Wahai saudariku wanita

Wanita....Jadilah engkau mutiara sebab ia berharga dan butuh perjuangan buat mendapatkannya....Tidak seperti batu yang bisa didapati dimana mana... Bila teronggokpun orang jarang yg peduli...paling ditendang sama kaki? Sakit tuh kakinya entar ˚╬╬ϱϱ˚╬╬ϱϱ˚╬╬ϱϱ˚ Tapi tidak ada yg Allah ciptakan sia2...semua punya arti,fungsi &manfaat masing2...wahai diri, sudah manfaatkah kita buat orang lain?

## MELIHAT HUNIANNYA DI NERAKA ##



Curahan kasih sayang, cinta, dan pengorbanan panjang yang telah dipersembahkan seorang ibu seringkali tak disadari. Bahkan ada yang melecehkan.

Fakta berbicara, tak sedikit anak yang tidak tahu berterimakasih dan bahkan durhaka kepada ibunya.
Berkata kasar, berprilaku tidak sopan, mengacuhkan panggilan, dan bahkan mencelanya.

Ia amat ringan tangan memberi hadiah kepada pacar, kolega bisnis, dan atasannya, namun kepada sosok yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkannya ia begitu pelit dan perhitungan.

Celakalah bagi anak yang berbuat demikian. Ia menanggung azab Allah di dunia dan di akhirat.

Syahdan,

Dalam suatu kuliah, seorang dosen menceritakan kisah Masyithah, pelayan Fir’aun yang menyatakan keislamannya. Ia pun beserta anak-anaknya diperintahkan diceburkan ke dalam tungku tembaga yang berisi minyak mendidih.

Hingga pada giliran bayinya yang masih menyusu, si ibu merasa ragu-ragu. Atas seizin Allah, bayi yang belum bisa bicara itu berucap, ”Wahai ibu, bersabarlah, sesungguhnya siksaan dunia jauh lebih ringan daripada siksa akhirat.”

Akhirnya si ibu pun mencebukan dirinya beserta bayinya ...

Tiba-tiba jeritan dan tangisan membahana di penjuru ruangan. Tak tahunya ada seorang mahasiswi yang pingsan. Setelah kembali siuman, sang dosen melanjutkan kisahnya.

Akhirnya minyak panas yang mendidih mencabik-cabik daging mereka ...

Tiba-tiba tangisan dan teriakan meninggi terdengar kembali. Ternyata suara itu masih dari mahasiswi semula.

Akhirnya mahasiswi tersebut dievakuasi keluar ruang. Matanya mendadak terbuka, pandangannya mengarah ke langit. Tampaknya ia sedang menghadapai sakaratul maut. Mahasiswi yang mengerumuninya sontak menuntunnya mengucap syahadat.

Namun tiada tanggapan. Matanya justru semakin terbelalak. Dalam suasana yang kalut tiba-tiba mulutnya berucap, ”Saya bersaksi kepada kalian bahwa aku melihat tempat tinggalku di neraka.”

Demikianlah,

Betapa agungnya kasih sayang seorang ibu. Ia tak hiraukan keadaan dirinya demi keselamatan buah hatinya. Namun kita membalas air susu dengan air tuba.

Kita memohon kepada Allah agar diberi kesehatan dan kekuatan sehingga dapat mewujudkan pengabdian sejati kepada mama dan ayah.

Allah mengajak manusia untuk memikirkan adzab yang dapat secara tiba-tiba menimpanya



“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!”
(QS. Al-An‘aam, 6: 40)
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikanny
a kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).
(QS. Al-An‘aam, 6: 46)
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang dzalim?”
(QS. Al-An‘aam, 6: 47)“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”
(QS. Yuunus, 10: 50)

“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”
(QS. At-Taubah, 9: 126)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.”
(QS. Al-Qashas, 28: 43)

“Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar, 54: 51)

“Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.
(QS. Al-A‘raaf, 7: 130) .

Orang yang sedang ihram meninggal di Arafah



No. Hadist: 1717

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ أَوْ قَالَ فَأَقْعَصَتْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ أَوْ قَالَ ثَوْبَيْهِ وَلَا تُحَنِّطُوهُ وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُلَبِّي

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari 'Amru bin Dinar dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata; "Ada seorang laki-laki ketika sedang wukuf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di 'Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia terinjak" atau dia Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Hingga orang itu mati seketika". Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mandikanlah dia dengan air dan (air) yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain, Atau kata Beliau: dengan dua helai pakaian (ihram) nya dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti Allah akan membangkitkanny
a pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah".
dikutip dari KITAB SHAHIH BUKHARI

Boleh dengki asal ....

Dari Ibnu Umar RodhiAllohu Anh berkata: Rosululloh Sholallohu'Alaihi wa-Sallam bersabda, "Tidak boleh seseorang iri terhadap orang lain kecuali dalam dua hal yaitu seseorang yang diberi pengertian Al Qur'an lalu ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang-malam dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta lalu ia membelanjakannya siang-malam untuk segala amal kebaikan."
(Bukhari - Muslim)

Hakekat masa seseorang

Seseorang yang sedang menjalani masa mudanya, tidak akan pernah tahu hakekat masa mudanya itu kecuali setelah ia dewasa.

Tatkala dewasa ia ingin kawin. Tatkala perkawinan telah dilalui, anak-anaknya kemudian akan memaksanya untuk tidak lagi bersenang-senang karena ia harus mencari nafkah.

Saat telah uzur dan uban-uban telah bertaburan dikepalanya, ia pun gelisah, karena tak mungkin lagi ada wanita yang mendekatinya.

Demikianlah, banyak orang yang ingin bernikmat-nikmat dengan kemewahan dunia namun terganjal oleh kemiskinannya.

Tatkala ia terus berusaha mencari uang, lewatlah sudah zaman penuh kenikmatan itu. Tatkala telah tiba saatnya untuk menikmati dunia, uban-uban yang sangat ia benci telah bertaburan di atas kepalanya.

Anak-anaknya berbaris menunggu kematiannya untuk menerima harta warisan...

Wajiblah bagi Anda untuk bisa sedapat mungkin puas dengan yang sedikit.

Pesan Bagi Para Hakim



Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu
Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang
sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur
jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan
Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara
memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka
Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu
menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.
Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi
gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong
batang pisang dan diperlakukannya
seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang
pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya.
Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup
banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia
mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka
menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh
bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang
menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir
utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu
Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan
di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan
sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu
Nawas.

"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas
sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan
keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu
Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia
kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu
Nawas di hadirkan di hadapan raja.
Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya
ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada
para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"

Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli
tentara yang bertubuh kekar.
Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang
kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah
mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi
hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian,
aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah
Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan
sudah sering menerima hadiah dari Baginda."
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar
lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu
menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu
saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.
Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan
Harun Al Rasyid.

"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari
mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima
kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah
Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau
telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali
pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah
sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang
itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah
mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka
hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya.
Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya
berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian
seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut
Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga
pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras
orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan
memecat dan menghukum kamu!"

"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.
Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba
diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon
ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan
Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia
tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong
uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan
semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.
Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para
menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai
kadi?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang
semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja
menjadi kadi."
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru
saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain
saja."

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al
Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak
lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda
untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan
dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda
menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan
syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang
lain saja."
Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia
panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati
bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah
telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga
kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau
sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"

"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau
harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."
Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan
masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang
seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah
resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan
mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka
buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan
Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap
memilihmu sebagai Kadi."
Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk
menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau
penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu
perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak
konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali
dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda
Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
oo000oo

Nasehat Kami Untukmu Anak-anakku

Bismillaahir rohmaanir rohiim.

Wahai anak ku, iffah(sikap menjaga diri) adalah termasuk akhlak yang mulia dan sifat orang-orang baik. Oleh karena itu, pengaruhilah diri agar terbiasa berperilaku demikian, sehingga menjadi suatu watak yang tertanam dalam jiwamu. . .

Wahai anak ku. . . .

Manusia mempunyai rasa cinta , jagalah rasa itu dan jangan mudah engkau melafaskan kata itu. . . Ketahuilah cinta yang tertanam di hatimu bukan untk di umbar menurut nafsu. . .

Wahai anak ku. . .

Cinta itu ada tempat nya. Maka bagilah cinta itu menurut porsi nya. . .
Jangan engkau samakan cinta mu kepada sesama melebihi cintamu kepada Alloh Azza wa Jalla. . .
Ayah tidak mengajarkan itu.cintai Alloh dan Rosul baru engkau mencintai orang tua mu. . . Ayah dan ibu akan sedih jika engkau melebih2 kan cintamu kepada manusia hingga engkau lalai kepada Alloh. . . Ingatkah kamu akan kembali kepada-Nya,

Anakku . . . Dengar kan orangtuamu , jika nanti engkau merasakan cinta kepada seseorang dan itu membuat mu sakit hati , terluka. . . Itu bukan cinta tapi setan yang mengajak mu untk merasakan itu , berarti bukan cinta tapi nafsu yg di dalam nya ada setan yang ingin menjerumus kan mu. . .

Cinta itu jika engkau mencintai seseorang dan jika engkau ingat dia engkau akan ingat Alloh. . . Jika engkau rindu dia engkau akan lebih rindu kepada Alloh dan Rosul Nya. . .

Wahai anak ku. . .

Ingat selalu pesan kami. Jangan engkau terlena dengan bujuk rayu setan. . . Ketahuilah bahwa setan itu mencari teman untk di rumahnya nanti yaitu neraka. . . . .

Jadilah anak yang berguna bagi agama itu yang terpenting. . . Kami tidak mengharap engkau kaya ber pangkat punya mobil rumah mewah tapi engkau lalai dan lupa kepada Alloh. . .

Wahai anakku . . .
Kami hanya mengajarkan kesederhana an agar engkau tidak ubud dunia nanti nya. . .

Buat kami tersenyum jika nanti kami sudah tidak ada lagi di dunia ini....

"AFWAN=MAAF??"bukannya afwan jawaban orang yg bilang terimakasih,,yg artinya terimakasih kembali/sama2??!! Nahh Looh..gimana tuuhh??!!

bismillah


Tidak terlintas dalam pikiran saya kenapa saya ingin mengayunkan jemari saya untuk membahas ini,Sekedar uneq-uneq yang mengganjal dihati.Sorry,..maaf kata ini selevel maknanya dengan kata afwan.Mungkin perbedaan subyek yang menggunakan saja. Nah,kata ” afwan ” ini muncul beriringan dengan kata “ikhwan,akhwat,syukron, jazakillah” dsb. Komunitas ” anak mushola“,hehe^_^ paradigma yang sebenernya tiak terlalu urgen untuk dibahas di kalangan masyarakat biasa. Hanya eksistensinya saja yang berbeda..

(zaman baheula),,ana sering denger temen2 klo ngucapin"maaf" itu pke kata AFWAN.
Ana pun terbiasa dgn ucapan itu,beda halnya ketika ana berada di lingkungan orang2 timur tengah,,mereka mengucapkan AFWAN itu klo orang bilang "Terimakasih" di jawabnya afwan.
hmm..sempet bingung bin aneh,,koq orang bilang terimakasih di jawab maaf..hehe..
dan klo orang timur tengah bilang MAAF=ASYIF bukan afwan kayak kita2 yg terbiasa dgn pengucapan "afwan"klo mau minta maaf.
Ana bikin note ini BUKAN NGAJAKIN DEBAT ,cuman ingin share sedikit ilmu yg ana tau.
sebenarnya makna kata dlm bhsa arab bgtu luas dan berbeda2 arti,tergantung penempatannya.Ana gak bilang klo kita GAK BOLEH ngucapin maaf pake kata AFWAN.
Karena sebenernya jika di rinci, kata ‘afwan mempunyai kalimat lengkap Asta’fika yang artinya aku benar-benar minta maaf kepadamu.
LALU KENAPA donk yun..orang arab klo bilang afwan adalah ucapan jawaban dri syukron??mau tau??beneran??hhee..
jadi gini....
Ada yang bisa kita pelajari dari kebiasaan orang Arab ini. Ketika diucapkan padanya kata Syukran maka jawabannya adalah ‘Afwan. Mereka masih merasa perlu meminta maaf ketika sudah berbuat baik kepada seseorang. Mereka merasa bahwa seharusnya masih bisa melakukan lebih daripada itu, namun yang dilakukan hanya sebatas itu. Sehingga masih merasa perlu mengucap kata ‘Afwan.

Bingung ya? Saya juga bingung gimana mau ngejelasinnya…(hehe)
Begitulah kurang lebih konsep syukran dan ‘afwan. Tidak seperti orang Indonesia yang kalo diucapkan padanya terima kasih, maka jawabannya adalah sama-sama. Seolah dia memang pantas untuk mendapatkan ucapan terima kasih itu. Yang dilakukan orang Indonesia ini sama dengan yang dilakukan oleh orang yang menggunakan bahasa Inggris. Thank You, maka jawabannya adalah you’re welcome atau doesn’t mind.

Saya lebih sepakat dengan kebiasaan orang Arab mengenai konsep terima kasih ini.

Satu hal lagi, orang Arab atau orang yang menggunakan bahasa Arab, sangat senang sekali dalam tutur katanya mendoakan orang lain. Misalnya dalam pengumuman hasil ujian. Maka selain Lulus, istilah lainnya adalah bukan Tidak Lulus, melainkan Semoga Allah Mengizinkan di lain waktu.

Sungguh indah sekali jika kita senang menebar doa kepada lawan bicara kita dalam keseharian kita..
LALU setelah muter2 ngomongin afwan mau diambil yg mana niih klo ngucapin maaf..
yaaa..mau MAAF=AFWAN ..mangga wae...teu nanaon..
mau MAAF=ASYIF juga mangga...no problem..hehe

Shalat Jum’at Haruskah dengan 40 Jama’ah?




Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan yang telah lewat bahwa shalat Jum’at disyaratkan dengan berjama’ah di masjid. Sebagian ulama menyaratkan harus minimal 40 jama’ah agar bisa dinyatakan sah. Sebagian lainnya menyatakan dengan jumlah tertentu, 2, 3, 4, 12, dan Imam Ahmad sendiri menyaratkan 50 orang sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni. Saat ini rumaysho.com akan meninjau masalah tersebut secara ringkas. Moga Allah mudahkan.

Shalat Jum’at dengan Berjama’ah

Dipersyaratkan demikian karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat) para ulama. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 202)

Jumlah Jama’ah Jum’at yang Disyaratkan[1]

Menurut madzhab Hanafiyah, jika telah hadir satu jama’ah selain imam, maka sudah terhitung sebagai jama’ah shalat Jum’at. Karena demikianlah minimalnya jamak. Dalil dari pendapat Hanafiyah adalah seruan jama’ dalam ayat,

فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ‌ اللَّـهِ وَذَرُ‌وا الْبَيْعَ

“Maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” (QS. Al Jumu’ah: 9). Seruan dalam ayat ini dengan panggilan jamak. Dan minimal jamak adalah dua orang. Ada pula ulama Hanafiyah yang menyatakan tiga orang selain imam.

Ulama Malikiyyah menyaratkan yang menghadiri Jum’at minimal 12 orang dari orang-orang yang diharuskan menghadirinya. Mereka berdalil dengan hadits Jabir,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas orang.” (HR. Muslim no. 863)

Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang dari yang diwajibkan menghadiri Jum’at. Penulis Al Mughni (2: 171) berkata, “Syarat 40 orang dalam jama’ah Jum’at adalah syarat yang telah masyhur dalam madzhab Hambali. Syarat ini adalah syarat yang diwajibkan mesti ada dan syarat sahnya Jum’at. … Empat puluh orang ini harus ada ketika dua khutbah Jum’at.”

Dalil yang menyatakan harus 40 jama’ah disimpulkan dari perkataan Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

لأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ. قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ.

“As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, “Waktu itu, ada berapa orang?” Dia menjawab, ”Empat puluh.” (HR. Abu Daud no. 1069 dan Ibnu Majah no. 1082. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

Begitu pula ditarik dari hadits Jabir bin ‘Abdillah,

مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِيْ كُلِّ أَرْبَعِينَ فَمَا فَوْقَهَا جُمْعَةٌ

“Telah berlalu sunnah (ajaran Rasul) bahwa setiap empat puluh orang ke atas diwajibkan shalat Jum’at.” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubro 3: 177. Hadits ini dho’if sebagaimana didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul Gholil 603. Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Talkhish Habir 2: 567 berkata bahwa di dalamnya terdapat ‘Abdul ‘Aziz di mana Imam Ahmad berkata bahwa haditsnya dibuang karena ia adalah perowi dusta atau pemalsu hadits. An Nasai berkata bahwa ia tidaklah tsiqoh. Ad Daruquthni berkata bahwa ia adalah munkarul hadits). Kesimpulannya hadits terakhir ini adalah hadits yang lemah (dho’if) sehingga tidak bisa menjadi dalil pendukung.

Sedangkan hadits Ka’ab bin Malik di atas hanya menjelaskan keadaan dan tidak menunjukkan jumlah 40 sebagai syarat. Sehingga pendapat yang rojih (kuat) dalam masalah ini adalah jama’ah shalat Jum’at tidak beda dengan jama’ah shalat lainnya. Artinya, sah dilakukan oleh dua orang atau lebih karena sudah disebut jamak.

Adapun hadits yang menceritakan dengan 12 jama’ah, maka hadits ini tidak dapat dijadikan dalil pembatasan hanya dua belas orang saja karena terjadi tanpa sengaja, dan ada kemungkinan sebagiannya kembali ke masjid setelah menemui mereka.

Adapula pendapat Imam Ahmad yang menyaratkan 50 orang, namun haditsnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan pendukung. Seperti hadits Abu Umamah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَى الْخَمْسِيْنَ جُمْعَةٌ وَلَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ ذَلِكَ

“Diwajibkan Jum’at pada lima puluh orang dan tidak diwajibkan jika kurang dari itu. (HR. Ad Daruquthni dalam sunannya 2: 111. Haditsnya lemah, di sanadnya terdapat Ja’far bin Az Zubair, seorang matruk).

Juga hadits Abu Salamah, ia bertanya kepada Abu Hurairah,

عَلَى كَمْ تَجِبُ الْجُمُعَةُ مِنْ رَجُلٍ ؟ قَالَ : لَمَّا بَلَغَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسِينَ جَمَّعَ بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Berapa jumlah orang yang diwajibkan shalat jama’ah?” Abu Hurairah menjawab, ”Ketika sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah lima puluh, Rasulullah mengadakan shalat Jum’at” (Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 2: 171). Al Baihaqi berkata, ”Telah diriwayatkan dalam permasalahan ini hadits tentang jumlah lima puluh, namun isnadnya tidak shahih.” (Sunan Al Kubra, 3: 255).

Pendapat Terkuat

Perlu diperhatikan bahwa jumlah jama’ah yang menjadi syarat sah Jum’at diperselisihkan oleh para ulama sebagaimana penjelasan di atas. Namun jumlah jamak itu menjadi syarat sah shalat Jum’at berdasarkan ijma’ (kata sepakat ulama) (Lihat Syarh ‘Umdatul Fiqh, Prof. Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, 1: 396). Berapakah minimal jamak? Ada yang mengatakan dua dan mayoritas ulama menyatakan minimal jamak adalah tiga (Lihat catatan kaki Syarh ‘Umdatul Fiqh, 1: 396).

Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Shalat Jum’at adalah seperti shalat jama’ah lainnya. Yang membedakannya adalah adanya khutbah sebelumnya. Selain itu tidak ada dalil yang menyatakan bahwa shalat juma’at itu berbeda. Perkataan ini adalah sanggahan untuk pendapat yang menyatakan bahwa shalat Jum’at disyaratkan dihadiri imam besar, dilakukan di negeri yang memiliki masjid Jaami’, dan dihadiri oleh jumlah jama’ah tertentu. Persyaratan ini tidak memiliki dalil pendukung yang menunjukkan sunnahnya, apalagi wajibnya dan lebih-lebih lagi dinyatakan sebagai syarat. Bahkan jika ada dua orang melakukan shalat Jum’at di suatu tempat yang tidak ada jama’ah lainnya, maka mereka berarti telah memenuhi kewajiban.” (Ad Daroril Mudhiyyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah, 163)

Wallahu a’lam bish showwab. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.



@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 25 Shafar 1433 H

www.rumaysho.com



[1] Sebagian bahasan setelah ini dikembangkan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 202 dan sumber lainnya.

tambahan ilmu dari sahabat fb:
As-syafi'i Ibn Al-malik
.
ღ Teladan Rasulullah SAW, Keluarga & Para Sahabat ღ
☆•*´¨`*•.¸¸.•*´¨`*•.¸¸.•*´¨`*•.¸¸.•☆
★ ☆• Salam Jum'ah Al-Mubarokah •☆★

♥♡♥wa'alaikum salaam warohmatullaahi wabarokaatuh♥♡♥

♥♡♥Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin
Allaahumma Sholli 'alaa sayyidinaa muhammad
Wa'alaa aaliy sayyidinaa muhammad

♥♡♥subahaanallaah...
syukron jazilan atas tag dan bingkisan nya sahabat ku

♥♡♥semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua, terutama buat saya sendiri yg sangat hina di hadapan-Nya, sehingga kita semua mampu berjalan di tempat tujuan akhir kita kelak (Akhirat).

♥♡♥aamiin allaahumma aamiin♥♡♥

jazakullaah khoiran katsiron wabarokallaahumma fiikum wa ihyaakum ajma'iin, salam santun ukhuwah islamiyah

Mengalami musibah



Jika seseorang mengalami sebarang musibah, akibat dari amalannya yang buruk, kemudian dengan sedikit sahaja tumpuan kepada Allah, dan pengakuan ke atas kelemahannya, maka kemurahan Allah akan bersamanya dan musibah tersebut dijadikan asbab kebaikan yang besar bagi dirinya.

Negeriku Menangis di awal tahun 2014

indonesia negeriku tercinta,
kini engkau berontak,
kau menangis ,tak hanya ibukota tapi sampai ke kota2 kecilmu kau buat menangis....
apakah engkau telah bosan melihat tingkah manusia yang sudah lalai akan perintahNya...
apakah engkau bosan melihat para pemimpin yang hilang harga dirinya?
para pejabat yang banyak di laknat rakyat?
jangan kau menangis negeriku....
tersenyumlah jangan terus kau tumpahkan air matamu....

jika kau bosan dengan manusia yang tak takut dosa,cukuplah mereka yang kau lenyapkan ,janganlah kau sama ratakan....

oooh negeriku...

ENGGAN BERJILBAB ATAU MEMANG TIDAK NIAT ?




Berjilbab?....enggak dulu ah belum siap,mungkin itu salah satu dr alasan beberapa ukthi......
Apa yang tidak siap..mungkin soal kesiapan mental anda hijrah dari tidak berjilbab menjadi berjilbab.nunggu udah jadi ibu ibu...?

Jadinya suami cuma kebagian sisa ya...?


Perhatikanlah saudaraku,mungkin adalah pernyataan yang menjadi alasanmu juga.

“.. ah, yang terpenting bagiku adalah hati, bukan penampilan! Apakah berjilbab ataukah tidak”

Betulkah begitu saudaraku? Betulkah bahwa penampilan atau hal yang tampak merupakan sesuatu yang kurang begitu penting bagimu?

Baiklah, bantulah dirimu untuk mengingat apa yang telah kau lakukan sejak pagi tadi. Bukankah pagi tadi kau membersihkan tubuhmu, memakai pakaian bagus, lalu memoles wajahmu dengan blush on dan lipstick berwarna peach, kemudian memberikan sedikit hair mask pada rambutmu, dan tak lupa menyemprotkan parfum lalu keluar menuju kampus atau tempat kerjamu. Kau akan pergi setelah menilai penampilanmu oke. Bukankah hal tersebut menandakan bahwa sebenarnya penampilan teramat penting bagimu?

Ok, aku anggap kau telah sependapat denganku, bahwa baiknya hati sangat penting. Namun penampilan zahir (tampak) pun sangatlah penting.

Selanjutnya aku kutipkan padamu sebuah hadits yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam,
“Ingatlah bahwa sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging apabila baik gumpalan tersebut maka baiklah jasad tersebut dan sebalikya apabila rusak maka rusaklah jasad tersebut ingatlah bahwa itu adalah hati”

Perhatikanlah wahai saudaraku..
Bahwa ternyata baiknya hati dan baiknya jasad (penampilan) berbanding lurus, tidak mungkin kau mengambil salah satu dan mengenyampingkan yang lainnya. Jadi jika hatimu baik, maka akan baik pula jasad atau penampilanmu. Dan menutup auratmu dengan mengharap ridha Allah merupakan sebuah amalan zahir (tampak) yang sangat agung dan merupakan salah satu upaya untuk memperbagus penampilanmu. Tentunya merupakan sebuah kewajiban dari Rabb-mu Yang Maha Kuasa tanpa bisa kau negosiasikan kembali.

Kesimpulannya, tidak mungkin kau melakukan amalan batin sedang tidak diiringi dengan amalan zahir. Dan sesungguhnya seorang yang jujur dalam keimanannya untuk memperbaiki hatinya, pastilah tidak akan melewatkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah yakni berhijab dan memperbaiki jasadnya (amalan zahir).

"Sakit Itu Ibadah "



Ketika sakit menimpa, kita sering panik. Dalam benak kita hanya terpikirkan obat, dokter, atau klinik. Pikiran itu tidak salah karena obat dan dokter adalah proses ikhtiar. Yang harus kita pahami betul bahwa Alllah SWT. yang menyembuhkan kita bukan dokter atau obat.

Ilmu dokter adalah sangat terbatas, bagaikan setetes air dalam samudera dibandingkan dengan ilmu Allah. DIA menguji manusia dengan sakit dan bersamaan dengan itu pula tentu bertaburan hikmah didalamnya.

Dibalik kesusahan itu ada hikmahnya sebagaimana firman Allah SWT. berikut :

“Karena sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Al Insyirah /94 ayat 5 dan 6)

Ketidakpahaman terhadap hakikat sakit ini, sering kita panic, bersikap reaktif, emosional, menyalahkan kondisi bahkan menyalahkan Sang Pencipta. Padahal sakit itu juga merupakan ibadah. Bukalah akal hati kita, berdo’alah, berikhtiarlah dan tabahlah menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan itu, karena kehidupan ini memang didesain oleh Allah sebagai tempat ujian.

Allah menguji keimanan dan kesabaran manusia baik ketika sakit atau sehat untuk beriman dengan benar yang pembuktian keimanannnya diwujudkan dengan mengerjakan amal-amal sholeh.

Salah satu amal sholeh ketika sedang sakit adalah tabah dan gigih dalam usaha untuk berobat dan mencari kesembuhan. Oleh karena itu, mari kita sikapi dengan baik bila atau ada anggota keluarga yang menderita sakit untuk senantiasa mawas diri terhadap kesalahan untuk kita perbaiki.

Apapun jenis sakit yang diderita oleh orang beriman termasuk sakit karena “tertusuk” duri, apabila dijalani dengan sabar dalam menyikapinya, dan gigih dalam usaha pengobatannya dan diawali dengan mawas diriterhadap keslahan-kesala
han kita, bisa menggugurkan dosa sebagaimana hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.

“Tidak ada musibah yang menimpa seperti keletihan, kelesuan, sakit, duka, susah atau gangguan sekedar tusukan duri melainkan Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (Bukhari – Muslim)

Pendidikan yang utama Bagi Anak



Di jaman penuh fitnah ini, sering kita dapati orangtua yang tak bisa membedakan mana pendidikan utama dan mana pendidikan yang sampingan. Umumnya orangtua terkecekoh dengan angka-angka, nilai akademik dan janji-janji artificial. Banyak orangtua mengantarkan anaknya les Inggris, matematika dengan harapan IQ nya cemerlang dan indeks prestasinya terdongkrak. Beberapa orangtua lain; mengikutkan anak-anak mereka ikut les balet, piano, dll sementara di sisi lain mereka lupa pendidikan tauhid. Bagaimana anak-anaknya mengenal sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Bagaimana agar anaknya kelak memiliki rasa malu, menjaga aurat, membatasi lawan jenis dll. Yang terjadi justru kebanyakan orantua bangga anak-anak putri mereka dijemput pacarnya. Seolah jika anak mereka tak punya pacar, mereka khawatir anak perempuannya tidak laku.

Apakah semua kursus-kursus itu dilarang? Tentu saja tidak. Harusnya mana yang lebih diutamakan, tauhid mereka atau sekedar keahlian mereka yang bisa diajarkan beberapa minggu saja.

Padahal, jauh-jauh hari, Allah memperingatkan para orangtua agar menjaga anak-anak mereka. Sebab dari merekalah kita bisa akan ikut terseret ke neraka janannam.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-N
ya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6)

Imam Al Ghazali mengatakan, pendidikan utama bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Karena di situlah pondasi utama bagi pendidikan keluarga. Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca al-Qur’an.

“Hendaklah anak kecil diajari al-Qur’an hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam,” ujar Al-Ghazali. Baru setelah itu diajarkan pada mereka pengetahuan umum.

Yang terjadi banyak orantua lebih sedih anaknya tak bisa matematik, Inggris atau IPA namun mereka tenang-tenang saja ketika anaknya tak mengerti adab, hukum Islam. Bahkan banyak orangtua tidak sedih ketika anak-anak perempuan mereka pergi –bahkan sampai pulang malam—dengan teman-teman prianya. Padahal dari situlah kehancuran masa depan anak-anak perempuan mereka bermula.Naudzubillah...

semuga kita terhindar dari pikiran yang sangat keliru itu kerna kita adalah muslim...

Jika terasa sulit berHIJAB, begitulah UJIANnya..



"Apakah menusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan : “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi ?" (QS.Alankabut : 2)

kesulitan itu membuktikan seberapa layak kita dikatakan beriman.. semoga ALLAH selalu memudahkan langkah kita dan menjadikan kita kedalam golongan orang-orang beriman, aamiin ^^

Meraih Surga dengan Meninggalkan Dengki.


Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh.


Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, ‘Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga’. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang datang dengan bekas air wudhu masih mengalir di jenggotnya, dan tangan kirinya memegang terompahnya.”

“Keesokan hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu lagi, persis seperti kedatangannya pertama kali. Di hari ketiga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian lagi, dan kembali yang datang adalah laki-laki itu lagi persis kejadian pertama. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak, Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash membuntuti laki-laki itu sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata kepadanya, ‘Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau mengizinkan, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari’. Dia menjawab, ‘Ya, boleh’.”

Anas berkata, “Abdullah menceritakan bahwa ia telah menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Dia melihat orang itu sama sekali tidak bangun malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas ranjangnya, dia selalu membaca zikir dan takbir sampai ia bangun untuk salat subuh. Selain itu–kata Abdullah–aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik.”

“Setelah tiga malam berlalu dan hampir saja aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga, dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka, aku pun ingin bersamamu agar aku bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya yang membuatmu bisa mencapai apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Maka dia menjawab, ‘Aku tidak mempunyai amal kecuali yang telah engkau lihat sendiri’.

“Ketika aku hendak pulang, dia memanggilku, lalu berkata, ‘Benar amalku hanya yang kau lihat, hanya saja aku tidak mendapati pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah Subhaanahu wa Ta’ala kepadanya’. Maka Abdullah bin ‘Amr berkata, ‘Inilah amal yang telah mengangkatmu pada derajat yang tinggi dan inilah yang berat kami lakukan’.”

Sumber: Musnad Ahmad 3/166

Nabi saw Tidak Dapat Tidur Karena Sebutir Kurma. . .


Pada suatu ketika , Nabi saw tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam sehingga berkali-kali beliau mengubah posisi tidurnya. Maka istri beliau bertanya "Mengapa engkau tidak dapat tidur ya Rosululloh ?" Beliau saw bersabda :"Tadi ada sebuah kurma yang tergeletak. Karena khawatir kurma itu terbuang sia2, lalu saya memakannya. Sekarang saya merasa khawatir jangan2 kurma itu di kirim ke sini untk di sedekahkan."

Faedah :

Kemungkinan besar kurma itu memang milik Nabi saw. Tetapi karena sedekah biasanya di berikan melalui Nabi saw. Maka perbuatan beliau itu telah menimbulkan keraguan di dalam hati sehingga beliau sulit untk memejamkan mata. Beliau khawatir yang termakan itu adalah harta sedekah. Demikianlah Akhlak pemimpin kita. Hanya karena sesuatu yang sepele , beliau tidak dapat tidur sepanjang malam. Lalu, bagaimanakah dengan keadaan kita sebagai pengikutnya ? Kita malah menyepelekan hal yang sangat kecil bagi kita padahal mungkin itu sangat besar buat orang lain. Di antara kita ada yang memakan suap, sogok, riba, hasil curian, merampok, menipu, dan perbuatan lain yang di jarang agama tanpa rasa takut dan khawatir. Padahal kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw. . . Tidak malu mengaku umatnya tapi tiap hari rajin melakukan kemaksiatan. . .

Jagalah Perkataan Buruk

Tidak sedikit orang yang senantiasa menjaga diri dari perbuatan-perbu
atan keji, namun mulutnya suka menyakiti dan menodai kehormatan orang lain, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Kau Akan Bersama Dengan Yang Kau Cintai



Pada suatu hari, salah seorang pengikut Nabi Isa as berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang memintanya untuk melakukan mukjizat; menghidupkan orang mati, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Isa.

Pergilah mereka ke pemakaman dan berhenti di sebuah kuburan. Santri Nabi Isa itu lalu berdoa kepada Tuhan agar mayat dalam kuburan tersebut dihidupkan kembali. Mayat itu bangkit dari kuburnya, melihat ke sekeliling, dan berteriak-teria
k, ?Keledaiku! Mana keledaiku?? Ternyata semasa hidupnya, orang itu sangat miskin dan harta satu-satunya yang paling ia cintai adalah keledainya.

Santri Nabi Isa itu lalu berkata kepada orang-orang yang menyertainya, Engkau pun kelak seperti itu. Apa yang kau cintai akan menentukan apa yang akan terjadi denganmu saat engkau dibangkitkan. Anta ma'a man ahbabta. Di hari akhir nanti, engkau akan bersama dengan yang kaucintai.

Bersabar Menghadapi Dugaan Hidup



setiap kejadian yang berlaku dimuka bumi dan kepada diri manusia semuanya mengandung hikmah dan Allah SWT maha mengetahui setiap apa yang di ciptakan dan di takdirkan-Nya

Manusia perlu bersabar dan bertenang dalam mencari kebaikan dan hikmah di balik setiap pristiwa yang berlaku dari sinilah akan melahirkan jiwa yang redha dengan qada' dan qadar dan bersyukur di atas nikmah dan rahmat dari pada Allah SWT
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu ,padahal ia amat buruk bagimu ,Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui".(QS
. Al-Baqarah: 216)

Sesunggunya suatu perkara itu hakikat, sebenarnya Allah maha mengetahui baik atau buruk suatu perkara itu adalah di dalam ilmu Allah, yakinilah jika sesuatu do'a atau hajat tidak di tunaikan-Nya dan sesuatu yang lebih baik akan di beri Allah SWT.
Sebagai pengganti apa yang kita hajatkan,
jika tidak dapat di dunia ,nanti dihari akhirat dia akam memeberkanya kepada kita ,oleh karena itu erbaik sangkalah kepada Allah SWT.
Allah Berfirman:
" Allah tidak membebabi seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (QS. Al-Baqarah : 286)

Allah SWT maha mengetahui kemampuan kita sebagai hambanya, oleh karena itu apa saja yang berlaku keatas diri kita sebenarnya masih dibawah kemampuan kita untuk menghadapi nya.

Anggaplah sesuatu ujian itu dengan fikiran yang positif dan cobalah renungkan dan lihatlah bahwa masih terdapat orang lain lebih berat menghadapi ujian daripada kita , maka dengan itu beban yang kita tanggung akan terasa menjadi lebih ringan.

Janganlah merasa kecewa karena kita adalah orang-orang yang beriman.
Allah berfirman:
" janganlah kamu bersifat lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati ,padahal kamu lah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman"
(QS. Ali-Imran:139)

Yakinlah sifat orang mukmin tidak akan merasa kecewa atau putus ada karena orang mukmin akan senantiasa redha dengan qada' dan qadar , jika kita merasai kita mulia di sisi Allah SWT. Karena kita orang yang beriman dan bertaqwa , maka akan hilang perasaan negatif ini.
Sesungguhnya apa yang hilang dari kita itu bukanlah jodoh kita, bukalah milik kita,
berdo'a lah kepada Allah SWT semoga di pertemukan kita denga orang yang lebih baik dan soleh dan akan kekal
Insya Allah Hingga ke surga.....

jadilah engkau laksana matahari

Wahai saudariku...
Janganlah engkau mau di pandang orang laksana bulan yang bisa dipandang setiap mata ,
Tetapi jadilah wanitalaksana matahari yang dengan silaunya bisa membuat orang tertunduk sebelum melihatnya.

Saudariku jaga Perhiasanmu





Engkau wahai wanita...
Engkau boleh bersolek berfoto ria dan memamerkan kecantikanmu di khalayak ramai...
Engkau juga boleh berbangga kerna di anugerahi kecantikan yang berlebih dari saudara lainnya.
tapi ....
Engkau juga perlu ingat itu hanya sesaat saja.
Engkau harus ingat sayang diri bukan berarti memamerkan diri.
Engkau harus ingat jika :
Engkau anak gadis apakah Engkau tidak kasihan kepada ayahmu ,suatu kebanggaan kah membawa ayahmu ke dalam neraka...
Engkau seorang istri,sukakah suamimu terus mempersiapkan batu bata di neraka....

Sungguh agama islam itu sangat indah,janganlah
Engkau ikuti perilaku orang2 yang di laknati para malaikat dan jangan pula ikuti orang2 yang terang2an memusuhi Alloh...

Bagi kami (LELAKI) engkau laksana BARA API ,panas dalam genggaman tapi membakar segala yang ada jika di lepaskan....

Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Penyesalan yang paling besar yang aku alami adalah ketika matahari telah terbenam, karena pada saat itu umurku telah berkurang namun kebaikan tidak bertambah dalam diriku.”

Kita menyaksikan ada orang yang dikarunia harta yang banyak, akan tetapi, kerjanya hanya duduk-duduk di pasar sepanjang hari sambil melihat manusia yang lalu-lalang.
Sementara itu ada orang yang kehidupan susah, akan tetapi hari-harinya diisi dengan bermain catur, dan obrolan tentang sepakbola.
Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Penyesalan yang paling besar yang aku alami adalah ketika matahari telah terbenam, karena pada saat itu umurku telah berkurang namun kebaikan tidak bertambah dalam diriku.”

(orang-orang kafir)Surat al-kafirun ayat 1-6 yang terdiri dari 6 ayat :di turunkan di mekkah surat ke 103 Al'ash Musa


بسم الله الرحمن الرحيم


1. Katakanlah: (wahai Muhammad) "hai orang-orang kafir"!

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah

3. Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) yang aku sembah

4. Dan aku tidak akan beribadah secara kamu beribadah

5. Dan kamu pula tidak mahu beribadah secara aku beribadah

6. Bagi kamu agama kamu
dan bagi ku agama ku

Menuai Pahala dan Menghapus Dosa




Dalam kehidupan yang serba mencabar kita seakan lelah mencari kebaikan untuk bekalan nanti namun kita sering berhadapan dengan seribu satu ujian dan dugaan.
Adakala kita kalah dan tewas kerana mudah tunduk atas tuntunan nafsu dah hasutan iblis, akan tetapi jika kita ada usaha untuk mencari sedikit ilmu bagi memperbaiki kelemahan dan kelalaian kita InsyaAlloh peluang tetap ada, yang terpenting jangan mudah putus asa dan mengalah. belajar istiqamah dalam mencari kebaikan kerna Alloh Azza wa Jalla amat menyayangi hambaNya yang selalu sujud kepada Nya.

Tujuan utama yang sangat penting bagi setiap muslim adalah apabila meninggalkan dunia fana ini dengan keampunan Alloh dari segala dosa sehingga Alloh tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam syurga kenikmatan, hidup kekal didalamnya selama-lamanya.
Beberapa amalan yang dapat menghapuskan dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadis-hadis yang sahih.

Kita bermohon kepada Alloh yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

1. TAUBAT - "Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, nescaya Alloh akan mengampuninya" HR. Muslim. "Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama roh belum sampai ke kerongkongnya".

2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU - "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Alloh memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju syurga" HR. Muslim.

3. SENANTIASA MENGINGAT ALLOH - "Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, lagi suci disisi Alloh, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: "Tentu", lalu beliau bersabda: ( Zikir kepada Alloh)" HR. At Turmidzi.

4. BERBUAT YANG MAKRUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN - "Setiap yang makruf adalah sedakah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya" HR. Bukhari.

5. BERDAKWAH KEJALAN ALLOH - "Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" HR. Muslim.

6. MENGAJAK YANG MAKRUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR - "Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman" HR. Muslim.

7. MEMBACA AL QUR`AN - "Bacalah Al Qur`an, kerana sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya" HR. Muslim.

8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA - "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya" HR. Bukhari.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.....

Jangan sampai salah pilih ya

Sahabatku

Ternyata, agama lain juga berkerudung loh.
Yang mana identitas kita sebagai muslimah ??
Jangan sampai salah pilih ya

Cara berpikir ABG perempuan sekarang, mungkinkah? ~



Ehm, tes tes...,
Assalaamu'alaykum. Maap2 ye, kalau tersinggung

Hal yang masih jadi misteri dan belum bisa dipelajari oleh ilmu pengetahuan adalah "Cara Berfikir Perempuan"

Jarang-jarang saya melihat perempuan yang sempurna hijabnya. Kebanyakan dari mereka sekarang memakai celana JEANS yang ngetat, alih-alih ingin terlihat gaul dan gak ketinggalan zaman, Ibadah (menutup aurat) yang hukumnya wajib bagi setiap penganut Agama Islam, telah dibeli oleh rasa gengsi, katanya sih kalo gak gitu gak Gauulll.

"Ah, sepertinya mereka sudah tergoda oleh bisikan JEANS KAFIR"

Katanya udah tau aurat Wanita itu darimana sampai mana tapi kok masih diliatin. Apalagi perempuan zaman sekarang, Gigi saja dipagari, tapi paha dibagi-bagi.

"emang rela dibagi-bagi?" Hehe, Astaghfirulloh.

Kebanyakan dari mereka sih pada nongkrong bareng di mall. Dan bener aja, banyak mata yang melihat mereka dengan syahwat. Ya gimana nggak, mereka pada pakai rok mini, hot pants, celana panjang ngetat, dan banyak lagi pakaian minimalis gitu. Tapi anehnya, perempuan-perempuan itu pada marah kalo di godain.
Si cowok pada di damprat dengan bahasa kasar, dan dikatain nggak punya etika.

Hmm.., Kok buru-buru nyalahin cowok ya?
Gimana, ya. Bukan maksud belain pihak cowok nih, tapi prinsipnya si cowok tergoda karena ada yang menggoda, kan? Bukankah sesuatu dijual untuk dibeli?

Kalau gak mau digoda, ya tutup dong auratnya. Tutup yang bener. Paling-paling cowok yang niatnya godain jadi do'ain.

"Assalaamu'alaykum, Bu Hajah" Tuh dido'ain, kan?

Jadi jangan marah kalau ada laki-laki yang menggoda, karena yang dibagi-bagi biasanya menjadi milik bersama, kan? *eh, Astaghfirulloh

Nah, untuk para seleberitis, udah gak aneh lagi menjelang Bulan Ramadhan banyak yang tiba-tiba berjilbab. Alhamdulillah deehh. Tapi ini kan soal ibadah, hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, gak etis kan kalau menutup aurat ada musim-musimnya apalagi disebut sebagai Pencitraan.

Banyak yang protes juga, gimana negara ini mau maju kalau masalah rok aja masih dibahas? Gimana negara ini mau makmur kalau masalah berpakaian aja masih dipermasalahkan?.

Weitss jangan salah, Justru karena berpakaian yang bermasalah itulah, pikiran orang-orang yang nggak punya iman ikut bermasalah. Gimana nggak, yang namanya cowok mah semua juga manusia. Nah kalo kamu suguhin tontonan nggak jelas, ya jelaslah mereka jadi nggak jelas.

"Annisaa u immadul bilaad" Wanita adalah tiangnya negara. Hancur wanitanya, hancur juga negaranya. Masuk akal sekali.

Udah banyak yang bisa kita lihat contohnya loh. Bill Clinton, salah satu presiden amerika itu, akhirnya nyaris dibuat tumbang dari kursi Kepresidenan, karena wanita muda bernama Monica Lewinsky. Selain itu Silvio Berlusconi, orang terkaya ketiga di Italy plus Perdana Menteri Italia, juga ikut tercoreng namanya setelah terlibat Affair dengan sejumlah cewek model, artis-artis muda, presenter televisi, dll.
Lain lagi cerita dari Eliot Spitzer. Si Gubenur New York yang sangat pandai berpidato ini, mendengung-dengungkan akan menindak para pelaku korupsi, dan berjanji akan membangun reputasi yang baik serta menjaga kesucian keluarga, tapi ternyata sodara-sodara, karirnya selesai setelah terjegal skandal prostitusi. Dan masih banyak lagi, dan masih banyak lagi contohnya, yang nggak mungkin disebutkan satu persatu.

MasyaAllah, ternyata tepat banget kan yang dipesankan oleh Rasulullah SAW, 14 abad lalu. Beliau, Rasul SAW bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita.” (HR Bukhari dan Muslim).

Disisi lain, wanita -minoritas- yang tak pernah memperlihatkan yang jadi aib baginya dan selalu menutup -apa-yang-menjadi- auratnya, terlihat sungguh menawan. Kenapa? Karena mereka merasa dirinya BERHARGA, maka mereka patut untuk dihargai. Mereka mahal. Mereka menghargai diri mereka sendiri sebagai seorang Muslimah. Hamba Allah subhanahu wata'ala yang taat.

"Belajarlah menghargai jika ingin dihargai"

Tapi gak banyak yang seperti itu sekarang. Kebanyakan, wanita yang ingin dihargai hanya sekedar memasang tarif yang bisa dibeli dengan rayuan maut laki-laki yang membuat hati wanita melayang-layang. *tolong maafkan kami.

Untukmu yang Sedang Dalam Penantian




Kepada para wanita yang belum menikah termasuk ana heheehe nyengir sendiri sbelum menulis
, penantian adalah hal yang pasti dilalui, entah itu lama atau sebentar. Dalam masa penantian itu, ada banyak hal yang mencuat dalam benak dan perjalanannya. Kebosanan, putus asa, atau bahkan kesabaran dan tawakal yang mengiringi setiap detiknya. Jenuh, kadang itu yang terlontar, pun tak ingin pula jika moment penentu masa depan kita itu juga kita lalui dengan sembarangan orang walaupun terkadang banyak faktor yang membuat kita harus terburu-buru untuk segera menikah. Tuntutan umur, keluarga, atau bahkan “intimidasi” adat dan tradisi. Akhirnya, tidak sedikit muslimah yang terpaksa menikah dengan orang yang tidak diinginkan, entah karena akhlaknya atau alasan lainnya.

Tentang penantian, sepertinya ada sebuah lirik seorang penyair yang bisa kita toleh, bisa menjadi masukan... Ebiet G.A.D. Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan dalam masa penantian: menoreh manfaat atau merugikan diri.

Menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan, banyak waktu kita miliki untuk berfikir
Sendiri seringkali sangat kita perlukan, meneropong masa silam yang telah terlewat
Mungkin ada apa yang kita cari, masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
Mungkin ada apa yang kita kejar, justru tak terjamah saat kita melintas

Jika kita manfaatkan masa-masa penantian itu dengan positif, banyak hal yang bisa kita lakukan, entah untuk muhasabah atau pun meng-upgrade diri agar lebih berkualitas. Begitu pun sebaliknya, seperti pada syair selanjutnya.

Menunggu lebih terasa beban yang membosankan, banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
Sendiri seringkali sangat menyakitkan, meneropong masa depan dari sisi yang gelap
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita

Jika kita manfaat waktu penantian itu dengan hal yang negatif, bisa jadi kita justru terkalahkan oleh waktu itu sendiri.

Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
Bermain dalam dada, setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini

Di akhir lirik tersebut ada pesan terakhir yang diselipkan tentang semangat masa silam yang mengantarkan kita menjadi seperti sekarang, untuk tak membuang semangat itu sehingga kita tetap bertahan menjadi lebih baik hingga hari ini.

Bait syair Ebit mungkin memberi inspirasi bagi kita. Namun ada inspirasi yang jauh lebih hebat untuk menjadi pegangan kita dalam penantian. Inspirasi itu tidak lain adalah surat cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-hambaNya yang beriman :

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang
(di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49)

Dalam ayat tersebut, Allah mengarahkan Rasulullah dan kaum mukminin untuk bersabar. “Yakni bersabarlah terhadap gangguan mereka (orang-orang jahiliyah, kafir quraisy)” terang Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an merinci lebih luas: “bersabar dalam menghadapi kesulitan, pendustaan dan cacian. Juga bersabar di jalan dakwah yang berat lagi panjang seraya menyerahkan persoalan kepada keputusan Allah”

Kata-kata Sayyid Quthb pada kalimat terakhir itulah yang perlu digarisbawahi dalam mengambil inspirasi penantian dari ayat ini: bersabarlah seraya menyerahkan persoalan kepada Allah. Sabar dan tawakal.

Langkah penantian seperti itulah yang dicontohkan Fatimah. Sebenarnya, Fatimah mencintai Ali. Tetapi ia diam. Ia tak pernah mengatakannya, juga tak pernah menjadikan alasan itu untuk menolak lelaki shalih yang lebih dulu datang melamarnya. Sebab ia tak tahu ketentuan Allah kelak seperti apa.

Jika kemudian Abu Bakar melamar Fatimah dan ditolak, Umar melamar juga ditolak, yang menolak adalah Rasulullah, bukan Fatimah. Sampai kemudian ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah menyetujuinya: ahlan wa sahlan.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” kata Fatimah kepada Ali setelah keduanya menjadi suami istri.
“Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Ali balik bertanya. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari istri tercinta.
“Ya, karena pemuda itu adalah dirimu” jawab Fatimah sambil tersenyum.

Bisakah kita seperti Fatimah? Merangkai 3 hal dalam masa penantian, seperti petunjuk Allah dalam ayat di atas: bersabar, bertasbih, dan shalat malam.

Pacaran, Couple-an, Kakak Adek-an?





“Bukan pacaran kok Ust…” kata salah seorang santriwati dalam sebuah sidang mahkamah santri.
“Lha kalau gitu namanya apa dek?” tanya saya. Santriwati tersebut diam. Kamipun juga diam menunggu jawabannya.
“Couple, Ust” jawabnya. Saya dan yang lainnya langsung tertawa mendengar jawaban santriwati tersebut.
“Lha, apa bedanya couple sama pacaran?” tanya salah seorang ustadz.
“Beda Ust.…”
“Iya, bedanya apa?”
“Kalau couple itu suka sama suka tapi ga sampai yang kayak gitu-gitu,” sontak kami langsung ketawa lagi mendengar jawaban santriwati tersebut. Ada-ada saja. Pikir kami.

Lain lagi dengan santriwati yang ini.
“Kita ndak pacaran kok Ust”
“Lha terus apa? TTM-an? apa itu namanya couple-an? Atau, suami istri?"
“Nggak kok Ust, kita cuman kakak adek-an”
“Lha kok bisa?”
“Iya, soalnya usianya dia (yang ikhwan) lebih muda dari aku”

Ada-ada saja. Entahlah. Mungkin itu bahasa halus dari kata “pacaran”. Yang dipakai remaja, bahkan diantara kita, sebagai upaya untuk melegalkan hubungan yang tak semestinya dilakukan oleh lawan jenis yang bukan muhrim.

Istilah pacaran sendiri lahir dari orang Indonesia. Yang katanya sebagai upaya saling mengenal sebelum melangkah kejenjang pernikahan. Sedangkan kalau didunia barat dikenal dengan istilah “my boy” atau “my girl” yang artinya, menurut buku Fikih Gaul terbitan Syamil, laki-laki atau perempuan. Kalau yang ini lebih parah lagi, karena ketika seorang laki-laki mengatakan “Do You want to be my girl?” maka ketika si perempuan menjawab “yes” berarti dia sendiri telah merelakan dirinya untuk menjadi pelampiasan nafsu dari silaki-laki tersebut. Karena kata “my girl” di sini bukan seperti gaya pacarannya orang Indonesia yang kadang masih menjaga nilai-nilai "kesusilaan". Namun kata my girl disni berarti gadisku yang berhak atas hubungan layaknya suami dan istri.

Sedangkan kata couple, TTM, kakak adek-an sendiri menurut saya cuman cabang-cabang dari kata “pacaran”. Couple, kalau diartikan secara harfiah berarti pasangan. Entah apapun itu bentuknya. Bisa pasangan sepatu, pasangan kaos, pasangan sandal (lho eh, bukan itu maksudnya.. hehe). Maksud saya sepasang manusia.

Pernah saya jalan-jalan ke sekitar Malioboro. Seorang penjual menawarkan kaos kepada saya. “Mau yang biasa apa yang couple mbk?” tanya bapak itu sambil memperlihatkan sederetan kaos Dagadu-nya. Ada yang satu jenis gambar, dan ada yang “couple” dengan dua kaos satu gambar yang bersambung. Untuk yang laki-laki bentuk kaosnya lebih gedhe, sedang untuk yang perempuan bentuknya lebih kecil dan lebih modis. Lantas apa hubungannya “kaos couple” sama kata “couple” itu sendiri? Ya biasanya kan kalau sudah sepasang kan kompak. Termasuk kompak dalam memakai kaos. Hehe.

Sebenarnya baik couple maupun kakak adek’an itu hanya merupakan kata lain untuk melegalkan hubungan lawan jenis yang jelas-jelas sudah diperintahkan Allah untuk dijauhi. Apapun bahasanya tetap saja ada rasa suka sama suka, tetep ada kata “aku suka kamu”. Meskipun tidak ada kata “maukah kamu menjadi pacarku”. Tapi diganti gini, “maukah kamu jadi couple;-ku?” atau “kita kakak adek-an saja ya”. Dan dalam hubungannya tetap seperti orang pacaran. Sms-an, ketemuan, saling ngasih hadiah, dan seterusnya. Jadinya sama saja kan?

Sedangkan TTM-an lebih parah lagi, dia bukan pacaran, bukan couple-an tapi bermesraan. Baik lewat sms, fb, atau secara fisik (haduuh, naudzu billah). Katanya sih teman biasa, tapi bahasa sms-nya “lagi ngapain kamu beb?” (emang bebek? Hehe)

Saudaraku… sebenarnya apapun bentuknya itu. Entah itu pacaran, couple-an, TTM-an, dan sejenisnya adalah sebuah hubungan yang dilarang oleh Allah. Karena dalam hubungan ini jelas tak luput dari zina baik itu hati, zina mata, zina telinga, dan zina secara fisik.

Zina hati yaitu ketika kita terus memikirkan si dia yang dapat melalaikan kita dari mengingat Allah. Kalau dalam lagunya duo maya gini, “aku mau makan, kuingat kamu, aku mau tidur kuingat kamu…” Lha kalau kayak gini, kapan ingat Allah?

Yang kedua, zina mata. Zina mata terjadi tatkala saling bertemu. Saling pandang, atau terus melihat foto si dia. Padahal dalam hadits Rasulullah mengatakan “Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim). Mata yang seharusnya kita pakai untuk melihat ayat Al-Qur'an eh malah digunakan untuk ngeliatin foto si dia terus, atau mantengin fb buat mantau aktivitasnya si dia, hehe.

Yang ketiga, zina telinga. Zina telinga ini terjadi ketika saling ngobrol, atau saling teleponan. Dan yang terakhir zina secara fisik. Seperti pegangan tangan sampai berlanjut entah kemana.

Saudaraku masih ingatkah akan ayat ini? “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu masuk perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’ : 32). Dalam ayat tersebut dijelaskan, mendekati saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan. Jadi apapun itu namanya pacaran, couple-an, kakak adekan, TTM-an, semuanya hanya upaya melegalkan hubungan lawan jenis yang menjerumuskan kita kedalam lembah perzinaan. Selain itu keduanya juga akan rugi waktu, uang, pikiran dan tenaga. Dan masih banyak mudlarat lain yang disebabkan oleh pacaran. Wallahu a’lam bish shawab.

## RENUNGAN AKHIR TAHUN ##



Kita sudah relatif jauh mengarungi samudera kehidupan. Banyak yang sudah kita lihat dan raih. Tapi masih banyak yang kita keluhkan.

Mari kita berhenti sejenak. Bukalah kembali peta perjalanan hidup. Lihatlah berapa jauh jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang harus kita lalui.

Tak lama lagi, episode kehidupan yang kita lakoni di dunia akan segera berakhir. Kita semua berharap agar Allah menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah.

Persoalannya adalah, amal shaleh apa yang dapat kita jadikan bekal menuju hari esok??

Keterperdayaan terbesar kita adalah terus-menerus melakukan dosa karena memiliki harapan akan ampunan Allah. Ini adalah kesalahan besar. Sebab selain menjanjikan ampunan, Allah juga mengancam dengan azab-Nya yang pedih, sebagaimana firman-Nya,

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku,
bahwa Akulah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Al-Hijr [15]: 49-50)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.” (Al-Jasiyah [45]: 21)

Yakni orang-orang yang melakukan dosa dan amalan tercela menyangka kelak di akhirat mereka disamakan dengan orang-orang yang beramal shaleh! Tidak mungkin! Buruk sekali apa yang mereka sangka itu.

Ma’ruf al-Karkhi berkata, “Harapanmu terhadap rahmat Dzat yang tidak engkau taati adalah sebuah kebodohan.”

Disisi lain kita merasa kagum dan bangga dengan ibadah yang telah kita lakukan. Padahal orang-orang shaleh selama-lamanya selalu rindu kepada Allah dan takut kalau ibadah yang mereka lakukan tidak diterima.

Ibnul Qayyim berkata: “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah diantara tanda kegelapan hati dan ketololan.” Ia menambahkan, keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amal tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan.

Karenanya, merupakan kewajiban bagi kita (yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir) untuk tidak lalai dari mengintrospeksi diri.

Merenung dalam kesendirian merupakan sarana yang mampu membeningkan hati. Dengan merenung kita dapat melihat dengan jernih apa-apa yang telah kita perbuat selama ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (AL-Hasyr [59]: 18)

Banyak kebaikan yang didapat dari merenung (mengintrospeksi diri), diantaranya,

@ Mengkonsentrasikan hati untuk mengingat Allah.
@ Menjauhkan dari para pendengki, pencaci, pencari aib, dan penyuka kesalahan-kesalahan.
@ Pembersihan otak dari kotornya pikiran.
@ Penenang batin dari kegalauan akan banyaknya problem.
@ Memenjara tabiat dan kebiasaan tidak baik.
@ Penjauhan diri dari sebab-sebab kekasaran hati dikarenakan banyak melihat, banyak mendengar, banyak bercanda, berlebihan dalam tertawa, berteman dengan orang-orang bodoh, dan bercengkrama dengan orang-orang dungu.

Inilah yang semestinya kita lakukan menyongsong datangnya tahun baru. Hitunglah amal perbuatanmu sebelum engkau dihisab kelak.

Al-Baqarah Ayat 6-5



Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuu

saudara-saudariku semoga kalian sehat dan selalu dalam rahmat dan kasih sayang Allah Aamiin

6. Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka ,kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan mereka tidak akan beriman.

7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran dan penglihatan mereka di tutup dan bagi mereka siksa yang amat berat.

artinya:
" mereka (orang-orang kafir) tidak dapat menerima petunjuk semua nasehat tidak akan membekas. Karena mereka membangkang.

Maka mereka juga tidak memahami tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah dalam Al-qur'an maupun yang mereka lihat di atas muka bumi ini dan yang ada pada badan mereka sendiri.

KERUDUNG vs JILBAB!!



Alhamdulillah skrg udh tau penjelasan keduanya^^>>
-Perbedaan Kerudung dan Jilbab-
1. Kerudung/ kudung/ khimar ialah
pakaian yang dipanjangkan dari
kepala hingga menutupi kerah
leher dan dada. Hal ini
sebagaimana yang difirmankan
Allah dalam surat An-Nuur ayat
31: "Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung ke
dadanya..."
2. Sedangkan jilbab ialah pakaian
yang dijulurkan ke seluruh tubuh
hingga mendekati tanah dan
longgar sehingga tidak membentuk
lekuk tubuh. Sebagaimana firman
Allah dalam surat Al-Ahzab ayat
59:
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-
istrimu, anak-anak perempuanmu
dan istri-istri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka". Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah adalah Maha
pengampun lagi Maha penyayang.."
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa:
Kerudung ialah penutup kepala
hingga dada, sedangkan jilbab ialah
penutup seluruh tubuh. Dan kedua
jenis pakaian ini wajib digunakan
oleh para wanita.
Nah, setelah mendapatkan ilmu
seputar jilbab dan kerudung, tidak
ada alasan lagi bagi para wanita
untuk menunda-nunda menutup
auratnya.
-Ayo tutup auratmu! ! !-

_asyif jiddan..khususo
n untuk menasehati diri ana pribadi dan umumnya bagi yg membaca artikel ini^_^

Jangan Meninggalkan Amal



Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik dari tdk beramal sama sekali

Jangan meninggalkan zikir krn ketidak hadiran hati. Kelalaian kita dari zikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir

Jangan meninggalkan tilawah karna tak tau maknanya. Ketidaktauan makna dalam tilawahmasih lebih baik daripada ketidak mauan membaca firman-Nya

Jangan meninggalkan dakwah karna kecewa. Kesabaran kita bersama orang2 shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang2 yg tidak shalih

Jangan meninggalkan amanah karna berat. Beratnya amanah yg kita emban insyaAllah sebanding dengan beratnya timbangan amal yg akan kita dapatkan

Jangan meninggalkan medan juang karna terluka. Kematian di medan juang lebih baik baik daripada hidup dalam keterlenaan

Jangan meninggalkan kesantunan karna lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya

Allahumma mushorrifal quluub shorif quluubana 'ala tho'atik
Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa 'alaa diinik

Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pd-Mu
Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu

Haruskah Suami Istri Menutupi Tubuh Saat Jima’?




Hingga saat ini, banyak Muslim yang beranggapan bahwa ketika suami istri berjima’, mereka harus menutupi tubuhnya alias tidak diperbolehkan telanjang. Umumnya, anggapan ini dilandasi oleh dua hadits berikut ini.

Pertama, hadits riwayat Ibnu Majah.
“Jika seseorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, maka hendaklah menutupi tubuhnya, dan janganlah bertelanjang bulat seperti telanjangnya dua khimar.”

Kedua, hadits riwayat Tirmidzi.
”Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah...”

Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya dan bagaimana kedudukan dua hadits tersebut? Salim A. Fillah di dalam bukunya Bahagianya Merayakan Cinta menjelaskan bahwa hadits pertama (yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah) adalah dhaif. Dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim dan Walid bin Al Qasim Al Hamdani, keduanya dhaif. Bahkan, An Nasa’i memberi catatan: “hadits ini mungkar.”

Sedangkan hadits kedua (riwayat Tirmidzi), sesungguhnya tidak bisa dijadikan alasan suami istri harus menutup tubuhnya dengan selimut atau semisalnya saat berjima’ dikarenakan malu dengan makhluk lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Padahal, di dalam hadits itu telah ada jawabannya. Yakni kelajutan hadits tersebut yang sering tidak diketengahkan secara lengkap.

“Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah kecuali di saat kalian membung hadats di jamban dan ketika seorang suami mendatangi istrinya” (HR. Tirmidzi).

Salim A. Fillah kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat berikut: “Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, bahkan Ia menghendaki kemudahan bagi mereka. Ketika seorang hamba bersama istrinya telah menutup diri dari pandangan manusia di dalam satu bilik di rumahnya, maka Allah tidak lagi membebani mereka dengan hal yang menyulitkan dan memberatkan seperti memakai selimut. Karena bisa jadi selimut akan mengganggu jika hendak berekspresi dan berkreasi. Padahal yang demikian adalah hak yang Allah berikan pada mereka berdua untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya.”

Wallahu a’lam bish shawab. [IK/
bersamadakwah]

Jima’ di Malam Jum’at = Membunuh Kafir dalam Jihad, Benarkah?




Sebagian masyarakat meyakini bahwa berhubungan suami istri di malam Jum’at pahalanya sama dengan membunuh orang kafir dalam jihad. Bahkan, bukan hanya membunuh satu orang kafir tetapi 40 orang kafir. Pemahaman seperti itu bertahan hingga sekarang, diantaranya karena masih ada muballigh yang menyampaikan bahwa ada hadits Nabi yang menjelaskan demikian.

Benarkah ada hadits yang menjelaskan keutamaan jima’ di malam Jum’at seperti itu?

Habib Munzir Al Musawa pernah ditanya oleh salah seorang jama’ahnya yang bernama Arasy, “Ya habib yang kumuliakan dan kusayangi, ada hadits barang siapa yang berhubungan suami istri pada malam senin dan jum`at maka seperti membunuh 40 orang kafir. Bunyi haditsnya bagaimana?”

Habib Munzir menjawab, “Saudaraku yang kumuliakan, saya tak menemukan riwayat hadits shahih akan hal itu, namun hal itu merupakan sunnah dan dibahas pada banyak kitab para Imam kita, diantaranya Hashyatul Jamal dan lain-lain, yang dimaksud adalah berjima’ pada malam malam dan hari mulia adalah diharapkan keturunan mulia pula yang akan dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada suami istri tersebut.”

Pertanyaan yang senada pernah ditujukan kepada Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

“Ustadz, saya sering mendengar dari kebanyakan orang yang mengatakan bahwa hubungan intim pada malam Jumat adalah sunah Nabi. Bahkan ada yang menghubungkan dengan keutamaan seperti membunuh kaum Yahudi. Apakah benar adanya?”

Ia pun menjawab, “Kami belum pernah menemukan ayat Alquran atau hadis sahih yang menunjukkan anjuran tersebut. Jika ada yang menyampaikan hal tersebut maka dia diminta untuk menyampaikan dalil.”

Demikianlah, kita kadang terjebak menganggap sesuatu sebagai hadits. Padahal, ancaman dosa mengatakan sesuatu yang bukan hadits sebagai sabda Nabi adalah sangat berat.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Shahih Keutamaan Jima’
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa jima’ antara suami dan istri adalah sedekah. Ia mendapatkan pahala atas hubungan halal ini, sebagaimana seseorang mendapatkan dosa jika ia berzina.

“Hubungan badan antara kalian (dengan istri) adalah sedekah”. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, ”Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Sedangkan tentang keutamaan jima’ di malam/hari Jum’at, hadits yang dapat dijadikan rujukan adalah berikut ini:

“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni menjima’ istri, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah.
Namun demikian, tergambarlah keutamaan jima’ di malam/hari Jum’at.

Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah jima’ pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah jima’ di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.

Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menjelaskan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang Subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Gunakan Facebook sebagai Dakwah

Sahabat yang di rahmati Allah semoga kalian sehat selalu dan dalam lindungan Allah...Aamiin.

Sahabat yang ku kasihi dan ku hormati.
Tahukan kalian Ternyata Fenomena Facebook Sudah di singgung di Al-qur'an


Hari gini siapa yang tidak kenal Facebook .?
Bisa-bisa di bilang ketinggalan zaman atau tidak update kalo tidak punya akun facebook.
Tapi tahukah anda ,fenomena Facebook ini ternyata sudah di singgung di dalam Ayat Al-qur'an , tentu saja di dalamnya tidak serta merta menyebutkan Facebook secara eksplisit. Melainkan fenomena yang berkaitan dengan aktifitas manusia modern di jejaring sosial yang satu ini.

Tidak percaya .? Coba buka surat Al-Ma'arij ayat 19-21 yang bunyinya,
"Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh ,Apabila dia di timpa kesusahan , ia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir,"

ayat di atas menjelaskan fenomena jamaah "Facebokiyah" secara umum. Coba kita lihat status-status yang bertebaran di wall facebook. Kebanyakan berisi keluh kesah ,mirip kisah sinetron . Mulai dari bisul jerawat sampai sakit encok semua ada . Masalah cuaca juga setali tiga uang. Saat hujan , mengeluh tidak bisa kemana-mana. Giliran hari panas , ganti mengeluh kepanasan di jalan. Bahkan ibadahpun juga di publikasikan .
"Hmmm buka puasa cuma pakai kolak 3 mangkok ,es buah 4 gelas dan gorengan 10 biji nich". Atau "Alhamdulillah ya sehari semalam sudah khatam Qur'an 3 kali".
Semoga saja niatnya bukan untuk riya atau pamer supaya dicap alim ya.
Sepertinya tinggal shalat yang belom pernah nongol di status facebook. Tidak lucukan kalo adayang pasang status,
"Lagi shalat jamaahan nich. Dah rakaat kedua ,tapi bacaan imamnya lamaaa bangeeetttt"...
.

penggalan ayat berikutnya pun begitu juga. Disitu di katakan .
"apabila dapat kebaikan maka ia kikir".
Paling benter statusnya hanya pemberitahuan naik gaji,mobil baru,makan enak ,dsb
sepertinya belum ada tuh ,status facebook seperti ini. "Di bus nemu duit 100 ridu nich .yang mau di teraktir di tunggu ya jam makan siang di warteg sebelah. Tenang aja , makan sepuasnya.!".

Sesungguhnya facebook ibarat pisau . Bila di gunakan koki. Bisa tercipta masakan lezat. Tapi kalo yang pegang tukang todong , dompet bisa melayang. Jadi berhati-hatilah update status di facebook. Dan sosial network yang lain karena tidak ada amalan yang tidak di hitung nantinya.

Labels

loading...

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik