Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam Selalu Tersenyum


bismillahirrahmanirrahim

Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam sangat terkenal dengan senyumannya. Banyak kesaksian dan kisah Rasulullah SAW yang diceritakan oleh para sahabat, diantaranya adalah:

    Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam menyatakan bahwa senyum adalah ibadah
    Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam selalu tersenyum pada istrinya
    Senyuman merupakan wujud tertawa Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak
    Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam menggunakan senyuman ketika menegur seseorang
    Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam tetap tersenyum ketika menerima ancaman.
    Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam tersenyum ketika membebaskan tawanan orang kafir
    Walaupun Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallamsering tersenyum ketika disakiti, namun jika hukum Allah dilanggar, wajahnya akan memerah karena marah

Referensi:

    -Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam bersabda, ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)
    -Abdullah bin Al-Harist Radliyallahu’anhu menuturkan, yang artinya,”Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam “. (Riwayat At-Tirmidzi)
    -Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu beliau, menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata,” Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At-Tirmidzi)
    -Dalam sebuah riwayat disebutkan pula, ”Belum pernah aku menemukan orang yang paling banyak tersenyum seperti halnya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam “. (Riwayat At-Tirmidzi)
    -Aisyah Radliyallahu’anha mengungkapkan, yang artinya, ”Adalah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam ketika bersama istri-istrinya merupakan seorang suami yang paling luwes dan semulia-mulia manusia yang dipenuhi dengan gelak tawa dan senyum simpul”. (Riwayat Ibnu Asakir)
    -Aisyah Radliyallahu’anha bercerita, yang artinya, “Tidak pernah saya melihat Raulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum”. (Riwayat Al-Bukhari)
    -Anas bin Malik berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling mulia akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling luas kasih sayangnya, suatu hari aku diutus Nabi untuk suatu keperluan, lalu aku berangkat. Di tengah jalan, aku menemui anak-anak yang sedang bermain. Dan aku pun ikut bermain bersama mereka sehingga aku tidak jadi memenuhi suruhan beliau. Ketika aku sedang asyik bermain, tanpa sadar, ada seorang berdiri memperhatikan di belakangku dan memegang pundakku. Aku menoleh ke belakang dan aku melihat rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tersenyum kepadaku lalu berkata, ‘Wahai Unais apakah engkau telah mengerjakan perintahku?’ Aku pun bingung dan berkata, ‘Ya, aku akan pergi sekarang ya Rasulullah!’ Demi Allah, aku telah melayani beliau selama sepuluh tahun dan beliau tidak pernah berkata kepadaku, ‘mengapa kau kerjakan ini? Mengapa kau tidak mengerjakannya?’”.
    -‘Aisyah Radliyallahu’anha menuturkan kepada kita, yang artinya, “Pada suatau ketika, Rasulullah baru kembali dari sebuah lawatan. Sebelumnya ku telah menirai pintu rumahku dengan korden tipis yang bergambar. Kitika melihat gambar tersebut Rasulullah langsung merobeknya hingga berubah rona wajah beliau seraya berkata, “Wahai ‘Aisyah ! sesungguhnya orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah”. (Muttafaq ‘Alaih)
    -http://maramissetiawan.wordpress.com/2007/04/07/senyum-senyum-rasulullah-shallahu-%E2%80%98alaihi-wa-sallam/

Kepemimpinan Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam



bismillahirrahmanirrahim

Adakah manusia yang mampu mengubah kekufuran menjadi keimanan, kemusyrikan menjadi ketauhidan, dan kemaksiatan menjadi ketaatan dalam suatu negara besar hanya dalam waktu 23 tahun? Ya, Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam telah membuktikannya. Beliau mampu melakukan itu dengan kepemimpinan yang luar biasa. Berikut adalah ciri kepemimpinan Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa-Sallam yang luar biasa:

Beliau memiliki sifat-sifat yang mulia sejak usia dini. 
Beliau selalu menjadi teladan hidup bagi orang-orang di sekitarnya sejak masih kecil
Beliau selalu bertindak sesuai perintah Allah Azza wa Jalla
Dalam hal-hal yang tidak diatur Allah Azza wa Jalla secara langsung, beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabat
Beliau mampu menyelesaikan segala perbedaan pendapat dengan bijaksana
Beliau selalu menghormati semua pendapat yang disampaikan kepadanya
Beliau selalu bersama rakyatnya dan sangat memahami perasaan rakyatnya
Jika rakyatnya menderita, beliaulah yang paling merasakan penderitaan itu
Beliau sangat menginginkan rakyatnya sejahtera dan bahagia
Beliau pengasih dan penyayang pada rakyatnya.
Beliau tidak hanya memberi arahan atau membimbing dari balik meja, namun juga terjun langsung ke lapangan
Beliau aktif mengatur strategi dan taktik perjuangan, baik dalam peperangan maupun ketika damai
Kata-kata beliau selalu konsisten. Tidak ada perbedaan antara kata dan perbuatan
Sebelum mengajarkan sesuatu, beliau melakukannya lebih dahulu
Beliau tidak hanya berbicara dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan dan keteladanan
Beliau disiplin dan adil dalam menegakkan hukum, tanpa pandang bulu
Beliau sangat tegas pada orang yang melanggar hukum Allah, namun sangat lembut dan memaafkan bila ada kesalahan yang menyangkut dirinya sendiri
Keagungan sifat beliau membuat orang lain siap mengorbankan semua milik mereka untuk beliau
Beliau sangat gagah dan pemberani
Beliau memiliki kontrol diri yang penuh atas dirinya sendiri dalam segala situasi
Beliau selalu tenang, percaya diri, dan tidak pernah panik
Beliau tidak pernah menggerutu atau mengeluh dalam kondisi tertekan sekalipun
Beliau selalu memperlakukan lawannya dengan tingkah laku yang terbaik
Beliau selalu memperlakukan orang dengan adil dan jujur

alhamdulillahirabbilalamin

Referensi:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam:4)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159)
Afzalur Rahman 2002:73-97
http://www.docstoc.com/docs/25217754/Kepemimpinan-Rasulullah-Shallallahu'Alaihi wa-Sallam
http://www.facebook.com/topic.php?uid=88379852270&topic=8990
-cara-muhammad.com/
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.....

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang MahaMulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-'alaq 1-5)



dicintai sama manusia aja girangnya minta ampun | mau ngerasain dicintai sama pencipta manusia?"tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya"(HR Bukhari)

maka syarat utama untuk dicintai Allah | ialah melaksanakan kewajiban dari-Nya

"Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya"(H R Bukhari)

sudahlah yang wajib dipenuhi, ia mencari perhatian Allah dengan amalan sunnah | berusaha memikat Allah dengan kepatuhan dan taat

apa yang terjadi bila Allah sudah cinta pada hamba-Nya? | masyaAllah, masyaAllah.."Jika Aku mencintainya, Aku jadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat"(HR Bukhari)

"Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan"(HR Bukhari)

"Jika ia meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan pada-Ku, Aku pasti melindunginya"( HR Bukhari)

"Ingatlah, sungguh kekasih-kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran dalam diri mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati"(QS 10:62)

saat Allah sudah cinta | kita dibimbing oleh-Nya, dipandu oleh-Nya, dibantu oleh-Nya, dijaga oleh-Nya, dicukupkan oleh-Nya

saat Allah sudah cinta | tiada disisakan rasa takut kecuali pada-Nya, tiada bersedih hati karena dunia dan apa yang fana

saat Allah sudah cinta | Dia kabulkan segala pinta

namun lihat diri kita yang lebih takut kehilangan cinta manusia | mengganti cinta Allah dengan maksiat dan nikmat sementara

namun lihat diri kita yang lebih suka dicinta manusia | walau dengan cara yang salah dan nista

namun lihat diri kita yang berhijab saja masih beralasan | padahal jelas kewajiban dari Allah pasti mampu dilaksanakan

padahal bila kita mendekat kepada Allah sejengkal, Allah mendekati kita sehasta | bila kita taat pada Allah pasti akan ada kemudahan

nikmatnya mencintai Allah tak dibalas kecuali dengan cinta-Nya | manisnya iman pun akan didapat, berikut tenang dan bahagia

mencintai Allah itu cinta yang sudah pasti berbalas | sedang bisa mencintai-Nya saja sudah satu keindahan

++ BAHAYA DENGKI ++



Dengki termasuk penyakit hati yang paling berbahaya, jauh lebih berbahaya dari penyakit fisik. Jika penyakit fisik hanya menyebabkan penderitaan di dunia, maka penyakit hati akan mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.

Orang yang dengki memiliki kecenderungan menentang kehendak Allah karena ia membenci nikmat yang diberikan kepada orang lain dan merasa bahwa Allah tidak adil padanya.

Pendengki tak bosan mencari kesalahan dan keteledoran orang yang didengkinya. Kemudian mengumpulkannya dalam sebuah buku harian disertai dengan catatan kaki bahwa masih banyak kejelekan yang belum dimasukkan ke dalamnya. 

Demikianlah, dimata pendengki kita adalah pendosa. Tidak ada kata maaf untuk kita sebelum kita melepaskan karunia dan nikmat Allah yang terlimpah kepada kita dan menanggalkan semua karakter kebaikan kita.

Saudaraku, janganlah kita menjadi musuh bagi nikmat yang telah dikaruniakan Allah, merasa kesal dengan keputusan-Nya, dan tak senang dengan pembagian rezeki oleh-Nya.

Firman-Nya,

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 32)

Ada beberapa sebab yang menimbulkan perasaan dengki,

1. Cintai dunia. 
Ia tidak penah merasa cukup dengan rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya.

2. Merasa paling mulia.
Ia keberatan bila ada orang lain yang melebihi dirinya. Ia merasa risih dan tertekan bila saudara/teman/koleganya mendapat jabatan, pengetahuan, atau harta yang bisa mengungguli dirinya. 

3. Sombong.
Ia selalu memandang remeh orang lain dan amat benci kepada orang yang menasehatinya.

Kita memohon kepada Allah agar dijauhi dari penyakit hati yang berbahaya ini.

Cara Bersiwak Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam




Apa itu siwak? Siwak (atau disebut juga miswak) merupakan kayu dari ranting pohon Aarak atau Peelu, yang lazim terdapat di jazirah Arab. Nama latinnya: Salvadora Persica. Siwak inilah yang biasa digunakan sebagai sikat gigi sekaligus pasta gigi yang terkenal di jazirah Arab.

Keutamaan bersiwak sangat banyak. Bahkan penelitian-penelitian modern menemukan bahwa siwak lebih baik dan alami ketimbang sikat dan pasta gigi yang sekarang beredar luas.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menyukai bersiwak (menyikat gigi dengan siwak).

Cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak adalah sebagai berikut:

-Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Allahumma thahhir bissiwaak Asnaaniy, wa qawwiy bihi Litsaatsiy, wa afshih bihi lisaniy“, yang artinya “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dg siwak, dan kuatkanlah Gusi gusiku, dan fashih kan lah lidahku”;
-Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari dibawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.
-Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah .
-Langkah ke-3 di atas dilakukan 3x putaran;
-Selesai bersiwak, mengucapkan hamdalah, “Alhamdulillah“.

Kapan saja bersiwak? 
Rasulullah mencontohkan waktu-waktu utama bersiwak adalah sebagai berikut;

-Hendak berwudhu dan sholat;
-Ketika akan memasuki rumah;
-Ketika bangun tidur. 
-Ketika sedang berpuasa (shaum);
-Ketika hendak membaca Al-Qur’an.

Beberapa hal lain yang pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan tentang bersiwak:

- Cucilah siwak sebelum menggunakan dengan air bersih;
- Sebelum digunakan, sebaiknya siwak diperbaiki/diperbagus terlebih dahulu;
- Boleh menggunakan siwak orang lain setelah dibersihkan;
- Bersungguh-sungguhlah ketika bersiwak;
-Boleh bersiwak di hadapan orang lain (tidak harus sembunyi-sembunyi).

Wallahu’alam bissahawab.

Referensi:

-Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut sekaligus keridhaan bagi Rabb.” (Riwayat Ahmad)
-Sabda Nabi, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, tentulah kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam redaksi lain, Nabi mengucapkan, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku tentulah kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
-Diriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata: “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika memasuki rumahnya?” Aisyah menjawab, “Bersiwak”. (Riwayat Muslim).
-Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan bersiwak setiap kali bangun tidur, termasuk saat bangun malam. (Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).
-Aisyah menyebutkan, “Rasulullah tak tidur pada malam atau siang hari lalu beliau bangun kecuali bersiwak terlebih dahulu sebelum wudhu.” (Riwayat Abu Daud).
-Dari Amir bin Rubaiah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah bersiwak (berulang kali hingga aku tidak bisa menghitungnya), padahal beliau sedang berpuasa.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).
-Dari Ali ibn Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak: ‘Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri menunaikan shalat, malaikat lalu mendatanginya, berdiri di belakangnya mendengar bacaan al-Qur`an dan mendekat. Malaikat terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya di atas mulut hamba tersebut, hingga tidaklah dia membaca satu ayat pun kecuali malaikat berada di rongganya.” (Riwayat Baihaqi)
-Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan,”Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersiwak lalu memberiku siwak tersebut utk kucuci. Lalu aku menggunakan utk bersiwak kemudian mencuci setelah menyerahkan kepada beliau.”
- Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:“Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang bersiwak dgn siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan beliau mengatakan “o’ o’″ sedangkan siwak di dlm mulut beliau seakan-akan beliau hendak muntah.”
-abizakii.wordpress.com/2010/04/05/siwak/
-belajardanberamal-naser.blogspot.com/2010/08/tata-cara-bersiwak.html
-majalah.hidayatullah.com/?p=1705&cpage=1#comment-2190
-gusimerah.blogspot.com/2009/06/kenali-manfaat-sehat-siwak-atau-miswak.html
-blog.re.or.id/keutamaan-bersiwak.htm
-cara-muhammad.com/
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.....

Rahasia Sholat Dhuha



assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Keutamaan, Manfaat, Rahasia Sholat Dhuha : Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.”
[HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: 
[1] puasa tiga hari setiap bulan, 
[2] dua rakaat shalat Dhuha dan 
[3] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad-Darami]

Dari Abud Darda, ia berkata: “Kekasihku telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup: 
[1] menunaikan puasa selama tiga hari pada setiap bulan, 
[2] mengerjakan shalat Dhuha, dan 
[3] tidak tidur sebelum menunaikan shalat Witir.”
[HR. Muslim, Abu Dawud, Turmuzi dan Nasa’i]

Dari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Dari Abu Said [Al-Khudry], ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”.
[HR. Turmuzi, hadis hasan]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Jazakumullohu khoiron katsiron saudara/i fillahku yang sudah bergabung dan belajar bersama kami di FPhttps://www.facebook.com/titiantasbih
Alhamdulillah member 7 Destinasi Pengembaraan Roh
hari ini mencapai 100rb....
semoga ada manfaat dan kepada saudara/i fillah kami mohon maaf jika ada kesalahan dan kepada Ilahi kami mohon ampunan...

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.....

Cara Mandi Wajib Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam



bismillahirrahmanirrahim

Mandi adalah aktivitas yang selalu dibutuhkan oleh manusia. Mandi memberikan perasaan bersih dan percaya diri. 
Dalam tuntunan Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam, ada 2 jenis mandi, yaitu mandi yang diwajibkan dan mandi yang disunnahkan.

Mandi wajib dilakukan jika terjadi hal-hal di bawah ini:

- Keluarnya mani dengan syahwat. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa mandi diwajibkan hanya jika keluarnya mani secara memancar dan terasa nikmat ketika mani itu keluar. Jadi jika keluarnya karena kedinginan atau sakit, tidak ada kewajiban mandi. Tapi biar aman, tetap mandi saja.
-Jika bangun tidur dan mendapati keluarnya mani. Ulama berpendapat bahwa selama kita bangun dan mendapati adanya mani, maka kita wajib mandi, walaupun kita tidak sadar atau lupa telah mimpi basah atau tidak.
-Setelah bertemunya dua kemaluan walaupun tidak keluar mani.
- Setelah berhentinya darah haidth dan nifas.
-Ketika orang kafir masuk islam.
- Ketika seorang muslim meninggal dunia. Tentu saja yang memandikannya adalah yang orang yang masih hidup ,Mayat muslim wajib dimandikan kecuali jika ia meninggal karena gugur di medan perang ketika berhadapan dengan orang kafir.
- Ketika bayi meninggal karena keguguran dan sudah memiliki ruh.

Cara-cara mandi wajib (atau disebut juga mandi junub atau janabah) yang dicontohkan Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:

-Berniat mandi wajib dan membaca basmalah.
-Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak 3 kali
-Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri
- Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan tangan ke tanah atau dengan menggunakan sabun
- Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat
-Mengguyur air pada kepala sebanyak 3 kali hingga sampai ke pangkal rambut
-Mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri
-Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari
-Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan, lalu kiri.

Untuk wanita, ada beberapa tambahan sebagai berikut:

-Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air
-Melepas kepang rambut agar air mengenai pangkal rambut
-Ketika mandi setelah masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah untuk menghilangkan sisa-sisanya.
-Ketika mandi setelah masa haidh, disunnahkan juga mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh

Tambahan lain mengenai mandi wajib yang sering ditanyakan:

-Jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.
-Setelah mandi wajib, diperbolehkan mengeringkan tubuh dengan kain atau handuk
-Berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah sunnah menurut mayoritas ulama.

Wallahu’alam bisshawab.....

Referensi:

-“Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al Maidah: 6)
- “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An Nisa’: 43)
- “Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani).” (HR. Muslim no. 343)
-Dari Aisyah RA, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi, beliau menjawab, “Dia wajib mandi”. Dan beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab: “Dia tidak wajib mandi”.” (HR. Abu Daud no. 236, At Tirmidzi no. 113, Ahmad 6/256. Dalam hadits ini semua perowinya shahih kecuali Abdullah Al Umari yang mendapat kritikan[6]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
-“Ummu Sulaim (istri dari Abu Tholhah) datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya, jika dia melihat air.” (HR. Bukhari no. 282 dan Muslim no. 313)
- “Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya , pen), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)
- Dari Aisyah RA, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah, pen) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi.” (HR. Muslim no. 350)
-Dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu, “Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
- “Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)
-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata, “Jika bayi karena keguguran tersebut sudah memiliki ruh, maka ia dimandikan, dikafani dan disholati. Namun jika ia belum memiliki ruh, maka tidak dilakukan demikian. Waktu ditiupkannya ruh adalah jika kandungannya telah mencapai empat bulan, sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
- “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
-“Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
-Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)
-“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)
- “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)
- Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)
- Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)
-An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”
-Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”-
-Dari Aisyah RA, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (HR. Bukhari no. 272)
-Dari Aisyah RA, “Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR. Bukhari no. 277)
-Dari Aisyah RA, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
-Dalam hadits Ummu Salamah, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)
- Dari Aisyah RA, “Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)
-Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
- Dari Ibnu ‘Umar, Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf
- Dalam hadits Maimunah, “Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276)
- http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-mandi-wajib.html/
-http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html
-cara-muhammad.com/
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.....

## MENGAPA ALLAH TIDAK TERLIHAT? ##



Indra pendengaran manusia sangat terbatas. Jangkauan penglihatannya pun sangat terbatas. 

Mampukah manusia mendengar suara bakteri yang melubangi dan merusak giginya? Bisakah ia merasakan keberadaannya?

Berapakah ukuran yang bisa dilihat oleh manusia dari alam yang terhampar di depan mata ini?

Manusia –jika dibandingkan dengan jagat raya ini– ibarat benda-benda kecil yang hanya terlihat dengan mikroskop, bagaimana mungkin engkau dapat menjangkau seluruh alam?

Sedangkan seluruh jagat raya ini, jika dibanding dengan arsy Allah, pun laksana benda-benda kecil yang hanya terlihat dengan mikroskop, padahal arsy Allah barulah tempat penetapan kehendak dan perintah ilahi.

Al-Qur’an –kitab suci dengan kebenaran tertinggi– mengatakan,

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu...” (Al-An’am [6]: 103)

Allah menjangkau semua mata karena dia dapat mencakup segala sesuatu dengan ilmu-Nya.

Siapa engkau wahai manusia, apa yang engkau ketahui hingga berani bertanya, “Mengapa Allah tidak terlihat?”

Para ulama berkata, “Apa pun yang terlintas dalam benakmu, Allah adalah selain itu.”

Maha suci Zat yang tunggal
Tiada sekutu bagi-Nya
Tiada yang serupa dengan-Nya

Dia terlalu luhur untuk dicakup oleh dimensi tempat
Dia terlalu suci untuk dicakup oleh dimensi zaman

Dia Mahahidup, Mahakuasa, Mahaperkasa
Dia pemilik kerajaan, malakut, keagungan, dan kemahakuasaan

Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu
Tak ada satu biji sawi pun di bumi maupun di langit yang terlepas dari ilmu-Nya

Betapa agung karunia Allah yang seluruh alam tidak sebanding dengan satu butir atom pun dihadapan keagungan-Nya.

Apa ganjaran terhadap wanita yang tidak patuh terhadap perintah Allah?



Tak tahukah kamu?

Bahwa neraka sedang menunggu mu?

“Saya diperlihatkan neraka. Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini yang sangat mengerikan. Dan saya melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita. Mereka(para sahabat-ed) bertanya, ‘Kenapa wahai Rasulallah? Beliau bersabda, ‘Dikarenakan kekufurannya.........'
(HR. Bukhari, no. 1052)

dan janganlah berharap untuk mencium bau surga yang baunya itu dapat tercium dari kejauhan

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, “Dua golongan termasuk ahli neraka yang saya belum pernah melihatnya, suatu kaum memegang cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, sesat dan menyesatkan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk Surga juga tidak akan mencium baunya, sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian"
[Hadits Riwayat Muslim]

jadi masih berpikir untuk tidak berhijab?

BAGAIMANA MUSLIMAH MENILAI DIRINYA ?



Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh.

Kaum muslimah tidak seharusnya menilai kepribadian mereka atas dasar sesuatu yang sangat dangkal, seperti kecantikan, demikian pula tidak selayaknya kaum muslimah memandang rendah diri mereka karena dianggap gagal memenuhi harapan-harapanmasyarakat untuk memperoleh predikat “wanita cantik”. Kaum muslimah harus menyadari sepenuhnya , bahwa citra kecantikan seperti itu hanyalah sebuah mitos yang dimanfaatkan untuk mengalihkan pemikiran dari pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting dalam hidup ini. Seperti apakah tujuan hidup yang hakiki atau bagaimana kehidupan umat manusia dengan cara yang benar.

Landasan yang menjadi tolak ukur untuk menilai kepribadian diri bukanlah kecantikan melainkan pemikiran (aqliyah) dan perilaku (nafsiyah / pola sikap) karena dua hal inilah yang bisa membentuk syakhshiyah (kepribadian seseorang). Ukuran taat sebagai seorang hamba kepada sang khaliq, serta kuantitas dan kualitas amal perbuatan dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, inilah yang menjadi tolak ukur keberhasilan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Inilah kunci sukses untuk mendapatkan kebahagiaan abadi di surga.

ALLAH Subhana wa ta'alla berfirman dalam surah al-Ahzab :35 yang artinya:

“ sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk’ . laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama ALLAH , ALLAH telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Dengan ukuran ini pula, ALLAH meninggikan derajat seorang manusia dari manusia lainnya. ALLAH Subhana wa ta'alla berfirman dalam surah alhujurat :13 yang artinya :

” sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi ALLAH adalah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

Oleh karena itu perjuangan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslimah dalam hidup ini adalah untuk membangun kepribadian islam seutuhnya dan berusaha menerapkan hukum-hukum ALLAH Subhana wa ta'alla dalam kehidupan pribadinya, di tengah keluarganya, serta dalam masyarakat, bukan perjuangan yang mengarah pada sekedar mendapatkan kecantikan atau meniru pola pikir masyarakat barat yang dangkal.

Sabda Rasulullah ”Dunia dan isinya adalah perhiasan, tetapi sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang shalikhah”.

Terimakasih untuk suamiku tercinta, yang berulang kali mengingatkan diriku bahwa kecantikan bukanlah prioritas utama, yang ikhlas dan tulus mencintai dan menyayangiku karena ALLAH bukan karena zahirku, Syukur alhamdulillah....segala puji hanya bagi ALLAH.

SEBUTIR KORMA PENJEGAL DO’A


Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.
4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.
Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.
“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.
“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.
“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”
“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”
“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”
“Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu

AL-MASIH ISA BIN MARYAM DAN AL-MASIH AD-DAJJAL



Abdullah bin Umar r.a. berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Semalam aku mimpi di dekat Ka’bah ada seorang yang merah bagus rupanya panjang rambutnya sampai ke bahunya, lurus rambutnya bagaikan meneteskan air, sambil meletakkan kedua tangannya di atas bahu orang di kanan kirinya, sedang ia tawaf, maka aku bertanya: Siapakah orang itu? Jawabnya: Itu Al-Masih Isa bin Maryam. Kemudian aku melihat juga seorang di belakangnya, sangat keriting rambutnya, buta matanya sebelah kanan, hampir serupa dengan Ibn Qathan, dia juga meletakkan kedua tangannya di atas bahu dua orang di kanan kirinya, juga tawaf di Ka’bah, ketika aku tanya siapa orang itu? Dijawab: Al-Masih Ad-Dajjal. (Bukhari, Muslim).

Abdullah bin Umar r.a. berkata: Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan Ad-Dajjal kepada orang-orang, lalu bersabda: Sesungguhnya Allah tidak buta mata sebelah, ingatlah sesungguhnya Ad-Dajjal itu buta mata sebelah kanan, bagaikan buah anggur yang timbul (menonjol). (Bukhari, Muslim).

Peringatan Allah dalam Al-Qur'an tentang musibah gunung meletus yang mengakibatkan hujan abu dan batu.




"atau sudah merasa amankah kamu , bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan hujan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku". (QS. Al-Mulk ayat 17)

Wahai Saudaraku sungguh Al-Qur'an adalah petunjuk dan rahmat dari Allah untuk kita, yang memuat perintah, larangan, peringatan dan kabar gembira serta penawar hati bagi orang-orang mukmin.

Marilah kita kembali ke jalan Allah, banyaknya musibah yang terjadi jadikanlah peringatan yang NYATA bagi diri kita sendiri untuk segera bergegas kembali berlari menuju Allah. Karena kita tidak pernah tau kapan dan dimana musibah akan menghampiri kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita dan keluarga kita dari musibah yang terus menerus terjadi di negeri ini.

Semoga Allah tetap melindungi orang-orang yang masih tetap istiqomah menghafal, membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur'an.

Dan jangan lupa untuk selalu memohon ismat dan ma'unah-Nya agar kita diselamatkan oleh Allah dari musibah dan bencana

Mandi Sunnah Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam



bismillahirrahmaanirrahim

Jenis mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam diantaranya adalah:

-Mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Rasulullah Shallalhu alaihi Wasallam mencontohkan melakukan mandi sebelum berangkat ke tanah lapang untuk menunaikan sholat Idul Fitri maupun Idul Adha.
-Mandi ketika ihrom untuk haji atau umroh.
- Mandi ketika masuk Mekkah.
-Mandi ketika sadar dari pingsan.
-Mandi ketika ingin mengulangi jima (bersenggama dengan istri).
-Mandi setiap kali sholat untuk wanita yang sedang mengeluarkan darah akibat sakit.
-Mandi setelah memandikan mayit.
-Mandi sebelum sholat Jum’at. Beberapa hal penting terkait mandi Jum’at ini adalah:
Mandi ini dimaksudkan untuk membersihkan diri sebelum sholat Jum’at, jadi bukan untuk menghormati hari Jum’at itu sendiri
Terkait hal diatas, maka mandi ini disunnahkan hanya untuk orang yang akan menghadiri sholat Jum’at
Banyak ulama yang mewajibkan mandi ini. Jadi, sebaiknya kita biasakan selalu melakukannya
Waktu mandi Jum’at dimulai setelah terbit matahari, namun lebih baik jika ketika akan pergi ke mesjid untuk sholat Jum’at.
Mandi Jum’at ini boleh dilakukan dengan digabungkan dengan mandi junub, asalkan dilakukan setelah terbit matahari.

Wallahu’alam bisshawab.

Referensi:

- Dari ‘Ali bin Abi Thalib, “Seseorang pernah bertanya pada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arofah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Al Baihaqi 3/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ 1/177)
- Riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Muwatho’ 426. An Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih
- Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaian beliau yang dijahit, lalu beliau mandi.” Abu Isa At Tirmidzi berkata, “Ini merupakan hadits hasan gharib. Sebagian ulama menyunahkan mandi pada waktu ihram. Ini juga pendapat Asy Syafi’i.” (HR. Tirmidzi no. 830. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Anjuran untuk mandi ketika ihrom ini adalah pendapat mayoritas ulama
- Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Nafi’ berkata,“Ibnu Umar tidak pernah memasuki kota Makkah kecuali ia bermalam terlebih dahulu di Dzi Thuwa sampai waktu pagi datang. Setelah itu, ia mandi dan baru memasuki kota Makkah pada siang harinya. Ia menyebutkan bahwa hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau melakukannya.” (HR. Muslim no. 1259)
-Ibnul Mundzir mengatakan, “Mandi ketika memasuki Mekkah disunnahkan menurut kebanyakan ulama. Jika tidak dilakukan, tidak dikenai fidyah ketika itu. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa mandi ketika itu bisa pula diganti dengan wudhu.”
- Dari ‘Aisyah RA,Dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah berkata, “Aku masuk menemui ‘Aisyah aku lalu berkata kepadanya, “Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang peristiwa yang pernah terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit?” ‘Aisyah menjawab, “Ya. Pernah suatu hari ketika sakit Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semakin berat, beliau bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum, mereka masih menunggu tuan.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu, bawakan aku air dalam bejana.” Maka kami pun melaksanakan apa yang diminta beliau. Beliau lalu mandi, lalu berusaha berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan. Ketika sudah sadarkan diri, beliau kembali bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan.” Kemudian beliau berkata lagi, “Bawakan aku air dalam bejana.” Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri kembali, beliau berkata, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab lagi, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan.” Kemudian beliau berkata lagi, “Bawakan aku air dalam bejana.” Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh dan pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri, beliau pun bersabda, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Saat itu orang-orang sudah menunggu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid untuk shalat ‘Isya di waktu yang akhir. (HR. Bukhari no. 687 dan Muslim no. 418)
- Abu Rofi’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?” Beliau menjawab, “Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.” (HR. Abu Daud no. 219 dan Ahmad 6/8. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
- Dari Abu Sa’id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulangi senggamanya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim no. 308)
-Dari ‘Aisyah RA, “Ummu Habibah mengeluarkan darah istihadhah (darah penyakit) selama tujuh tahun. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah itu. Beliau lalu memerintahkan kepadanya untuk mandi, beliau bersabda, “Ini akibat urat yang luka (darah penyakit).” Maka Ummu Habibah selalu mandi untuk setiap kali shalat.” (HR. Bukhari no. 327 dan Muslim no. 334)
- Dari Abu Hurairah, “Setelah memandikan mayit, maka hendaklah mandi dan setelah memikulnya, hendaklah berwudhu.” (HR. Tirmidzi no. 993. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
-“Barangsiapa memandikan mayit, maka hendaklah ia mandi. Barangsiapa yang memikulnya, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Daud no. 3161. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
- Ibnu ‘Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa menghadiri shala Jum’at baik laki-laki maupun perempuan, maka hendaklah ia mandi. Sedangkan yang tidak menghadirinya –baik laki-laki maupun perempuan-, maka ia tidak punya keharusan untuk mandi”. (HR. Al Baihaqi, An Nawawi mengatakan bahwa hadits ini shahih).” Demikian nukilan dari An Nawawi.
- “Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi.” (HR. Bukhari no. 919 dan Muslim no. 845)
- “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim adalah ia mandi dalam satu hari dalam sepekan dari hari-hari yang ada.” (HR. Bukhari no. 898 dan Muslim no. 849)
- “Barangsiapa berwudhu di hari Jum’at, maka itu baik. Namun barangsiapa mandi ketika itu, maka itu lebih afdhol.” (HR. An Nasai no. 1380, At Tirmidzi no. 497 dan Ibnu Majah no. 1091). Hadits ini diho’ifkan oleh sebagian ulama.
-“Barang siapa berwudhu’ kemudian menyempurnakan wudhu’nya lalu mendatangi shalat Jum’at, lalu dia mendekat, mendengarkan serta berdiam diri (untuk menyimak khutbah), maka akan diampuni dosa-dosanya di antara hari itu sampai Jum’at (berikutnya) dan ditambah tiga hari setelah itu. Barang siapa yang bermain kerikil, maka ia telah melakukan perbuatan sia-sia.”(HR. Muslim no. 857)
-“Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” (HR. Muslim no. 857)
-http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mandi-yang-disunnahkan.html
-cara-muhammad.com/
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.....

~Senjata peluru penyangkal nasehat~




“Pelan-pelan, aku ingin menjilbabi hatiku terlebih dahulu..”

Aku tersenyum. Sebab pernyataan inilah yang paling sering kau jadikan pelurumu dalam menyangkal nasihat-nasihatkawanmu tentang jilbab. Seringkali ku dengar para wanita mengucapkan ini dengan senyum mengembang dan rasa puas. 

Aku bertanya padamu saudaraku, apa yang kau maksudkan dengan “menjilbab i”?

Apakah maksud dari menjilbabi olehmu adalah mensucikan, membersihkan, memperbaiki bagitu? 

Baiklah aku ambil kesimpulan bahwa saat ini kau tengah berupaya memperbaiki, membersihkan dan mensucikan hatimu. 

Lalu bagaimana upayamu sejauh ini?

Apa yang tengah kau lakukan untuk memperbaiki dan mensucikan hatimu tersebut? 

Saudaraku, semoga Allah memperbaiki urusanmu..

Aku beri tahu sesuatu yang sangat penting untuk kau ketahui. Bahwa mensucikan hati dan menjadikannya bersih dari segala kotoran dan penyakit tidaklah dapat ditempuh kecuali dengan beberapa sebab seperti meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah, melakukan ketaatan dan memperbanyak bertaubat kepada-Nya. 

Allah Ta’ala berfirman, 
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [An-Nur: 30]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan di dalam ayat ini bahwa sucinya hati itu terjadi setelah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan, yaitu menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah Ta’ala. 

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya. (Ibnul Qayyim) 

Dan wahai saudaraku, dengan apa kau dapat menundukkan pandangan serta menjaga kehormatanmu jika bukan dengan berhijab? 

Maka kau telah keliru dalam berpandangan dan mengambil sikap. Kau mengira dengan menunda berjilbab dan melakukan apa yang kau sebut dengan upaya menjilbabi hati adalah sebuah cara yang sudah benar, ternyata sebaliknya. 

Cobalah kau berpikir lagi, bagaimana mungkin kau dapat mensucikan hatimu, sedang tidak kau tempuh sebuah upaya yang berarti. Yang bahkan kau menunda-nunda kebaikan dan enggan untuk memenuhi perintah Rabb-mu. Lalu dengan tersenyum kau berkata“Aku ingin menjilbabi hati dulu..”. Tidakkah hal tersebut sia-sia belaka? 

Saudaraku, tempuhlah sebab-sebabnya serta berlapang dadalah. Sungguh, mengenakan jilbab dan menjaga kehormatanmu itulah cara tepat untuk menjilbabi hati.

Labels

loading...

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik