda halnya dengan kaum lelaki, seorang Muslimah tak diperkenankan memakai wewangian ketika hendak ke masjid. Ini demi menjaga kehormatan para wanita. Rasulullah SAW bersabda: ”Tidaklah diterima shalat seorang perempuan yang berangkat ke masjid sedang ia memakai parfum. Kecuali ia mandi sebagaimana mandi janabat.” (Riwayat Abu Daud).

Dalam riwayat lain disebutkan, ”Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah (perempuan) untuk mendatangi masjid. Tapi hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.” (Riwayat Abu Daud).

Larangan itu juga berlaku untuk keluar rumah. Sabda Nabi SAW, ”Wanita mana saja yang memakai wewangian, lalu ia keluar rumah dan melewati suatu kaum (orang banyak) agar mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina.” (Riwayat Ahmad dan al-Hakim. Disepakati oleh Imam adz-Dzahabi).

Kenapa dilarang? Tak lain karena wangi perempuan dapat menimbulkan syahwat laki-laki dan menarik perhatian mereka. Alhasil, terjadilah zina mata yang bisa berujung kepada dosa yang lebih besar lainnya.

b. Hanya untuk Suami atau di Dalam Rumah

Islam mengajarkan wanita agar mengkhususkan wewangian buat sang suami saja atau ketika berada di dalam rumah. Sebagaimana pesan Nabi SAW kepada para wanita, ”Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya, dan hartamu disaat engkau pergi.” (Riwayat at-Thabrani).

c. Tak Memakainya Ketika Sedang Berkabung

Dari Ummu Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang wanita berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari. Kecuali atas kematian suaminya, ia berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Janganlah ia mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashab (kain berasal dari Yaman yang dipintal kemudian dicelup), jangan memakai celak, jangan memakai parfum kecuali ia suci dari haidh, hendaklah ia mengambil sepotong qusth atau azhfaar (jenis tumbuhan yang diolah untuk parfum).” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Wallahu a'lam bhis showab..
READ MORE →
Bagikan Ke :

Obat Herbal Probiotik di Pelopori oleh Prof.Ahli mikrobakteriologi dunia