Kamis, 20 Desember 2012

Ingat lima perkara sebelum lima perkara

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

Jadikan setiap detik dan harimu yang berlalu itu produktif
Jangan sesekali disiakan masa
Dan jangan sesekali dihanyutkan oleh arus kehidupan
Kerana setiap saat yang berlalu
Takkan dapat diputar kembali

Oleh itu
Ingat lima perkara sebelum lima perkara

Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati


♥ الله♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 6 Safar 1434H ~

Cara membaca Surah Yassin yang betul sewaktu seseorang menghadapi Sakaratul Maut.

Cara membaca Surah Yassin yang betul sewaktu seseorang menghadapi Sakaratul Maut.
oleh Ustaz Abdullah Mahmud.

assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Kesalahan masyarakat awam dalam 'membantu' seseorang menghadapi Sakaratul Maut.
Menjadi kebiasaan, kita akan mengelilingi orang yang tengah nazak(sekarat) dengan membaca surah Yasin sendiri-sendiri
dengan beraneka ragam (setengah dengan tartil, setengah bacaan cepat).
Perbuatan begini akan menjadikan orang yang tengah nazak merasa lebih kelam kabut,kaedah apa saja yang seharusnya di lakukan untuk membantu seseorng yang menghadapi sakaratul maut,berikut ini kaedah yang seharusnya diamalkan:

1.Mintalah salah seorang yang bacaan Alquran nya baik (dari segi tajwid) untuk
membaca surah Yasin dan yang lain boleh bersama nyimak.

2.Sebaiknya orang yang diminta itu adalah anak ataupun saudara terdekat yang mempunyai perasaan kasih pada orang yang tengah nazak.

3.Merenung wajah orang tengah nazak sebelum surah Yasin dibaca untuk
menimbulkan rasa belas kasihan dan mudah-mudahan surah yang dibaca bisa
membantu pencabutan nyawa beliau.

4.Membaca 3 hingga 4 kalimah Surah Yasin,berhenti, dan menolong (menuntun) beliau untuk melafazkan "Laa ilaaha illalloh".

5.Kemudian menyambung kembali bacaan, baca 3 hingga 4 kalimah, berhenti lagi, dan menolong beliau mengucap "Laa ila haillallah" lagi.

6.Diteruskan sehingga seorang yang nazak menghembuskan nafas yang terakhir.

Semoga ini dapat meningkatkan lagi ilmu pengetahuan kita dalam 'membantu'
saudara atau kerabat dekat kita dalam menghadapi sakaratul maut. Dan semoga kita mendapat segala rahmat serta hidayah NYA dlm membuat amal kebajikan dengan cara yang betul bukan semata-mata melalui ikut adat.Aamiin..

سبحان الله و بحمده .. سبحان الله العظيم

Biarkanlah air mata kita mengalir menyesali segala DOSA Daripada hanya TERTAWA tanpa mengira MASA

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

Biarkanlah air mata kita mengalir menyesali segala DOSA
Daripada hanya TERTAWA tanpa mengira MASA

Biarkanlah air mata kita mengalir ketika BERTAUBAT
Daripada tak sempat kerana TERLAMBAT

Biarkanlah air mata kita mengalir kerana BERSYUKUR
Daripada terus terleka dalam KUFUR

Biarkanlah air mata kita mengalir kerana diberi PETUNJUK
Daripada tergoda dengan SYAITAN yang TERKUTUK

Biarkanlah air mata kita mengalir kerana TAKUT API NERAKA
Daripada terus menjadi HAMBA ALLAH yang DURHAKA

Biarkanlah air mata kita mengalir kerana rindukan SYURGA
Daripada terpesona dengan DUNIA hingga DIRI tiada HARGA

Semoga kita semua sentiasa dalam naungan ALLAH AZZA WA JALLA.

♥ ﷲ ♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 5 Safar 1433H ~

Aku Cinta Allah

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.

Aku Cinta Allah


Andaikan diri ku bisa
Seperti yang lain
Yang Kau sayang
Yang Kau rindukan
Yang Kau cintai

*
Aku lemah tanpa Mu aku lelah
Aku sungguh tak berdaya
Tolongku
Tolongku
Yaaa Allah


Setiap air mataku mengalir
Allah aku lemah dan tak berarti
Setiap derai tangis membasahi
Allah jangan tinggalkan aku lagi

**
Aku sayang Allah
Aku rindu Allah
Aku Cinta Allah

10 TIPS Meredam Kemarahan Suami

Assalamualaikum
­ Warahmatullahi Wabarakatuh

TAK ada rumah tangga yang sepi dari masalah. Tidak ada suami yang tidak pernah marah dan emosi. Meski demikian, seorang istri yang cerdas tahu bagaimana meredam kemarahan suaminya dengan tenang dan penuh kecintaan. Dengan adanya kemarahan, jangan pernah berpikir bahwa ‘sumber’ cinta di antara keduanya telah mengering dan ‘daun-daun’nya telah rontok berguguran.

Kemarahan barangkali merupakan emosi yang paling buruk yang perlu ditangani. Dari waktu ke waktu, siapa pun pernah mengalami perasaan yang kuat ini. Beberapa penyebab umum kemarahan termasuk frustrasi, sakit hati, kejengkelan, kekecewaan, pelecehan, dan ancaman.

Kemarahan suami bukanlah akhir dunia. It’s not the end of the world, but it’s true that is definitely hurt. Menjaga keberlangsungan cinta tergantung pada seberapa besar saling pengertian di antara pasangan suami-istri (pasutri), kepandaian dan kecerdasan sang istri. Kegagalan untuk mengenal dan memahami kemarahan suami berpotensi menggiring Anda ke berbagai problem rumah tangga.

Berikut ini adalah berbagai momen ketika suami marah, dan tips bagaimana seharusnya Anda sebagai istri bertindak:

1. Jika Anda melihat suami Anda marah dan kesal, berusahalah mereda kemarahannya; jangan Anda sambut kemarahannya dengan keluhan mengenai anak-anak atau keruwetan dan keprihatinan rumah tangga. Jangan membantah dengan pertanyaan tentang hal yang tidak mengenakkan kecuali jika dia mengutarakannya. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Siapa saja istri yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya meridhainya, maka dia masuk surga.” (HR. Ibnu Majah).

Setiap kali Anda mengingat hadits tersebut, menyelami dan mempraktikkannya dengan senang dan yakin, Anda akan melihat manfaat yang bakal kembali kepada diri Anda. Pada saat itu Anda akan menikmati rumah tangga bahagia yang jauh dari problematika dan konflik.

…Jika Anda melihat suami Anda marah dan kesal, berusahalah mereda kemarahannya. Jangan membantah dengan pertanyaan tentang hal yang tidak mengenakkan…

2. Ketika Anda melakukan kesalahan dalam suatu pekerjaan, semisal terlambat melaksanakan beberapa tugas domestik karena sibuk berbicara di telepon, dan pada saat itu suami sedang bersama Anda, maka panggillah dia dengan nama yang paling disukainya. Lalu ajukan permintaan maaf dan utarakan alasan keterlambatan Anda menjalankan tugas, sehingga dia merasa bahwa Anda menyadari bahwa tindakan tersebut adalah salah. Bersabarlah dengan ungkapan yang mungkin dilontarkannya kepada Anda. Jika Anda bersabar dan tidak merespons atau mengkritik balik, maka hal demikian telah membuang sebagian kemarahannya. Meminta maaf dapat mendatangkan tawa suami.

Tengoklah bagaimana para istri-istri Rasulullah meminta maaf kepada beliau, meski mereka yang berada dalam posisi marah. Dari Umar bin Khatthab, dia mengatakan, “Kami kaum Quraisy sangat berkuasa terhadap kaum perempuan (istri-istri). Dan ketika kami datang ke tempat orang-orang Anshar, (kami terkejut) karena mereka adalah kaum yang dikalahkan (toleran) oleh istri-istri mereka, maka mulailah istri-istri kami mengambil (meniru) etika perempuan-perempuan Anshar. Kemudian aku bertengkar dengan istriku kemudian dia kembali (meminta maaf) kepadaku, namun aku tidak ingin dia kembali (minta maaf), maka dia bertanya, “Kenapa engkau tidak senang aku kembali kepada engkau? Demi Allah! Sesungguhnya istri-istri Rasulullah SAW kembali (meminta maaf) kepada beliau sekalipun salah seorang di antara mereka marah terhadap Rasulullah dari siang sampai malam hari.” (HR. Al-Bukhari)

3. Jika suami yang marah sedang berbicara, maka jangan sekali-kali Anda menyela. Redakanlah dengan kata-kata lunak dan santun, misalnya, “Aku tahu kamu lelah sekali, maaf sayang aku merepotkan diri,” atau lain sebagainya. Kata-kata seperti ini akan meluluhkan hatinya. Dia akan merasa bahwa Anda memerhatikan diri dan kecemasannya. Dan jangan pula membantah apa yang dikatakan atau diinstruksikannya –jika memang itu baik.

…Jika suami yang marah sedang berdiri, maka ajaklah dia untuk duduk dan berbicaralah kepadanya dengan baik…

4. Jika suami yang marah sedang berdiri, maka ajaklah dia untuk duduk dan berbicaralah kepadanya dengan baik. Dalam Islam kita diajarkan trik-trik mengatasi kemarahan di antaranya adalah jika sedang marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya duduk, dan jika sedang duduk hendaknya berbaring, bisa juga dengan mengambil air wudhu agar mendinginkan emosi kita yang sedang bergolak. Atau ajaklah suami untuk bersujud, maksudnya melakukan shalat sunnah. Dalam sebuah hadits dikatakan,

“Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah dia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (HR. At-Tirmidzi)

5. Berusahalah menenangkannya dan menahan emosi Anda, jika Anda ada di pihak yang benar. Berbicaralah kepadanya dengan cara bijak.

6. Ketika dia marah, Anda jangan menyinggung perasaannya dengan berbagai hal. Anda jangan pernah melakukan segala sesuatu yang dia anggap melecehkan dirinya.

7. Ketika suami marah, jangan sampai dia Anda tinggal tidur sendirian. Setelah Anda pastikan bahwa dia sudah lebih tenang, berinisiatiflah melakoni hal-hal yang bisa mendatangkan keridhaannya. Inisiatif dilakukan oleh pihak yang lebih baik pemahaman agama dan akalnya di antara kedua pihak bertikai, atau siapa yang paling memungkinkan dalam masalah marah dan ridha dari keduanya. Seperti yang dikatakan Abu Ad-Darda` kepada Ummu Ad-Darda`, istrinya, “Apabila aku marah, maka redakanlah kemarahanku. Dan jika engkau marah, aku pun akan meredakan kemarahanmu. Jika kita tidak melakukannya, maka bagaimana kita dapat hidup rukun?”

8. Coba sisipkan humor karena terbukti efektif meredakan kemarahan.

9. Ingatlah bahwa rumah yang dipenuhi oleh cinta, kenyamanan, sikap saling menghargai, saling menghormati, dan kesederhanaan dalam segala hal, lebih baik dari rumah yang dipenuhi makanan lezat serta perabotan mewah namun penuh dengan kekesalan hati dan permusuhan.

10. Jangan mudah cemberut. Upayakan agar Anda selalu tersenyum ceria dan berwajah riang. Dengan demikian Anda bisa memberikan kebahagiaan kepada suami dan menikmati hidup bahagia penuh kedamaian serta kesenangan.

…marah dan emosi adalah tabiat manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya…

Demikianlah, marah dan emosi adalah tabiat manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridhai.” (HR. Ahmad).

Semoga tips-tips di atas bisa membantu Anda untuk meredam pasangan hidup Anda, agar dia menjadi orang yang kuat, seperti disinyalir dalam hadits berbunyi, “Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” [ganna pryadha/voa-islam.com]

Istidraj

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

Istidraj

Kita tahu bahawa ilmu itu cahaya, dan tidak akan memasuki hati-hati yang gelap, tetapi kita lihat, kawan kita yang berjudi, yang minum arak, boleh berjaya sedangkan kita terkial-kial walaupun sudah berusaha.

Kita tahu bahawa siapa yang berbuat baik, taat kepada ALLAH SWT akan dipermudahkan jalan kehidupannya, tetapi kita lihat, kawan kita ini tidak solat, tetapi bisnesnya menjadi, kita pula hidup dengan penuh cabaran dan dugaan.

Kita juga tahu bahawa, ISLAM ini agama yang benar, tetapi kita sering melihat orang-orang yang bukan ISLAM itu lebih berjaya, dan ummat ISLAM tertindas dalam kehidupan sempit lagi derita.

Istidraj ini adalah satu kalimah yang sering menunjuk kepada keadaan seseorang itu yang terus dilimpahkan rezeki dan kejayaan yang melimpah ruah dalam kehidupannya walaupun dia bukan hamba ALLAH SWT yang taat, malah seorang pembuat maksiat yang tegar. Kenapa mereka ini dinamakan manusia yang mendapat istidraj? Apakakah maksud istidraj?

Istidraj adalah apabila ALLAH SWT memberikan kejayaan, harta kekayaan, rezeki yang melimpah ruah untuk manusia itu menjadi lebih jauh dariNYA. Biasanya, manusia yang mendapat istidraj ini adalah mereka yang tidak berusaha menjalankan ISLAM dalam kehidupan, juga tidak berusaha mengenali ALLAH SWT.

Contoh manusia yang mendapat istidraj ini banyak. Kita lihat contoh yang mudah iaitu Qarun. Apakah anda kenal kepada Qarun? Dia adalah seorang manusia yang teramat kaya. Diriwayatkan bahawa, kotak yang mengisi kunci kepada gedung-gedung perbendaharaannya tidak mampu diangkat oleh orang-orang yang kuat. Hal ini hendak menyatakan betapa kayanya dia.

Kisah Qarun terdapat di dalam Al-Quran. Hartanya melimpah ruah. Segala perniagaannya menjadi. Segala pelaburannya mengembang. Hartanya makin hari makin bertambah, sedang yang bertambah semalam tidak pula luak digunakan. Tetapi bila Nabi Musa cuba mengingatkannya berkenaan semua kekayaannya itu datang daripada ALLAH SWT, maka Qarun dengan angkuh menjawab, “ Tidak, semua ini adalah hasil dari ilmuku”

Lihat. Lihat apa kata Qarun. Tidak, semua ini adalah hasil dari… ILMUKU. Dia nyata semakin jauh dari ALLAH, walaupun kekayaannya menjadi, rezekinya melimpah ruah dan sebagainya. Dia saban waktu memperlekehkan pengikut-pengikut nabi Musa yang terdiri dari orang miskin dan hamba.

Apakah pengakhiran Qarun? Dia akhirnya ditenggelamkan ALLAH ke dalam bumi dengan seluruh hartanya. Kisah ini terdapat di dalam Al-Quran.

Apakah itu yang kita mahu? Sebab itulah, saya hendak mengajak saudara-saudari berfikir, apakah yang akan timbul di dalam hati kalian apabila kalian ini jenis yang melazimi dosa-dosa, melakukan maksiat, kemudian kalian berjaya di dalam peperiksaan atau perniagaan. Apakah yang agaknya akan timbul dalam jiwa kalian?

Mungkin ada yang akan merasa begini, “ Tengok, aku tak solat pun berjaya. Siapa kata solat itu bawa kejayaan?” Apakah yang akan terjadi kepada anda ketika itu? Anda berjaya, tetapi anda semakin jauh dari ALLAH. Itulah istidraj.

Maka jangan gusar bila tidak berjaya. Cuba lagi. Hubungan keimanan anda dengan ALLAH itulah yang pertama sekali perlu anda perhatikan. Jika anda berjaya membina hubungan keimanan yang baik, insyaALLAH, datanglah badai apa sekalipun, anda akan mampu melaluinya.

Sebenarnya ALLAH SWT suka menguji hamba-hambaNYA yang beriman. Terdapat satu kisah yang saya suka baca ketika saya masih kecil.

Terdapat dua orang nelayan. Seorang penyembah berhala, dan seorang lagi muslim yang taat kepada ALLAH. Ketika menebar jala, yang menyembah berhala menyebut nama berhalanya, manakala yang muslim membaca Bismillah. Bila jala diangkat, yang menyembah berhala mendapat banyak ikan, manakala yang muslim, hampir sahaja tiada ikan untuknya pada hari itu.

Malaikat yang melihat keadaan itu bertanya kepada ALLAH. “ Ya ALLAH, apakah yang telah berlaku? HambaMU yang menyekutukanMU, KAU berikan dia rezeki yang banyak, sedangkan hambaMU yang menyebut namaMU, KAU tidak memberikan DIA apa-apa”

ALLAH menjawab, “ Yang menyekutukanKU, tempatnya memang sudah pasti NERAKA. Maka apalah sangat rezeki yang pasti akan hancur itu jika KUberikan kepadanya? Tetapi HambaKU yang beriman itu, AKU hendak mengganjarkannya syurga, maka AKU suka mengujinya untuk melihat kebenaran imannya”

Nah, jangan anda kecewa bila diuji kerana itu semua adalah sebahagian dari ujian ALLAH SWT. ALLAH SWT menguji hanya untuk mereka yang dikasihi. Bukankah ALLAH SWT ada berfirman, “ Apakah kamu mengira KAMI akan membiarkan kamu berkata kami beriman sedangkan kamu belum diuji?…”

Jika gagal terhadap satu-satu perkara, itu perkara itu. Anda masih belum gagal dalam kehidupan. Teruskan usaha, selagi nyawa masih ada. InsyaALLAH, ALLAH akan memberikan sesuatu yang bermakna kepada anda. Bersangka baiklah kita kepada PENCIPTA kita.

Maka sebenarnya, bila hidup kita digegarkan dengan masalah, hendaklah kita rasa bersyukur. Tandanya, ALLAH masih lagi dekat dengan kita. Ujian adalah tanda kasih sayang dan perhatianNYA kepada kita.

Anda wajib untuk tidak berasa tenang jika anda berbuat dosa, dan anda berjaya. Sebab itulah, muhasabah diri itu penting. Untuk kita sentiasa periksa bagaimanakah hubungan kita dengan ALLAH SWT.

Aku berdosa, tetapi aku berjaya…. Berhati-hatilah kita agar jangan sampai lafaz itu, atau lafaz-lafaz yang membawa maksud serupa itu terkeluar dari mulut kita.

Mari kita sama-sama duduk dan bermuhasabah.

♥ الله♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 3 Safar 1434H ~

Jangan Mencaci Sesama Kita

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

Jangan Mencaci Sesama Kita

Dari Abu Hurairah ra meriwayatkan bahawa satu ketika seorang lelaki sedang mencaci Abu Bakar ra sedangkan Rasulullah SAW sedang duduk di hadapannya. Orang itu terus mencacinya sedangkan Abu Bakar ra dan Rasulullah SAW terus bersabar mendengarnya. Lantas Rasulullah SAW tersenyum. Apabila orang itu mencacinya dengan keterlaluan, lantas Abu Bakar ra menjawab akan caciannya.

Mendengarkan akan jawapan itu, Rasulullah SAW begitu marah, bangun, lalu meninggalkannya. Abu Bakar ra menyusul Rasulullah SAW di belakangnya dan berkata : “Ya Rasulullah, apabila orang itu terus mencaciku engkau masih tetap duduk dan apabila aku menjawabnya, tuan nampaknya marah dan bangun?”

Rasulullah SAW menjawab : “Semasa kamu diam dan bersabar mendengarnya, seorang malaikat bersama denganmu yang mana sedang menjawab caci maki orang itu bagi pihakmu, tetapi apabila kamu menjawabnya semula, malaikat itu meninggalkanmu, dan syaitan telah datang di antara kamu, dan aku tidak mahu duduk bersama dengan syaitan; oleh kerana itu aku meninggalkan kamu.

(Hadith Riwayat Ahmad)


Siapalah kita yang mahu mencaci ciptaan ALLAH SWT? Sebanyak mana keburukan dan kesalahan mereka yang kita ketahui, ALLAH SWT lebih mengetahui. Walaupun sebanyak buih di laut, keampunan dan kasih sayang ALLAH SWT jauh lebih luas daripada itu.

Daripada Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW telah bersabda : "Adakah kamu tahu siapakah orang papa (muflis) pada Hari Kiamat?" Jawab sahabat, "Orang papa yang kami tahu ialah orang yang habis wang dan harta bendanya. "Baginda bersabda lagi : "Sesungguhnya orang yang papa pada hari itu ialah orang yang mengerjakan sembahyang, puasa dan berzakat, di samping itu mereka suka mencaci atau memaki hamun, menuduh dengan sewenang-wenang, memakan harta orang lain, membunuh manusia dengan kejam dan memukul orang yang tidak bersalah. Segala amal kebajikannya yang dikerjakannya akan digunakan bagi menampung kesalahan dan kejahatan yang dilakukannya. Sekiranya kebajikannya tidak cukup, maka baki kesalahannya akan dicampur dengan kesalahan orang yang dianiaya lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dicampakkan kedalam neraka." (HR Muslim)

Semoga ALLAH SWT mengampuni segala dosa-dosa kita yang telah lalu dan marilah kita bertaubat dan bertekad tidak akan mencaci sesama kita lagi.

♥ ﷲ ♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 2 Safar 1433H ~

Syukur Nikmat Membuka Pintu Berkah

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.

Syukur Nikmat Membuka Pintu Berkah

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan (artinya):
“Ada tiga orang dari Bani Israil menderita penyakit belang, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allah pun utus kepada mereka Malaikat.

Malaikat itu datang kepada si belang dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si belang menjawab: Saya mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku. Malaikat itu pun mengusap si belang, maka hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu, bahkan ia diberi paras yang tampan. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si belang menjawab: Unta. Kemudian ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si botak menjawab: Saya mendambakan rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini. Malaikat itu pun mengusap si botak, maka hilanglah penyakitnya itu, serta diberilah ia rambut yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si botak menjawab: Sapi. Kemudian ia diberi sapi yang bunting. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si buta dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si buta menjawab: Saya mendambakan agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat. Malaikat itu pun mengusap si buta, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si buta menjawab: Kambing. Kemudian ia diberi kambing yang bunting.

Selang beberapa waktu kemudian, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak yang akhirnya si belang tadi memiliki unta yang memenuhi suatu lembah, demikian juga dengan si botak dan si buta, masing-masing memiliki sapi dan kambing yang memenuhi suatu lembah.

Kemudian Malaikat tadi datang kepada si belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang bagus serta harta kekayaan- seekor unta untuk bekal dalam perjalanan saya. Si belang berkata: Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak.

Malaikat itu berkata: Kalau tidak salah saya sudah mengenalimu. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu? Bukankah kamu dahulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu? Si belang berkata: Harta kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku. Malaikat itu berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak waktu itu. Dan berkata kepadanya seperti apa yang dikatakan kepada si belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang tadi. Kemudian Malaikat tadi berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah ? mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta waktu itu dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah ? kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah mengembalikan penglihatanmu- seekor kambing untuk bekal dalam perjalanan saya. Si buta berkata: Saya dahulu adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Mulia. Malaikat itu berkata: Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu itu diuji dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (si belang dan si botak).” (HR. Al Bukhari dan Muslim, hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam Riyadhush Shalihin hadits no. 65)

Di dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia tersebut banyak terkandung faedah dan pelajaran beharga bagi kaum muslimin. Tidaklah Rasulullah menceritakan kisah kejadian umat terdahulu melainkan untuk menjadi pelajaran bagi umat yang datang setelahnya.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.


Zainab: Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah

Nama dan Nasab Zainab

Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya. Sifat-sifatnya Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wan...
ita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya
, dan kebaikannya.

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya,
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِ كْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَاال لهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَ لَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً “
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri -isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. ” (QS. Al-Ahzab: 37)
Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi.Dan Zainab biasa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan, “Kalian dinikahkan oleh Allah dari atas Arsy- Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al- Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa ’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih). Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’

Kemudian datanglah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘ Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘ Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘ Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah, مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ ال لهِ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. ” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan Allah berfirman, ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5) Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al- Isti’ab, 4:1849-1850)


Turunnya Ayat Hijab Anas bin Malik berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang turunnya ayat hijab, ketika terjadi pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan hidangan dan mengundang para sahabat sehingga mereka datang dan masuk ke rumahnya. Ketika itu Zainab sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah, kemudian para sahabat berbincang-bincang, saat itu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian kembali dalam keadaan para sahabat duduk-duduk di rumahnya, saat itu turunlah firman Allah, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلآَّ أَن يُؤْذَ نَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُ مْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلاَمُسْتَئْنِسِينَ لِ حَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِ مِنكُمْ وَاللهُ لاَيَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak ( makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu ( keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir).” (QS. Al-Ahzab: 53) Saat itu berdirilah para sahabat dan diulurkan hijab. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra , 8:105-106 dengan sanad yang shahih)


Keutamaan-keutamaan Zainab Aisyah berkata, “Zainab binti Jahsyi yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851) Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada istri-istrinya, ‘yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya,’ Aisyah berkata, ‘Maka kami setelah itu jika berkumpul saling mengukur tangan-tangan kami di tembok sambil melihat mana yang paling panjang, tidak henti-hentinya kami melakukan hal itu sampai saat meninggalnya Zainab, padahal dia adalah wanita yang pendek dan tidaklah tangannya paling panjang di antara kami, maka tahulah kami saat itu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkan panjang tangan adalah yang paling banyak bershadaqah. Adalah Zainab seorang wanita yang biasa bekerja dengan tangannya, dia biasa menyamak dan menjahit kemudian menshadaqahkan hasil kerjanya itu di jalan Allah’,” (Muttafaq Alaih) Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar, “Sesungguhnya Zainab adalah wanita yang awwahah.” Seseorang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan awwahah wahai Rasulullah?” Rasulullahs shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang khusyu lagi merendahkan diri di hadapan Allah.” (Al-Isti’ab, 4:1852) Dari Barzah binti Rofi dia berkata, “Suatu saat Umar mengirimkan sejumlah uang kepada Zainab, ketika sampai kepadanya Zainab berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Umar, sebenarnya selain aku lebih bisa membagi- bagikan ini,’ mereka berkata, ‘Ini semua untukmu,’ Zainab berkata, ‘Subhanallah, letakkanlah uang-uang itu dan tutupilah dengan selembar kain!’ kemudian dia bagi- bagikan uang itu kepada kerabatnya dan anak-anak yatimnya dan dia berikan sisanya kepadaku yang berjumlah delapan puluh lima dirham, kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Ya Allah jangan sampai aku mendapati pemberian Umar lagi setelah tahun ini.’ Tidak lama kemudian dia meninggal dunia.” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106) Peran Zainab di Dalam Penyebaran Sunah- sunah Rasulullah Zainab binti Jahsyi termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjaga dan menyampaikan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara deretan perawi yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah saudaranya Muhammad bin Abdullah bin Jahsyi, Ummul Mu’minin Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Zainab bintu Abi Salamah, dan selain mereka dari kalangan shahabat dan tabi’in.


Wafatnya Zainab binti Jahsyi wafat di Madinah pada tahun 20 Hijriyyah di masa kekhilafahan Umar , saat Mesir ditaklukkan oleh kaum muslimin, waktu itu beliau berusia 53 tahun. Beliau dikuburkan di pekuburan Baqi. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan kebaikan yang melimpah. Rujukan: Thabaqoh Kubra oleh Ibnu Sa’ad (8:101-1150, Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Zubair bin Bakar (1:48), Dalail Nubuwwah 1:40-41 oleh Firyabi, Siyar A’lamin Nubala oleh Adz-Dzahabi (2:211-218), Al- Ishabah oleh Ibnu Hajar (7:667-669), dan Al- Isti’ab oleh Ibnu Abdil Barr. (4/1849-1452). Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun III

Hadist Dzikir

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala ujian milik Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah itu Maha Besar) adalah bacaan kesukaan Rasulullah s.a.w., yang nilainya melebihi dunia dan segala isinya. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w. berkata : "Membaca Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar lebih aku sukai daripada seisi dunia." (Hadith Riwayat Muslim)

Dari Abu Musa r.a, dari nabi s.a.w katanya:”Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang bersalah siang hari, dan membentangkan tangan-Nya siang hari untuk menerima taubat orang yang bersalah malam hari sehingga matahari terbit di Barat.” [HR Muslim]

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatu.

Dari Abu Musa r.a, dari nabi s.a.w katanya:”Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang bersalah siang hari, dan membentangkan tangan-Nya siang hari untuk menerima taubat orang yang bersalah malam hari sehingga matahari terbit di Barat.” [HR Muslim]

Penduduk Langit

Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Ketika kami membaca shalawat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengucapkan: ASSALAAMU ‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI, ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA FULAAN (Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika’il, kepada fulan dan fulan). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah As salam, apabila salah seorang dari kalian duduk dalam shalat (tahiyyat), hendaknya mengucapkan; AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN, (penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada pada engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada pada hamba-hamba Allah yang shalih. Sesungguhnya jika ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit maupun di bumi, lalu melanjutkan; ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Setelah itu ia boleh memilih do’a yang ia kehendaki. (HR Bukhari 5762)

Para Sahabat ketika duduk dalam shalat (tahiyyat), bertawasul dengan menyebut nama-nama orang-orang sholeh yang telah wafat maupun dengan para malaikat namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan untuk menyingkatnya menjadi “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba Allah yang sholeh baik di langit maupun di bumi“. Hamba Allah yang sholeh di langit maknanya penduduk langit, para malaikat dan kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya yang telah wafat , dan hamba sholeh di bumi adalah hamba Allah yang sholeh yang masih hidup.

Rasulullah bersabda “Maka Allah pun mengangkatnya untukku agar aku dapat melihatnya. Dan tidaklah mereka menanyakan kepadaku melainkan aku pasti akan menjawabnya. Aku telah melihat diriku bersama sekumpulan para Nabi. Dan tiba-tiba aku diperlihatkan Nabi Musa yang sedang berdiri melaksanakan shalat, ternyata dia adalah seorang lelaki yang kekar dan berambut keriting, seakan-akan orang bani Syanuah. Aku juga diperlihatkan Isa bin Maryam yang juga sedang berdiri melaksanakan shalat. Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi adalah manusia yang paling mirip dengannya. Telah diperlihatkan pula kepadaku Nabi Ibrahim yang juga sedang berdiri melaksanakan shalat, orang yang paling mirip denganya adalah sahabat kalian ini; yakni diri beliau sendiri. Ketika waktu shalat telah masuk, akupun mengimami mereka semua. Dan seusai melaksanakan shalat, ada seseorang berkata, ‘Wahai Muhammad, ini adalah malaikat penjaga api neraka, berilah salam kepadanya! ‘ Maka akupun menoleh kepadanya, namun ia segera mendahuluiku memberi salam (HR Muslim 251)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Seandainya bukan karena dosa yang menutupi kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad dari Abi Hurairah)

Manusia terhalang / terhijab melihat alam ghaib adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat alam ghaib. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

Dalam kisah Isra’ Mi’raj disebutkan bahwa Malaikat Jibril mengeluarkan hati Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. “Lalu ia (Malaikat Jibril) membasuhnya dengan air zamzam dan menghilangkan sifat yang mengganggu”

Malaikat Jibril berkata kepada Malaikat Mikail, “Datangkan kepadaku nampan dengan air zam-zam agar aku bersihkan hatinya (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam) dan aku lapangkan dadanya”

Di dalam musnad Ahmad dan selainnya dari Ibn Mas’ud ra disebutkan bahwasanya ia (Ibn Mas’ud) berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati para hambaNya, maka didapati bahwa hati Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah sebaik-baik hati para hamba”

Dalam kisah Isra’ Mi’raj, Anas bin Malik berkata “mereka mendatangi beliau (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam) lagi, yang ketika itu hati (beliau) melihat, mata beliau tidur namun tidak untuk hatinya. Demikian pula para nabi, mata mereka tertidur namun hati mereka tidak tidur” (HR Bukhari 6963)

Dalam Sunan ad Darimi disebutkan, “Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang, kemudian dikatakan kepadanya, “Benar-benar matamu tertidur, telingamu mendengar dan hatimu memahami?” Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “maka dua mataku tertidur, dua telingaku mendengar, dan hatiku memahami”.

Al Habib al Imam al Arif Billah as Sayyid Ali al Habsyi mengatakan mengenai masalah dibelahnya dada Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan dikeluarkan bagian setan dari hatinya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits dan atsar-atsar, “Dan tidaklah para malaikat mengeluarkan dari hatinya penyakit akan tetapi mereka menambah padanya kesucian di atas kesucian”

Oleh karenanya jelas bahwa dengan persiapan “hati yang suci yang disucikan” Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam diperjalankan ke alam ghaib menemui para Nabi yang telah wafat atau yang “diangkat” dan telah menjadi penduduk langit pada tingkatan maqom mereka masing-masing.

Allah Azza wa Jalla telah memperlihatkan maqom manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para Malaikat tidak dapat menemani Beliau melampaui Sidratul Muntaha.

Ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki mengatakan “‘Walaupun dalam kisah mi’raj yang didengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik. Naik dan turun itu hanya dinisbahkan kepada hamba, bukan kepada Tuhan. Meskipun Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba). Ketahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam antara Nabi Musa alaihissalam dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Mahasuci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya. Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya. Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain (Wa huwa bi al’ufuq al-a’la diterjemahkan oleh Sahara publisher dengan judul Semalam bersama Jibril ‘alaihissalam)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami Zakariya’ dari Ibnu Asywa’ dari Amir dari Masruq dia berkata, “Aku berkata kepada Aisyah, ‘Lalu kita apakah firman Allah: ‘(Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan) ‘ (Qs. an-Najm: 8-10). Aisyah menjawab, ‘(Yang dimaksud ayat tersebut) adalah Jibril. Dia mendatangi Rasulullah dalam bentuk seorang laki-laki, dan pada kesempatan ini, dia mendatangi beliau dalam bentuknya yang sesungguhnya, sehingga dia menutupi ufuk langit’.” (HR Muslim 260)

Dari Masruq dia berkata, “Aku yang duduk bersandar dari tadi, maka aku mulai duduk dengan baik, lalu aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! Berilah aku tempo, dan janganlah kamu membuatku terburu-buru, (dengarlah kata-kataku ini terlebih dahulu), bukankah Allah telah berfirman: walaqad raaahu bialufuqi almubiini (QS at Takwir [81]:23) dan Firman Allah lagi: walaqad raaahu nazlatan ukhraa (QS An Najm 53]:13) Maka Aisyah menjawab, ‘Aku adalah orang yang pertama bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. mengenai perkara ini dari kalangan umat ini. Beliau telah menjawab dengan bersabda: Yang dimaksud ‘dia’ dalam ayat itu adalah Jibril (bukan Allah), “aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi.” (HR Muslim 259)

Dalam Tafsir Al Bahr al Muhith dan Kitab “Amali (Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi), Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan: “Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut (QS Al-Mulk [67]:16) adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit. Perkataan ‘man’ yaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi berarti malaikat bukan berarti Allah berada dan bertempat di langit.

Dalam tafsir jalalain Imam Suyuthi ~rahimahullah mengatakan : “Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah kekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi ) jadi yang di langit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) bukan dzat Allah.

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Hadid [57] : 1 )

Jadi man fi al-sama’ adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) berikut penduduk langit.

Penduduk langit juga bisa menyaksikan hamba-hamba kekasih Tuhan di bumi sebagaimana dinyatakan Rasulullah, “Sesungguhnya para penghuni langit mengenal penghuni bumi yang selalu mengingat dan berzikir kepada Allah bagaikan bintang yang bersinar di langit.”

Dalam Al Qur’an dinyatakan dalam ayat, “Untuk mereka kabar gembira waktu mereka hidup di dunia dan di akhirat.” (QS Yunus/10:64). Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad, Abu Darda’, yang menanyakan apa maksud ayat ini. Rasulullah menjelaskan, “Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah SWT kepadanya.” Dalam ayat lain lebih jelas lagi Allah berfirman, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” (QS al-Zumar [39]:42).

Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat”.

Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan (alam) kepada keadaan (alam) lain.”

Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “ruh orang tidur dan ruh orang mati bisa bertemu diwaktu tidur dan saling berkenalan sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menggenggam ruh manusia pada dua keadaan, pada keadaan tidur dan pada keadaan matinya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.

“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

(ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عليه إلا استأنس ورد عليه حتي يقوم)

“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

(ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)

“Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

Manusia yang telah meraih maqom disisiNya, Para Nabi, para wali Allah (muslim yang bermakrifat atau shiddiqin, yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya), dan orang-orang sholeh seringkali mendapat kesempatan melihat dan berkunjung kepada penduduk langit. Kesempatan ini yang disebut dengan kasyaf, terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah Azza wa Jalla membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.

Mereka yang telah meraih maqom disisiNya seperti hidup di alam yang bebas dimensi, tidak lagi terikat dengan ruang dan waktu. Mereka bisa berkomunikasi interaktif dengan makhluk dan para penghuni alam lain, baik di alam malakut, alam jabarut, maupun alam barzakh lainnya

Suatu saat Imam al-Gazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tak populer yang dikutip dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Lalu, al-Ghazali menjawab, dirinya tak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.

Jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam al-Gazali berjumpa dengan Rasulullah. Padahal, Imam al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad. Kitab Ihya’ yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia.

Pengalaman lain, Ibnu ‘Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.

Menurutnya, kitab Fushush bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu ‘Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah mengatakan, “Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).”

Oleh karenanya bagi kaum muslim yang ingin mengetahui pendapat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang ulama para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab silahkan berkunjung kepada para Wali Allah (muslim yang bermakrifat atau shiddiqin, yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya) atau kepada ulama yang sholeh kalangan para Habib dan Sayyid keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , di antara mereka. oleh Allah Azza wa Jalla masih dipertemukan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Yang sudah jelas, dalam kitab hadits shohih Imam Muslim pada bab fitnah dan tanda kiamat telah diuraikan,

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Kalian akan memerangi jazirah arab lalu Allah menaklukkannya, setelah itu Persia lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian memerangi Romawi lalu Allah menaklukkannya, selanjutnya kalian memerangi Dajjal lalu Allah menaklukkannya. Kemudian Nafi’ berkata: Hai Jabir, kami tidak berpendapat Dajjal muncul hingga Romawi ditaklukkan. (HR Muslim 5161)

Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghifari berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menghampiri kami saat kami tengah membicarakan sesuatu, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Kami menjawab: Kami membicarakan kiamat. Beliau bersabda: Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya. Beliau menyebut kabut, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ya’juj dan ma’juj, tiga longsor; longsor di timur, longsor di barat dan longsor di jazirah arab dan yang terakhir adalah api muncul dari Yaman menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka (HR Muslim 5162)

Berkata Ibnu Al Musayyib: telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga keluar sebuah api dari bumi Hijaz yang dapat menerangi leher seekor onta yang berada di Bushro. (kota di Syam, pent.) (HR Muslim 5164)

Dari Ibnu Umar ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda sementara beliau menghadap timur: “Ingat, sesungguhnya fitnah itu disini, sesungguhnya fitnah itu disini dari arah terbitnya tanduk setan.” (HR Muslim 5167)

Sedangkan pada kitab Hadits Shohih Imam Bukhari pada bab fitnah

Dari Ibnu Umar mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanjatkan doa; Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami. Para sahabat berkata; ‘ya Rasulullah, dan juga dalam Nejed kami! ‘ Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaca doa: Ya Allah, berilah kami barakah dalam Syam kami, ya Allah, berilah kami barakah dalam Yaman kami. Para sahabat berkata; ‘Ya Rasulullah, juga dalam Najd kami! ‘ dan seingatku, pada kali ketiga, beliau bersabda; Disanalah muncul keguncangan dan fitnah, dan disanalah tanduk setan muncul (HR Bukhari 6565)

Informasi tentang Najd dapat kita ketahui dari hadits

Dari Sa’id bin Abu Sa’id bahwa dia pernah mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda ke negeri Najd, lantas mereka dapat menawan dan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal seorang tokoh penduduk Yamamah (HR Muslim 3310)

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim suatu pasukan menuju daerah Najd, sedangkan Ibnu Umar termasuk dalam prajurit tersebut. Lalu pasukan tersebut mendapatkan ghanimah yang banyak sehingga masing-masing dari mereka mendapatkan dua belas unta dan masih ditambah dengan satu unta lagi untuk setiap prajurit, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak merubah ketetapan tersebut (HR Muslim 3291)

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif Al Anshari bahwa Abdullah bin Abbas pernah mengabarkan kepadanya bahwa Khalid bin Walid yang di juluki dengan pedang Allah telah mengabarkan kepadanya; bahwa dia bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menemui Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam -dia adalah bibinya Khalid dan juga bibinya Ibnu Abbas- lantas dia mendapati daging biawak yang telah di bakar, kiriman dari saudara perempuanya yaitu Hufaidah binti Al Harits dari Najd, lantas daging Biawak tersebut disuguhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sangat jarang beliau disuguhi makanan hingga beliau diberitahu nama makanan yang disuguhkan, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengambil daging biawak tersebut, seorang wanita dari beberapa wanita yang ikut hadir berkata, Beritahukanlah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai daging yang kalian suguhkan! Kami lalu mengatakan, Itu adalah daging biawak, wahai Rasulullah! Seketika itu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya, Khalid bin Walid pun berkata, Wahai Rasulullah, apakah daging biawak itu haram? Beliau menjawab: Tidak, namun di negeri kaumku tidak pernah aku jumpai daging tersebut, maka aku enggan (memakannya). Khalid berkata, Lantas aku mendekatkan daging tersebut dan memakannya, sementara Rasulullah melihatku dan tidak melarangnya. (HR Muslim 3603)

Hufaidah binti Al Harits dari Najd saudara perempuan dari Khalid bin Walid yang di juluki dengan pedang Allah yang ayahnya memiliki tanah kebun membentang dari Makkah hingga Taif.

Kaum yang akan menimbulkan fitnah adalah dicirikan seperti Dzul Khuwaishirah at Tamimi al Najdi.

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan). (Karena sangat cepatnya anak panah yang dilesakkan), maka ketika ditelitilah ujung panahnya maka tidak ditemukan suatu bekas apapun, lalu ditelitilah batang panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun lalu, ditelitilah bulu anak panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun, rupanya anak panah itu sedemikian dini menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkulit hitam yang salah satu dari dua lengan atasnya bagaikan payudara wanita atau bagaikan potongan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul pada zaman timbulnya firqah/golongan. Abu Sa’id berkata, Aku bersaksi bahwa aku mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku bersaksi bahwa ‘Ali bin Abu Thalib telah memerangi mereka dan aku bersamanya saat itu lalu dia memerintahkan untuk mencari seseorang yang bersembunyi lalu orang itu didapatkan dan dihadirkan hingga aku dapat melihatnya persis seperti yang dijelaskan ciri-cirinya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR Bukhari 3341)

Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Abdurrahman bin Abu Nu’m dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Ketika Ali bin Abi Thalib berada di Yaman, dia pernah mengirimkan emas yang masih kotor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu emas itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada empat kelompok. Yaitu kepada Aqra` bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badar Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al Amiri, termasuk Bani Kilab dan Zaid Al Khair Ath Thay dan salah satu Bani Nabhan. Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, Kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku? Abu Sa’id berkata; Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin Al Walid) meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh orang itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. (HR Muslim 1762)

Kesimpulannya ciri kaum yang menimbulkan fitnah adalah seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya, “akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya. (HR Muslim 1773)

Berhati-hatilah dalam memilih dan mengikuti hasil pemahaman (ijtihad) seorang ulama. Apalagi jika hasil pemahaman (ijtihad) ulama tersebut sering dikritik atau dibantah oleh banyak ulama lainnya.

Apalagi mengikuti pendapat seorang ulama yang sudah dinyatakan oleh ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai ulama yang dapat menyesatkan kaum muslim sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9

Jangan menimbulkan penyesalan di akhirat kelak karena salah mengikuti ulama.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)

http://mutiarazuhud.wordpress.com/

Hasad atau dengki satu daripada maksiat batin yang boleh membinasakan seseorang. Kata Imam Al-Ghazali, ia sebesar-besar kejahatan manusia yang dicela oleh syarak. Katanya lagi, ketahuilah hasad itu haram dan maknanya ialah engkau suka hilang nikmat daripada orang yang engkau dengki atau turun bala kepada orang itu (Hidayatus Salikin 206)

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

Hasad atau dengki satu daripada maksiat batin yang boleh membinasakan seseorang. Kata Imam Al-Ghazali, ia sebesar-besar kejahatan manusia yang dicela oleh syarak. Katanya lagi, ketahuilah hasad itu haram dan maknanya ialah engkau suka hilang nikmat daripada orang yang engkau dengki atau turun bala kepada orang itu (Hidayatus Salikin 206).

Sifat hasad itu mendatangkan kemurkaan ALLAH SWT. Ia boleh membinasakan diri seseorang dan amalannya. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud : “Takutlah kamu semua akan sifat dengki sebab sesungguhnya dengki itu memakan segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”.(Riwayat Abu Daud daripada Abi Hurairah Riadus Salihin 4:1441)

Menurut Imam Al-Ghazali, dengki itu ada tiga macam :
Pertama menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang dan digantikan kepadanya.

Kedua, menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang sekalipun ia tidak dapat menggantikannya, baik kerana merasa mustahil dirinya akan dapat menggantikannya atau memang kurang senang memperolehinya atau sebab lain. Asal orang itu jatuh, ia gembira. Ini lebih jahat daripada dengki yang pertama.

Ketiga, tidak ingin kalau kenikmatan orang lain itu hilang tetapi ia benci kalau orang itu mendapat kenikmatan lebih daripada kenikmatan yang dimilikinya.

Dengki hanya dimiliki orang yang berjiwa rendah dan sifat itu mendorongnya berangan-angan kosong untuk mendapatkan kenikmatan yang dimiliki orang lain. Di dalam diri setiap manusia, memang ada keinginan kepada persaingan untuk melebihi atau mendapat nikmat yang sama.

Sifat ingin bersaing secara sihat adalah halal. Ia dikenal sebagai ghibtah. Seseorang yang menyedari dirinya serba kurang, apabila melihat orang lain maju dan mendapat lebih nikmat maka ia berusaha bersungguh-sungguh seperti yang dilakukan oleh orang lain itu. Ini bukanlah dengki sebenarnya.

Ibn Masud meriwayatkan, Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud : “Tidak digalakkan adanya perasaan iri hati melainkan pada dua keadaan. Pertama, keadaan orang yang dikurniakan ALLAH SWT harta benda dan membelanjakannya kepada perkara kebajikan. Kedua keadaan orang yang dikurniakan ilmu pengetahuan Agama lalu ia beramal dengannya dan mengajarkannya”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi Mustika Hadis 106)

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menerangkan dua nikmat pemberian itu amat besar kelebihannya sehingga mustahaklah tiap-tiap orang beriri hati dan berusaha dengan bersungguh-sungguh semoga ALLAH SWT mengurniakan nikmat itu. Dengan itu dapatlah ia menggunakannya menurut cara sebaik-baiknya seperti yang digunakan oleh dua orang itu.

Kesimpulannya, hasad yang membawa kerosakan dan bala tidaklah dihalalkan. Yang dituntut oleh agama ialah iri hati untuk turut berusaha bersungguh-sungguh bagi mendapatkan nikmat ALLAH SWT dan menggunakannya kepada perkara yang diredaiNYA.

♥ ﷲ ♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 30 Muharam 1433H ~

Kesalahan-kesalahan dalam berdo'a

assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

KESALAHAN-KESAL
AHAN DALAM BERDOA

Dalam kajian kali akan dijelaskan beberapa hal yang merupakan kesalahan-kesalahan dan larangan-larangan dalam berdo'a yang dapat menyebabkan do'a jadi terhalang dan tidak diijabah oleh Allah Swt.

Kesalahan-kesalahan dalam berdo'a diantaranya:

[1]. Mengkonsumsi Makanan dan Minuman Haram, serta Memakai Pakaian Haram

Makanan, minuman dan pakaian yang haram atau berasal dari harta yang haram dapat menghilangkan kekuatan doa dan melemahkannya.

Kemudian Rasulullah menyebutkan tentang seorang yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya terurai dan berdebu, lalu mengangkat tangannya ke langit : 'Ya Rabbi, Ya Rabbi, ' sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana dia akan dikabulkan utk itu?". (HR. Muslim dan Tirmidzi)

[2]. Tergesa-gesa dan Putus Asa

Ini terjadi ketika seseorang berkata, misalnya "Aku sudah berkali-kali berdoa, namun tidak melihat tanda-tanda doaku itu diterima".

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda : "Akan dikabulkan untuk salah seorang dari kalian, selagi dia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ' aku berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadist ini, terdapat anjuran bagi seseorang untuk tidak tergesa-gesa agar doanya diterima, hingga ia tak mau lagi berdoa.

Jika demikian, dia sama persis dengan orang yang mengungkit-ungkit doanya. Atau dia merasa telah berdoa, yang dengan hal itu doanya harus dikabulkan, maka seakan-akan dia menjadi orang yang paling utama bagi Allah Swt.

Sebagian ulama mengatakan, "Ditangguhkannya pemberian meski sudah dilakukan berulang-ulang dalam doa tidak menjadi alasan bagi anda untuk berputus asa.

Karena Allah menjamin doa anda akan dikabulkan dalam bentuk yang akan Dia pilih untukmu, bukan dalam bentuk yang anda pilih. Dan dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan waktu yang anda kehendaki".

[3]. Tidak Bersungguh-sungguh dan Buruk Sangka Kepada Allah SWT

Rasulullah Saw bersabda, "Berdo'alah kalian kepada Allah dengan hati yang yakin akan dikabulkannya do'a, karena Allah tidak akan mengabulkan do'a dari hati yang lalai dan tidak bersungguh-sungguh".
(HR. Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra)

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah Saw bersabda, "Allah azza wa jalla berfirman, 'Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku akan menyertainya jika ia mengingat-Ku'". (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani ra mengatakan, "Hadits ini mengandung dorongan dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya untuk berbaik sangka, dan bahwa Dia akan memperlakukan mereka sesuai dengan persangkaan mereka itu.

[4]. Berdo'a dengan Ucapan: "Ya Allah, Jika Engkau Mau.."

Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Nabi Saw bersabda, "Janganlah seseorang berdo'a dengan mengucapkan, 'Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau mau'. Berdo'alah dengan optimis, karena Allah akan berbuat menurut kehendak-Nya tanpa ada yang bisa memaksa-Nya" (HR. Muslim)

[5]. Doa Meminta Perbuatan Dosa

Salah satu yang merusak doa adalah berdoa untuk suatu yang buruk dan jahat dan memutuskan silaturahmi.

Dalam sebuah hadist disebutkan Rasulullah Saw bersabda, "Seorang hamba akan selalu dikabulkan doanya selagi dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturahmi, selagi dia tidak tergesa-gesa" (HR. Muslim)

[6] Mendoakan Keburukan untuk Diri Sendiri, Anak, Harta dan Orang Lain

Rasulullah Saw bersabda : "Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk harta kalian. Jangan sampai kalian berada dalam suatu waktu dengan Allah yang bila digunakan utk berdoa (jelek), Allah akan mengabulkan doa (jelek) kalian." (HR. Muslim)

[7] Berdo'a Mengharap Mati

Dari Anas ra, ia berkata, "Rasulullah Saw bersabda, 'Janganlah seseorang menginginkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa harus berdo'a, maka ucapkanlah: 'Ya Allah, berilah aku kehidupan jika kehidupan memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku'". (HR. Muslim)

Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah seseorang mengharap kematian dan janganlah minta mati sebelum waktunya, karena orang yang mati itu amalnya terputus sedangkan umur seseorang mukmin tidaklah akan menambah melainkan kebaikan". (HR. Muslim)

[8]. Berdo'a Minta Disegerakan Siksa di Dunia

Dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw menjenguk seorang muslim yang sakit parah dan bergelimpangan bagai seekor burung, lalu beliau bertanya kepadanya, "Apakah kamu pernah berdo'a atau memohon sesuatu kepada Allah?.

Dia menjawab, "Ya, saya pernah berdo'a, 'Ya Allah, apa yang Engkau siksakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksa itu didunia'".

Maka Rasulullah Saw bersabda, "Subhanallah, kamu tidak akan tahan. Mengapa kamu tidak berdo'a, 'Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat, serta jagalah kami dari siksa neraka'". Maka Rasulullah Saw berdo'a kepada Allah untuk orang itu, lalu Allah menyembuhkannya". (HR. Muslim)

Ingatlah, do'a tidak selalu langsung dikabulkan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah SWT dengan sesuatu yang tidak mengandung perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal :

1. Adakalanya doa segera dikabulkan,
2. Adakalanya disimpan baginya di akhirat dan,
3. Adakalanya dia dihindarkan dari keburukan seukuran doa itu"

Para sahabat berkata, 'Karena itu kami memperbanyak doa'.
Nabi Saw bersabda, 'Allah Maha banyak memberi" (HR. Ahmad)
(berdoa.com)

Subhanakallohumma wabihamdika asyhadualla ilahaa illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

[2]. Tergesa-gesa dan Putus Asa

Ini terjadi ketika seseorang berkata, misalnya "Aku sudah berkali-kali berdoa, namun tidak melihat tanda-tanda doaku itu diterima".

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda : "Akan dikabulkan untuk salah seorang dari kalian, selagi dia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ' aku berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadist ini, terdapat anjuran bagi seseorang untuk tidak tergesa-gesa agar doanya diterima, hingga ia tak mau lagi berdoa.

Jika demikian, dia sama persis dengan orang yang mengungkit-ungkit doanya. Atau dia merasa telah berdoa, yang dengan hal itu doanya harus dikabulkan, maka seakan-akan dia menjadi orang yang paling utama bagi Allah Swt.

Sebagian ulama mengatakan, "Ditangguhkannya pemberian meski sudah dilakukan berulang-ulang dalam doa tidak menjadi alasan bagi anda untuk berputus asa.

Karena Allah menjamin doa anda akan dikabulkan dalam bentuk yang akan Dia pilih untukmu, bukan dalam bentuk yang anda pilih. Dan dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan waktu yang anda kehendaki".

[3]. Tidak Bersungguh-sungguh dan Buruk Sangka Kepada Allah SWT

Rasulullah Saw bersabda, "Berdo'alah kalian kepada Allah dengan hati yang yakin akan dikabulkannya do'a, karena Allah tidak akan mengabulkan do'a dari hati yang lalai dan tidak bersungguh-sungguh".
(HR. Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra)

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah Saw bersabda, "Allah azza wa jalla berfirman, 'Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku akan menyertainya jika ia mengingat-Ku'". (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani ra mengatakan, "Hadits ini mengandung dorongan dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya untuk berbaik sangka, dan bahwa Dia akan memperlakukan mereka sesuai dengan persangkaan mereka itu.

[4]. Berdo'a dengan Ucapan: "Ya Allah, Jika Engkau Mau.."

Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Nabi Saw bersabda, "Janganlah seseorang berdo'a dengan mengucapkan, 'Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau mau'. Berdo'alah dengan optimis, karena Allah akan berbuat menurut kehendak-Nya tanpa ada yang bisa memaksa-Nya" (HR. Muslim)

[5]. Doa Meminta Perbuatan Dosa

Salah satu yang merusak doa adalah berdoa untuk suatu yang buruk dan jahat dan memutuskan silaturahmi.

Dalam sebuah hadist disebutkan Rasulullah Saw bersabda, "Seorang hamba akan selalu dikabulkan doanya selagi dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturahmi, selagi dia tidak tergesa-gesa" (HR. Muslim)

[6] Mendoakan Keburukan untuk Diri Sendiri, Anak, Harta dan Orang Lain

Rasulullah Saw bersabda : "Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk harta kalian. Jangan sampai kalian berada dalam suatu waktu dengan Allah yang bila digunakan utk berdoa (jelek), Allah akan mengabulkan doa (jelek) kalian." (HR. Muslim)

[7] Berdo'a Mengharap Mati

Dari Anas ra, ia berkata, "Rasulullah Saw bersabda, 'Janganlah seseorang menginginkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa harus berdo'a, maka ucapkanlah: 'Ya Allah, berilah aku kehidupan jika kehidupan memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku'". (HR. Muslim)

Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah seseorang mengharap kematian dan janganlah minta mati sebelum waktunya, karena orang yang mati itu amalnya terputus sedangkan umur seseorang mukmin tidaklah akan menambah melainkan kebaikan". (HR. Muslim)

[8]. Berdo'a Minta Disegerakan Siksa di Dunia

Dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw menjenguk seorang muslim yang sakit parah dan bergelimpangan bagai seekor burung, lalu beliau bertanya kepadanya, "Apakah kamu pernah berdo'a atau memohon sesuatu kepada Allah?.

Dia menjawab, "Ya, saya pernah berdo'a, 'Ya Allah, apa yang Engkau siksakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksa itu didunia'".

Maka Rasulullah Saw bersabda, "Subhanallah, kamu tidak akan tahan. Mengapa kamu tidak berdo'a, 'Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat, serta jagalah kami dari siksa neraka'". Maka Rasulullah Saw berdo'a kepada Allah untuk orang itu, lalu Allah menyembuhkannya". (HR. Muslim)

Ingatlah, do'a tidak selalu langsung dikabulkan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah SWT dengan sesuatu yang tidak mengandung perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal :

1. Adakalanya doa segera dikabulkan,
2. Adakalanya disimpan baginya di akhirat dan,
3. Adakalanya dia dihindarkan dari keburukan seukuran doa itu"

Para sahabat berkata, 'Karena itu kami memperbanyak doa'.
Nabi Saw bersabda, 'Allah Maha banyak memberi" (HR. Ahmad)
(berdoa.com)

Jangan pernah tinggalkan solat kerana ada jutaan manusia di dalam kubur yang ingin kembali dihidupkan hanya untuk bersujud kepada ALLAH SWT

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.


Jangan pernah tinggalkan solat kerana ada jutaan manusia di dalam kubur yang ingin kembali dihidupkan hanya untuk bersujud kepada ALLAH SWT

Jangan lengahkan solat
Semoga kita beroleh kejayaan di dunia dan juga di akhirat
Aaamiiin Ya Robbal Alamiiiin

♥ الله♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 29 Muharam 1434H ~

Kelebihan Bersedekah

Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan sekelian alam.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

Kelebihan Bersedekah

“Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum sampai ajal maut seseorang dari kamu, (kalau tidak) maka ia (pada saat itu) akan merayu dengan berkata : “Wahai Tuhanku! Alangkah baiknya jika Engkau lambatkan kedatangan ajalku sekejap lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi dari orang yang soleh”
(QS Al-Munafiquun : Ayat 10 )

Sedekah berasal dari kata shadaqa yang bererti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariat, pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq iaitu mengeluarkan sebahagian dari harta untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam. Namun begitu, sedekah memberi maksud yang lebih luas daripada infaq kerana infaq hanya berkaitan dengan material, manakala sedekah merangkumi material dan non-material. Walaupun kebanyakan kalimah sedekah yang disebut dalam Al-Qur’an membawa maksud berzakat, namun perkara yang diperhatikan adalah bahawa, jika seseorang itu telah berzakat tetapi masih mempunyai kelebihan harta, sangat dianjurkan untuk berinfaq dan bersedekah. Selain daripada sedekah wajib, umat Islam digalakkan memberi sedekah sunat sebagai tanda kesyukuran akan nikmat yang dikurniakan ALLAH SWT terutamanya nikmat Islam.

Firman ALLAH SWT : "Bandingan pemberian orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan ALLAH, sama seperti sebiji benih yang tumbuh mengeluarkan tujuh tangkai, setiap tangkai itu mengandungi 100 biji. Dan ingatlah, ALLAH akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNYA dan ALLAH Maha Luas (rahmatNYA) lagi meliputi ilmu pengetahuanNYA". (QS Al-Baqarah : Ayat 261 )

Sabda Rasulullah SAW : "Sesungguhnya sedekah seseorang muslim itu memanjangkan umur dan mencegah dari mati dalam keadaan buruk dan ALLAH SWT pula menghapuskan sikap sombong dan membangga diri si penderma dengan sebab sedekahnya" (HR. Tabrani)

Sabda Rasulullah SAW : "Segeralah kamu bersedekah, kerana bala bencana itu tidak dapat melangkahi sedekah" (HR Al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah ra katanya : Seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW lalu bertanya : “Wahai Rasulullah! Sedekah mana satu yang lebih besar? Nabi SAW menjawab : Engkau bersedekah ketika sihat dan sangat sayangkan hartamu; ketika engkau takutkan kepapaan dan berharap hendakkan kaya-raya. Janganlah engkau bertangguh untuk bersedekah, sehingga apabila nyawa sampai ke kerongkong, barulah engkau berkata : Aku mahu bersedekah untuk si anu.. sekian untuk si anu dan sekian lagi untuk si anu” (HR Al-Bukhari)

Sedekahlah kamu dengan harta atau wang ringgit kamu sebelum datangnya hari di mana kamu pula yang disedekahkan dengan Al-Fatihah.

♥ الله♥

♥ ALLAH SWT MELIHAT ♥ ~ ♥ MALAIKAT MENCATAT ♥

~ 28 Muharam 1434H ~

9 Nama Syaitan

assalamualaikum
warohmatullohi wabarokaatuhu.

Khalifah Umar bin Khatthab r.a. Berkata: Anak keturunan syaitan ada 9,
yaitu:zalitun-watsin-liqaus-a'wan-haffaf-murrah-muwasith-dasim-wilhan.

1.Zalitun adlh penguasa pasar yg memancangkan bendera(mengajak pedagang untk berbuat serong,dusta,menipu timbangan).

2.Watsin adlh penguasa bencana(senang membuat kegaduhan)

3.Liqaus adlh pendamping penyembah api(yg membuat orang enggan beribadah)

4.A'wan adlh pendamping penguasa(yang menghembus-hembuskan kezaliman)

5.Haffaf adlh pendamping peminum(arak)

6.Murrah adlh pendamping buluh perindu.

7.Muwasith adlh penguasa berita(dusta)yg mengedarkan berita dari mulut ke mulut,sehingga tidak di ketahui asal usul berita itu.

8.Dasim adlh penguasa rumah untuk mengganggu penghuninya yang tidak mengucapkan salam atau tidak ingat kepada Alloh,sehingga di antara mereka berselisih dan bercerai atau saling memukul.

9.Wihan adlh pengganggu wudhu,shalat dan ibadah lain(sehingga timbul was-was dalam diri )

Labels

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik