Awas! RIYA'

:: Sorokkan kecantikanmu, sepertimana engkau sorokkan keburukanmu ::
:: Sorokkan kebaikanmu sepertimana engkau sorokkan kejahatanmu ::
:: Sorokkan kejayaanmu sepertimana engkau sorokkan kegagalanmu ::

Awas! RIYA' penghapus pahala amalan! =)
READ MORE →
Bagikan Ke :

Ringkas tapi penuh makna.Bacaan di antara dua sujud

1) Rabbighfirli (Tuhanku, ampuni aku)
2) Warhamni (sayangi aku)
3) Wajburnii (tutuplah aib-aibku)
4) Warfa’nii (angkatlah darjatku)
5) Warzuqnii (berilah aku rezeki)
6) Wahdinii (berilah aku petunjuk)
7) Wa’Aafinii (sihatkan aku)


7 senjata (doa) ini sering dibaca dalam solat ketika duduk antara dua sujud. Namun kadang kala jarang juga mengamati maknanya. Mungkin kerana ia hanya sunat. Jadi acuh tak acuh pun tidak menjejaskan solat.

Namun, ini adalah bacaan yang Nabi ajar 1400 tahun yang lampau kepada generasi terawal, dan kerana perkara kecil inilah Nabi mampu membentuk manusia hebat ketika itu.

Sekarang bagimana? Kecil pun tak buat, yang besar lagilah payah.Bukanlah banyaknya amalan itu menjadi pengukur hebatnya seseorang di sisi Allah, tetapi, sejauh mana setiap tindakan itu terus berkekalan, ada fokus dan ikhlas untuk-Nya.

Wallahua'lam.
READ MORE →
Bagikan Ke :

Zainab

Nama dan Nasab Zainab

Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya. Sifat-sifatnya Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya.

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya, وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِ كْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَاال لهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَ لَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri -isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. ” (QS. Al-Ahzab: 37) Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab biasa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan, “Kalian dinikahkan oleh Allah dari atas Arsy- Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al- Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa ’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih). Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’

Kemudian datanglah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘ Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘ Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘ Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah, مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ ال لهِ “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. ” (QS. Al-Ahzab: 40) Dan Allah berfirman, ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5) Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al- Isti’ab, 4:1849-1850)


Turunnya Ayat Hijab

Anas bin Malik berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang turunnya ayat hijab, ketika terjadi pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan hidangan dan mengundang para sahabat sehingga mereka datang dan masuk ke rumahnya. Ketika itu Zainab sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah, kemudian para sahabat berbincang-bincang, saat itu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian kembali dalam keadaan para sahabat duduk-duduk di rumahnya, saat itu turunlah firman Allah, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلآَّ أَن يُؤْذَ نَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُ مْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلاَمُسْتَئْنِسِينَ لِ حَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِ مِنكُمْ وَاللهُ لاَيَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak ( makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu ( keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir).” (QS. Al-Ahzab: 53) Saat itu berdirilah para sahabat dan diulurkan hijab. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra , 8:105-106 dengan sanad yang shahih)


Keutamaan-keutamaan Zainab

Aisyah berkata, “Zainab binti Jahsyi yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851) Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada istri-istrinya, ‘yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya,’ Aisyah berkata, ‘Maka kami setelah itu jika berkumpul saling mengukur tangan-tangan kami di tembok sambil melihat mana yang paling panjang, tidak henti-hentinya kami melakukan hal itu sampai saat meninggalnya Zainab, padahal dia adalah wanita yang pendek dan tidaklah tangannya paling panjang di antara kami, maka tahulah kami saat itu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkan panjang tangan adalah yang paling banyak bershadaqah. Adalah Zainab seorang wanita yang biasa bekerja dengan tangannya, dia biasa menyamak dan menjahit kemudian menshadaqahkan hasil kerjanya itu di jalan Allah’,” (Muttafaq Alaih) Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar, “Sesungguhnya Zainab adalah wanita yang awwahah.” Seseorang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan awwahah wahai Rasulullah?” Rasulullahs shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang khusyu lagi merendahkan diri di hadapan Allah.” (Al-Isti’ab, 4:1852) Dari Barzah binti Rofi dia berkata, “Suatu saat Umar mengirimkan sejumlah uang kepada Zainab, ketika sampai kepadanya Zainab berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Umar, sebenarnya selain aku lebih bisa membagi- bagikan ini,’ mereka berkata, ‘Ini semua untukmu,’ Zainab berkata, ‘Subhanallah, letakkanlah uang-uang itu dan tutupilah dengan selembar kain!’ kemudian dia bagi- bagikan uang itu kepada kerabatnya dan anak-anak yatimnya dan dia berikan sisanya kepadaku yang berjumlah delapan puluh lima dirham, kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Ya Allah jangan sampai aku mendapati pemberian Umar lagi setelah tahun ini.’ Tidak lama kemudian dia meninggal dunia.” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106) Peran Zainab di Dalam Penyebaran Sunah- sunah Rasulullah Zainab binti Jahsyi termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjaga dan menyampaikan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara deretan perawi yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah saudaranya Muhammad bin Abdullah bin Jahsyi, Ummul Mu’minin Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Zainab bintu Abi Salamah, dan selain mereka dari kalangan shahabat dan tabi’in.


Wafatnya Zainab

Zainab binti Jahsyi wafat di Madinah pada tahun 20 Hijriyyah di masa kekhilafahan Umar , saat Mesir ditaklukkan oleh kaum muslimin, waktu itu beliau berusia 53 tahun. Beliau dikuburkan di pekuburan Baqi. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan kebaikan yang melimpah. Rujukan: Thabaqoh Kubra oleh Ibnu Sa’ad (8:101-1150, Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Zubair bin Bakar (1:48), Dalail Nubuwwah 1:40-41 oleh Firyabi, Siyar A’lamin Nubala oleh Adz-Dzahabi (2:211-218), Al- Ishabah oleh Ibnu Hajar (7:667-669), dan Al- Isti’ab oleh Ibnu Abdil Barr. (4/1849-1452). Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun III
READ MORE →
Bagikan Ke :

Wanita Perhiasan Dunia

Assalamualaikum Warohmatullohi wa Barokaatuh

Laa ilahaa illalloh....
Subhanalloh alhamdulillah Allohuakbar


Saudaraku.....
Jika banyak digemborkan kesetaraan gender di seluruh negeri di dunia ini, bagi mereka wanita itu harus sama derajadnya dengan laki-laki, baik dari segi reputasi, hak kedudukan, karir dll. Itu adalah angapankaum-kaum yang menggunakan kacamata materialisme.

Yaa?.. tidak salah tapi bagi mereka. Akan tetapi kalau kita cermati lebih dalam, dengan membandingkan dengan perbagai perpektif ilmu tentu saja ini adalah produk-produk liberal, mungkin produk-produk orang sekuler. Mengingat peranan seorang wanita ini amatlah vital, pemikiran ini seyogyanya perlu diteliti ulang agar kelangsungan hidup manusia bernegara dan beragama dimuka bumi ini tetap berlangsung dengan baik.

Coba kita gunakan kacamata yang berbeda dengan mereka, coba kita gunakan kacamata hakiki(hakekat), dengan itu kita bisa melihat bahwa keberadaan Wanita itu lebih mulia dibandingkan dengan laki-laki. Bayangkan saja jika wanita menjalankan kodratnya sebagai Umi (Ibu) yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan. Tentunya pemimpin-pemimpin yang akan mengubah dunia ini menjadi lebih baik, baik di hadapan Allah maupun dihadapan dunia ini.

Dari situ kita bisa menilai, bahwa seorang umi itu sungguh sangat mulia tegak dan hancurnya sebuah negara tergantung dari wanita yang ada di negara tersebut.

Dari perspekti Islam, Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda
"dunia itu adalah harta, tapi sebaik-baik harta adalahwanita yang sholihah)."

Wanita di dalam islam mendapatkan berbagai perlakuan khusus, tanpa mengurangi derajadnya dan andilnya di muka bumi ini. Mulai dari keringanan sholat dan puasa ketika Haid, sampai dengan kelimpahan pahala dalam menjalankan ibadah kepada Allah.

Akan tetapi wanita itu akan menjadi sumber benca dimuka bumi ini jika telah meninggalkan kodratnya sebgai seorang wanita,seperti yang disabdakan Rasulluloh Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam

"Tidak aku tinggalkan fitnah yang lebih besar setelah ku selain daripada wanita"

Dari dasar diatas mestinya seorang wanita bisa memilih dengan benar, bagaimana harus bersikap didalam hidupnya (tinggal pilih : ingin menjadi wanita yang benar-benar mulai ataukah menjadi sekeji-kejinya fitnah), mestinya setiap manusia diberikan petunjuk untuk membedakan mana yang seharusnya dipilih antara kebaikan dan keburukan.

Dari berbagai perspektif diatas harapan saya seorang wanita bisa menjalankan kodratnya sebagai seorang Umi (ibu) yang memang sangat beperan bagi kelangsungan hidup manusia.

Menjadi ibu yangbenar-benar sadar bahwa tanpa peranannya, kehidupan bernegara dan beragama tidak akan berjalan dengan baik. Bagi wanita yang memang sudah memiliki profesi, harus memiliki kemampuan yang ekstra dalam menjalankan aktivitas profesinya dan juga bisa menjalankan fungsi utamanya sebagai Umi.

Umi yang mengorientasikan pendidikan bagi putra-putranya, umi yang bisa menjadi pembangkit gairah bagi suami tercintanya, serta umi yang berorientasi mulia dihadapan Allah.Dengan berjalannya waktu dan akhirnya zaman lama berganti zaman baru, wanita tetaplah wanita,tidak akan pernah wanita menjadi laki-laki, bisa akan tetapi menyalahi fungsi, coba kita bayangkan jika semua manusia berlaku seperti itu, tentu saja dunia ini akan musnah (hancur karena perilaku menyimpang manusia itu sendiri)Wallohu'Alam....

(copyright)
READ MORE →
Bagikan Ke :

..:::Memakai Wewangian:::..

...::Bismillahirrohmaanirrohim::...

Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mencintai keindahan. Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengajarkan kepada umatnya agar mencintai keindahan.

Dalam keseharian, banyak hal yang bisa dilakukan agar seseorang tampak rapi dan bersih. Di antaranya, memakai wewangian. Rasulullah SAW adalah orang yang suka dengan wewangian. Dari Anas Radhiyallahu anhu (RA), Nabi bersabda, ”Aku dikaruniai rasa cinta dari dunia kalian; wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat” (Riwayat an-Nasa`i, Ahmad, dan al-Hakim)

Namun, ibarat bumbu masakan, porsi parfum tersebut harus pas, tak boleh berlebihan. Demikian juga dengan waktu dan tempat pemakaiannya. Berikut beberapa aturan yang terkait dengan hal tersebut:

1. Sunnah Memakainya Sebelum Ke Masjid

Memakai wewangian termasuk berhias, disunnahkan ketika hendak berangkat ke masjid. Firman Allah, “Wahai anak cucu Adam, pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang bagus pada setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf [7]: 31).

Memakai parfum juga termasuk perkara yang disunnahkan ketika shalat Jum’at, shalat Ied, dan ibadah-ibadah lainnya.

2. Boleh Memakai Ketika Berpuasa

Hukum bersiwak, memakai minyak rambut, wangi-wangian, celak mata, dan beberapa hal lainnya termasuk perkara yang dibolehkan ketika berpuasa. Sebab, ia kembali kepada hukum asal sesuatu yaitu mubah (boleh), selama tak ada dalil yang melarangnya.

Namun, ada aturan khusus bagi wanita dalam masalah ini, di antaranya:

a. Tidak Memakai Saat Keluar Rumah

Berbeda halnya dengan kaum lelaki, seorang Muslimah tak diperkenankan memakai wewangian ketika hendak ke masjid. Ini demi menjaga kehormatan para wanita. Rasulullah SAW bersabda: ”Tidaklah diterima shalat seorang perempuan yang berangkat ke masjid sedang ia memakai parfum. Kecuali ia mandi sebagaimana mandi janabat.” (Riwayat Abu Daud).

Dalam riwayat lain disebutkan, ”Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah (perempuan) untuk mendatangi masjid. Tapi hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.” (Riwayat Abu Daud).

Larangan itu juga berlaku untuk keluar rumah. Sabda Nabi SAW, ”Wanita mana saja yang memakai wewangian, lalu ia keluar rumah dan melewati suatu kaum (orang banyak) agar mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina.” (Riwayat Ahmad dan al-Hakim. Disepakati oleh Imam adz-Dzahabi).

Kenapa dilarang? Tak lain karena wangi perempuan dapat menimbulkan syahwat laki-laki dan menarik perhatian mereka. Alhasil, terjadilah zina mata yang bisa berujung kepada dosa yang lebih besar lainnya.

b. Hanya untuk Suami atau di Dalam Rumah

Islam mengajarkan wanita agar mengkhususkan wewangian buat sang suami saja atau ketika berada di dalam rumah. Sebagaimana pesan Nabi SAW kepada para wanita, ”Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya, dan hartamu disaat engkau pergi.” (Riwayat at-Thabrani).

c. Tak Memakainya Ketika Sedang Berkabung

Dari Ummu Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang wanita berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari. Kecuali atas kematian suaminya, ia berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Janganlah ia mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashab (kain berasal dari Yaman yang dipintal kemudian dicelup), jangan memakai celak, jangan memakai parfum kecuali ia suci dari haidh, hendaklah ia mengambil sepotong qusth atau azhfaar (jenis tumbuhan yang diolah untuk parfum).” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Wallahu a'lam bhis showab..
READ MORE →
Bagikan Ke :

Apakah Mahrom itu?

Banyak sekali hukum tentang pergaulan wanita muslimah yang berkaitan erat dengan masalah mahrom, seperti hukum safar, kholwat (berdua-duaan), pernikahan, perwalian dan lain-lain. Ironisnya, masih banyak dari kalangan kaum muslimin yang tidak memahaminya, bahkan mengucapkan istilahnya saja masih salah, misalkan mereka menyebut dengan "Muhrim" padahal muhrim itu artinya adalah orang yang sedang berihrom untuk haji atau umroh. Dari sinilah, maka kami mengangkat
masalah ini agar menjadi bashiroh (pelita) bagi umat. Wallahu Al Muwaffiq.

DEFINISI MAHROM

Berkata Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, "Mahrom adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena seba nasab, persusuan dan pernikahan." (Al-Mughni /555)

Berkata Imam Ibnu Atsir rahimahullah, " Mahrom adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, anak, saudara, paman, dan lain-lain". ( An-Nihayah 1/373)

Berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan, " Mahrom wanita adalah suaminya dan semua orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab seperti bapak, anak, dan saudaranya, atau dari sebab-sebab mubah yang lain seperti saudara sepersusuannya, ayah atau pun anak tirinya". (Tanbihat 'ala Ahkam Takhtashu bil mu'minat hal; 67)

MACAM-MACAM MAHROM

Dari pengertian di atas, amak mahrom itu terbagi menjadi tiga macam.

A. Mahrom karena nasab (keluarga)

Mahrom dari nasab adalah yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam surat An-Nur 31:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka,..."

Para ulama' tafsir menjelaskan: " Sesungguhnya lelaki yang merupakan mahrom bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, mereka adalah:
1. Ayah (Bapak-bapak)
Termasuk dalam katagori ayah (bapak) adalah kakek, baik dari bapak maupun ibu. Juga bapak-bapak merke ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk mahrom berdasarkan firman Allah Ta'ala;
"dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu
.... "(Al-Ahzab: 4)
Dan berkata Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi rahimahullah, "Difahami dari firman Allah Ta'ala " Dan istri anak kandungmu ..." (QS. An Nisa: 23) bahwa istri anak angkat tidak termasuk diharamkan, dan hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 4, 37,40" (Adlwaul Bayan 1/232)
Adapun bapak tiri dan bapak mertua akan dibahas pada babnya.
2. Anak laki-laki
Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah: cucu, baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka.
Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahrom berdasarkan keterangan di atas. Dan tentang anak tiri dan anak menantu akan dibahas pada babnya.
3. Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapak atau seibu saja.
4. Anak laki-laki saudara (keponakan), baik dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keterunan mereka. (Lihat Tafsir Qurthubi 12/232-233)
5. Paman, baik dari baka atau pun dari ibu.
Berkata syaikh Abudl karim Ziadan;" Tidak diebutkan paman termasuk mahrom dalam ayat ini (An-Nur 31) dikarenakan kedudukan paman sama seperti kedudukan orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak, Allah berfirman;
"Adakah kamu hadir ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:"Apa yang kamu sembah sepeninggalku". Mereka menjawab:"Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim, Isma'il, dan Ishaq, ...". (QS. 2:133)
Sedangkan Ismai'il adalah paman dari putra-putra Ya'qub. (lihat Al-Mufashal Fi Ahkamil Mar;ah 3/159)

Bahwasannya paman termasuk mahrom adalah pendapat jumhur ulama'. Hanya saja imam Sya'bi dan Ikrimah, keduanya berpendapat bahwa paman bukan termasuk mahrom karena tidak disebutkan dalam ayat (An-Nur 31), juga dikarenakan hukum paman mengikuti hukum anaknya." (Lihat afsir Ibnu Katsir 3/267, Tafsir Fathul Qodir 4/24, dan Tafsir Qurthubi 12/155)

B. Mahrom karena Persusuan

Pembahasan ini dibagai menjadi beberapa fasal sebagai berikut:

a. Definisi hubungan persusuan
Persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu. (Al Mufashol Fi Ahkamin Nisa' 6/235)
Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahrom adalah lima kali persusuan pada hadits dari Aisyah radhiallahu 'anha,
"Termasuk yang di turunkan dalam Al-Qur'an bahwa sepuluh kali pesusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan." (HR Muslim 2/1075/1452, Abu Daud 2/551/2062, tumudhi 3/456/1150 dan lainnya) Ini adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama'. (lihat Nailul Author 6/749, Raudloh Nadiyah 2/175)

b. Dalil hubungan mahrom dari hubungan persusuan.
" ... juga ibu-ibumu yang menyusui kamu serta saudara perempuan sepersusuan ..." (QS An-Nisa' : 23)
Sunnah :
Dari Abdullah Ibnu Abbas radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda :
"Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab." (HR Bukhori /222/2645 dan lainnya)

c. Siapakah mahrom wanita sebab persusuan?
Mahrom dari sebab persusuan seperti mahrom dari nasab yaitu:
1. Bapak persusuan (Suami ibu susu)
Termasuk juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka di atas.
2. Anak laki-laki dari ibu susu
Termasuk di dalamnya adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.
3. Saudara laki-laki sepersusuan, baik kandung maupun sebapak, atau seibu dulu.
4. Keponakan sepersusuan (anak saudara persusuan), bail persusuan laki-laki atau perempuan, juga keturuanan mereka
5. Paman persusuan (Saudara laki-laki bapak atau ibu susu)
(Lihat Al Mufashol 3/160 dengan beberapa tambahan)

C. Mahrom karena Mushoharoh

a. Definisi Mushoharoh
Berkata Imam Ibnu Atsir; " Shihr adalahmahrom karena pernikahan." (An Niyah 3/63)
Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan; " Mahrom wanita yang disebabkan mushoharoh adalah orang-orang yang haram menikah dengan wanita tersebut selam-lamanya seperti ibu tiri, menantu perempuan, mertua perempuan. (Lihat Syarah Muntahal Irodah 3/7)

b. Dalil mahrom sebab Mushaharoh
Firman Allah;
"dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka,..(An-Nur 31)
"Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu,... (An-Nisa' 22)
"Diharamkan atas kamu (mengawini) ...ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya;(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu);,...(QS. 4:23)

c. Siapakah mahrom wanita dari sebab mushoharoh
Ada lima yakni :
1. Suami
Berkata Imam Ibnu Katsir ketika manafsirkan friman Allah Ta'ala surat An Nur 31:
" Adapun suami, maka semua ini (bolehnya menampakkan perhiasan, perintah menundukkan pandangan dari orang lain-pent-) memang diperuntukkan baginya. Mka seorang istri berbuat sesuatu untuk suaminya yang tidak dilakukannya dihadapan orang lain.: (Tafsir Ibnu Katsir 3/267)

2. Ayah mertua (Ayah suami)
Mencakup ayah suami datu bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka ke atas. (Lihat Tafsir sa'di hal 515, Tafsir Tahul Qodir 4/24 dan Al-Qurthubi 12/154)

3. Anak tiri (Anak suami dari istri lain)
Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka (lihat Tafsir Tahul Qodir 4/24 dan Al-Qurthubi 12/154)

4. Ayah tiri (Suami ibu tapi bukan bapk kandungnya)
Maka haram bagi seorang wanita untuk dinikahi oleh ayah tirinya, kalau sudah berjima' dengan ibunya. Adapun kalau belum maka hal itu dibolehkan (lihat Tafsir Qurthubi 5/74)

5. Menantu laki-laki (Suami putri kandung) (lihat Al Mufashol 3/162)
Dan kemahroman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya. (Lihat TAfisr Ibnu Katsir 1/417)

Disalin dengan sedikit diringkas dari: Majalah "Al Furqon", Edisi 3
Th. II, Syawal 1423, hal 29
READ MORE →
Bagikan Ke :

Puasa Tapi Tidak Berjilbab....



assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita telah mengetahui bersama mengenakan jilbab adalah suatu hal yang wajib. Sebagaimana kewajibannya telah disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-tengah kita, masih banyak yang belum sadar akan jilbab termasuk pada bulan Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab. Semoga bermanfaat.

Kewajiban Mengenakan Jilbab

Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).

Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 190-191).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na'udzu billahi min dzalik.

Puasa Harus Meninggalkan Maksiat

Setelah kita tahu bahwa tidak mengenakan jilbab adalah suatu dosa atau suatu maksiat, bahkan mendapat ancaman yang berat, maka keadaan tidak berjilbab tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang yang berpuasa. Kita tahu bersama bahwa maksiat akan mengurangi pahala orang yang berpuasa, walaupun status puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan haus saja, pahala tidak diperoleh atau berkurang karena maksiat. Bahkan Allah sendiri tidak peduli akan lapar dan haus yang ia tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277).

Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308).

Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117).

Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah wanita yang tidak berjilbab ketika puasa. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Pelan-pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah sebagaimana kata ulama salaf, "Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan."

Belum Mau Berjilbab

Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki?
Kami jawab, "Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji'ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan"

Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas?
Kami jawab, "Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?" Coba direnungkan!

Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing?
Kami jawab, "Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing."

Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab?
Kami jawab, "Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So ... jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab."

Perkataan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berikut seharusnya menjadi renungan,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

"Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu." (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas.

Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 4 Ramadhan 1432 H (04/08/2011)

www.rumaysho.com

~ 18 Ramadhan 1433H ~

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilahaa illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
READ MORE →
Bagikan Ke :

MEMOTONG KUKU FITRAH ROSULULLOH SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM



Kuku ialah selaput atau bahagian keras yang tumbuh pada ujung jari manusia, benda keras yang menganjur yang tumbuh pada ujung kaki binatang (ada yang besar dan ada yang panjang dan tajam).

Kuku yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala mempunyai peranan dan kepentingannya yang tersendiri kepada manusia. Dalam hukum Islam, kuku berperan alam beberapa perkara hukum yang tidak seharusnya diabaikan oleh umat Islam. Walaupun ia dilihat hanya seolah-olah perkara kecil, namun kadang-kadang ia adalah perkara besar, sebagai contoh kuku bisa menyebabkan tidak sah wudhu atau mandi junub, jika air tidak atau terhalang sampai ke kuku.

Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan kuku dari segi hukum, hikmah memotong kuku, memanjangkan dan mewarnanya

1. Hukum Dan Hikmah Memotong Kuku

Memotong kuku adalah termasuk dalam amalan sunah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari 'Aisyah Radhiallahu 'anha yang maksudnya: "Sepuluh perkara dikira sebagai fitrah (sunnah): memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air (beristinja), berkata Zakaria: "berkata Mus'ab: "Aku lupa yang kesepuluh kecuali berkumur." (Hadis riwayat Muslim)

Memotong kuku adalah sunah bagi lelaki dan perempuan sama ada kuku tangan atau kaki.

Adapun hikmah daripada memotong kuku ialah menghilangkan segala kotoran yang melekat atau berkumpul di celah kuku, yang mana kotoran tersebut bisa menghalangi sampainya air ketika bersuci.

Selain daripada itu, jika kuku itu pula dibiarkan panjang dan segala kotoran atau najis melekat di dalamnya, nescaya ia bisa berpengaruh pada kesihatan.

2. Cara Dan Benda Untuk Memotong Kuku

Sunah memotong kuku dimulai daripada tangan kanan kemudian tangan kiri, memotong kuku kaki kanan kemudian kaki kiri.

Menurut Imam an-Nawawi, sunah memotong kuku dimulai jari tangan kanan keseluruhannya daripada jari telunjuk sehingga jari kelingking kemudian tangan kiri dari jari kelingking sehingga ibu jari.

Sementara kuku kaki pula, dimulai kaki kanan dari jari kelingking sehinggalah ibu jari kemudian kaki kiri daripada ibu jari sehinggalah kelingking.

Harus seseorang itu memotong kukunya dengan menggunakan gunting, pisau atau benda yang khas yang tidak menyebabkan mudharat pada kuku atau jari seperti yang dikenali sebagai alat pemotong kuku.

Setelah selesai memotong kuku, sayogyanya segera membasuh tangan (tempat kuku yang telah dipotong) dengan air. Ini kerana jika seseorang itu menggaruk pada anggota lain, ditakuti akan menghidap penyakit kusta.

Menurut kitab al-Fatawa al-Hindiyah dalam mazhab Hanafi bahawa makruh memotong kuku dengan menggunakan gigi kerana ia boleh mewarisi penyakit kusta.

3. Waktu Memotong Kuku

Dalam perkara memotong kuku, waktu juga diambil kira dan diambil perhatian dalam Islam. Adapun waktu memotong kuku itu tergantung pada panjang kuku tersebut. Kapanpun diharuskan memotong kuku apabila seseorang itu berkehendak pada memotongnya.

Akan tetapi janganlah membiarkan kuku tersebut tidak dipotong sehingga melebihi empat puluh hari. Sebagaimana diriwayatkan daripada Anas bin Malik yang maksudnya :

"Telah ditentukan waktu kepada kami memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih daripada empat puluh malam."
(Hadis riwayat Muslim)

Adapun menurut Imam asy-Syafi'e dan ulama-ulama asy-Syafi'yah, sunah memotong kuku itu sebelum mengerjakan sembahyang Juma'at, sebagaimana disunahkan mandi, bersiwak, berharuman, berpakaian rapi sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan sembahyang Juma'at.

Diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri dan Abu Hurairah

Radhiallahu 'anhuma berkata yang maksudnya :

Maksudnya: "Bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: "Sesiapa yang mandi pada hari Juma'at, bersiwak, berwangian jika memilikinya dan memakai pakaian yang terbaik kemudian keluar rumah sehingga sampai ke masjid, dia tidak melangkahi (menerobos masuk) orang-orang yang telah bersaf, kemudian dia mengerjakan sembahyang sembahyang sunah, dia diam ketika imam keluar (berkhutbah) dan tidak berkata-kata sehingga selesai mengerjakan sembahyang, maka jadilah penebus dosa di antara Juma'at itu dan Juma'at sebelumnya."
(Hadis riwayat Ahmad)

Daripada Abu Hurairah katanya yang

maksudnya : "Bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam memotong kuku dan mengunting kumis pada hari Juma'at sebelum Baginda keluar untuk bersembahyang."


Hari-Hari Memotong kuku

(Riwayat al-Bazzar dan ath-Thabrani) Sementara menurut Ibnu Hajar Rahimahullah pula, sunah memotong kuku itu pada hari Khamis atau pagi Juma'at atau pada hari Isnin.

Terdapat dalam sebuah hadith Nabi Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bermaksud;
“Barangsiapa memotong kuku atau mengerat kuku pada hari;
SABTU -> Mempusakai penyakit akilah (yang disebabkan banyak makan)
AHAD -> Hilang berkat
ISNIN-> Mempusakai alim fadhil (berilmu dan mempunyai kelebihan)
SELASA -> Mempusakai kebinasaan
RABU -> Mempusakai jahat perangai
KHAMIS -> Mempusakai kaya
JUMAAT -> Mempusakai ilmu dan lemah lembut
(Dipetk dari kitab Al-Jauharul Mauhub Wa Munabbahatul

Qulub Jilid 1)


4. Menanam Potongan Kuku

Islam sangat perihatin terhadap memuliakan anak Adam termasuk memuliakan anggota badan manusia. Potongan-potong
an kuku sunah ditanam di dalam tanah sebagai tanda menghormatinya, kerana ia salah satu daripada anggota manusia. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fath al-Bari, bahawa Ibnu 'Umar Radhiallahu 'anhu menanam potongan kuku.

5. Memotong Kuku Ketika Haid, Nifas Dan Junub

Menurut kitab Al-Ihya', jika seseorang itu dalam keadaan junub atau berhadas besar, jangan dia memotong rambut, kuku atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu yang jelas daripada badannya sebelum dia mandi junub. Kerana segala potongan itu di akhirat kelak akan kembali kepadanya dengan keadaan junub.

6. Memanjangkan Kuku Dan Mewarnainya ( Cutex)

Tabiat memanjangkan kuku dan membiarkannya tanpa dipotong adalah perbuatan yang bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihhi wasallam , kerana Baginda menggalakkan supaya memotong kuku. Jika dibiarkan kuku itu panjang, nescaya banyak perkara-perkara yang membabitkan hukum seperti wudhu, mandi wajib dan sebagainya.

Adapun dalam hal mewarnai kuku (cutex), perempuan yang bersuami adalah haram mewarnai kuku jika suaminya tidak mengizinkan. Sementara perempuan yang tidak bersuami pula, haram baginya mewarnai kuku. Demikian juga jika pewarna itu diperbuat daripada benda najis adalah haram digunakan melainkan ada hajat seperti berubat.

Jika pewarna kuku itu boleh menghalang daripada masuknya air, maka wajiblah dibersihkan pewarna tersebut. Jika tidak dibersihkan ia daripada kuku tangan atau kaki, maka tidaklah sah wudhu apabila dia berhadas kecil, atau mandi wajib apabila dia berhadas besar iaitu haid, nifas atau junub.

Hal ini berbeza pula dengan berinai, kerana perempuan yang bersuami atau perempuan yang hendak berihram sunah baginya berinai atau berpacar. Walau bagaimanapun cara berinai yang disunahkan itu ialah dengan menggunakan daun inai pada seluruh dua telapak tangan hingga ke pergelangan tangan. Disunahkan juga menyapukan sedikit inai kemuka, sebab ketika ihram, perempuan disuruh membuka muka dan kadang-kadang kedua telapak tangannya akan terbuka. Maka dengan berinai itu akan menutupi warna kulit tangan dan muka.

Adapun perempuan yang tidak bersuami, adalah makruh berinai (menginai seluruh dua telapak tangan hingga ke pergelangan tangan) tanpa ada sesuatu sebab keuzuran dan tidak pula bermaksud untuk melakukan ihram. Ini kerana ditakuti akan menimbulkan fitnah.

Sementara cara berinai dengan hanya menginaikan ujung-ujung jari sahaja dan membuat ukiran-ukiran tertentu adalah tidak dianjurkan, bahkan haram hukumnya berbuat begitu. Akan tetapi diharuskan bagi perempuan yang bersuami berinai dengan cara berkenaan dengan syarat ada keizinan daripada suami. Ini memandangkan ada tujuan isteri berhias untuk suami. Jika tanpa ada keizinan suami maka hukumnya tetap haram.

Manakala hukum berinai bagi kaum lelaki pada dua tangan dan kaki adalah haram. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik katanya yang maksudnya :

"Bahawa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melarang kaum lelaki memakai za'faran (kuma-kuma)." (Hadis riwayat Muslim)

Tambahan lagi, perbuatan berinai pada tangan dan kaki itu terdapat di dalamnya unsur-unsur menyerupai cara kaum wanita berhias. Akan tetapi jika lelaki itu berinai kerana ada keuzuran iaitu ada keperluan atau hajat seperti untuk berubat, tidaklah diharamkan malahan tidak juga dimakruhkan ke atasnya

berinai..wAllohu'alaam


Referensi:tasik-puteri.com
Di edit seperlunya agar mudah di pahami...

Subhanakallohumma wabihamdika asyhadualla ilahaa illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
READ MORE →
Bagikan Ke :

~BERJILBAB.~

Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh.



Wanita Berjilbab Lebih Dipilih Draipada Ynag Mengumbar Aurat.

Ternyata para lelaki yang baik-baik secara fitrah menyukai wanita berjilbab.
Coba Anda bayangkan saat Anda mungkin membeli kue di pasar. Pertama, ada kue yang terbungkus dengan daun pisang misalnya, dengan plastik putih transparan misalnya, namun ada juga kue yang tidak dibungkus dengan apa pun. Tidak tahu kalau kue itu tadi digerumbungi lalat. Nah, kue mana yang Anda pilih? Tentu saja kue yang dibungkus, sebab kue yang dibungkus itu lebih terjamin kebersihannya dari kontaminasi tangan-tangan yang penuh kuman dan virus. Begitu juga dengan wanita berjilbab. Mereka akan lebih indah dipilih sebagai pendamping hidup, kecuali wanita berjilbab yang masih tidak menjaga dirinya.

Wanita Berjilbab Lebih Anggun

Wanita berjilbab lebih anggun jika menggunakan rok, baju tidak ketat, baju tidak transparan, menutupi seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Itulah yang dimaksud berjilbab secara kaffah.Wanita berjilbab lebih anggun dengan pakaian takwanya itu. Bukankah wanita berjilbab itu harus berpakaian tidak menyerupai laki-laki. Allah pun tidak menyukai wanita yang menyerupai laki-laki atau laki-laki yang menyerupai wanita.

Wanita Berjilbab Juga Tidak Sempurna

Manusia itu tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu, Anda jangan pernah berkata, aku belum baik sehingga aku belum pantas berjilbab. Padahal memakai jilbab itu bukan untuk wanita-wanita yang baik-baik. Memakai jilbab itu hanya berarti mengikuti perintah Allah atau tidak. bukankah Allah sudah berfirman mengapa wanita muslim harus memakai jilbab?!

Wanita Berjilbab Itu Lebih Taqwa

Sejak wanita itu memakai jilbab, maka secara otomatis wanita itu taat pada Allah, yaitu taat pada perintah Allah yang memerintahkan muslimah memakai jilbab. Walaupun wanita itu jahat, namun dibalut dengan jilbab, maka wanita itu tetap taat pada Allah, taat khususnya dalam perintah berjilbab.
Padahal zaman Rasulullah dulu, wanita-wanita beriman yang taat pada Allah atas wahyu yang turun kepada Rasulnya untuk memakai jilbab, wanita-wanita taat itu langsung menggunting kordengnya, taplak mejanya, hanya untuk dijadikan jilbab. Zaman sekarang? apa yang di jadikan alasan enggan berjilbab?sedang ini perintah Alloh.Tuhan semesta Alam.

Wanita berjilbab itu lebih takwa, sebab jilbablah yang membuat mereka taqwa. Contohnya: Ketika kita enggan shalat, maka kita akan malu. Malu dengan jilbab. "Aku malu jika tidak shalat, aku sudah berjilbab." Begitulah.
Lalu misalnya, ketika kita makan sambil jalan, maka hati kita akan berkata lagi, "Aku malu makan sambil jalan,aku sudah pakai jilbab?!" 

Begitula jilbab menjadikan diri kita lebih taqwa. Jadi tunggu apa lagi. Taatlah sekarang juga dengan perintah Allah yang satu ini, 'memakai jilbab'.Jangan tunggu nanti-nanti, siapa tahu dua menit lagi Anda akan mati mendadak. Jadi tidak sempat menjalankan perintah Allah yang satu ini. Wanita berjilbab itu bukan harus baik dulu, namun jilbablah yang akan menjadikan dirinya lebih baik dan lebih taqwa.jangan pernah berkata "mau jilbabi hati dulu baru selanjutnya menjilbabi tubuh".Itu prinsip yang salah seakan kita tahu kapan ajal kita datang jadi memplaning untuk taat kepada Alloh.

....WAllohu a'lam.

Mendengar kata cantik, yang terbayang adalah seorang wanita yang anggota wajahnya -mata, hidung dan bibir- proporsional, sedap dipandang mata. Cantik juga dikaitkan dengan kulit yang terawat baik, rambut hitam bercahaya, bentuk tubuh langsing dan gaya berbusana yang up to date.

Bicara soal busana, seringkali yang dituduh sebagai penyebab ketidakcantikanseorang adalah jilbab. Dengan pakaian yang syar’i, memang bentuk tubuhnya yang langsing tak tampak lagi.
Kecantikan fisik merupakan salah satu nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada sebagian saudari kita. Misalnya saja, suatu ketika kita diberikan nikmat oleh Allah berupa harta yang sangat berharga. Tentunya kita hati-hati menjaga harta itu, melindunginya dari jamahan orang lain, tidak menghamburkan pada setiap orang, dan hanya mempergunakan di saat yang memang benar-benar tepat. Lalu, bagaimana jika kenikmatan itu berupa kenikmatan fisik, khususnya kecantikan seorang wanita?

Mengobral kecantikan fisik pada setiap orang, seolah membiarkan barang yang amat berharga dijadikan keroyokan banyak orang. Dengan begitu, status berharga pun jadi barang rendah dan murah, karena setiap orang akan mudah menikmatinya, beginikah yang diinginkan para wanita muslimah yang mengatakan cinta Nabi,yang mengatakan Beriman?

Astagfirullohal'adzim.
READ MORE →
Bagikan Ke :

Menyongsong Datangnya Bulan Suci Ramadhan):-



Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Oleh Muhammad Yusran Hadi

KINI kita sudah berada di bulan Syaban dan tak lama lagi segera menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan. Maka sudah sepatutnya kita melakukan berbagai persiapan dalam rangka tarhib Ramadhan (menyambut Ramadhan). Ibarat sosok tamu yang agung, kedatangan bulan Ramadhan mesti disambut dengan perasaan gembira dan sukacita oleh umat Islam. Setelah sekian lama berpisah, maka tamu yang agung ini kembali ditunggu-tunggu dan dielu-elukan kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan kerinduan.

Hal ini sangat wajar, mengingat tamu yang mulia ini (baca: Ramadhan) datang dengan membawa berbagai keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat. Ramadhan merupakan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Selain itu, Ramadhan merupakan bulan keberkahan, karena pada bulan ini pahala suatu amal shalih dan ibadah dilipatgandakan. Begitu agung dan mulianya bulan ini sehingga Rasul saw menjulukinya sebagai Sayyid Asy-Syuhur (penghulu segala bulan).

Persiapan tarhib Ramadhan sangat penting dan perlu dilakukan, agar Ramadhan kita nantinya menjadi sukses. Sebagaimana halnya ketika kita akan menghadapi suatu ujian atau pertandingan, maka tentu kita terlebih dulu mempersiapkan diri, agar berhasil dalam ujian atau menang dalam pertandingan tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan agar Ramadhan kita sukses? Persiapan apa saja yang perlu kita lakukan dalam menyambut bulan yang mulia ini?

‘Tarhib’ Ramadhan
Menurut penulis, di antara persiapan tarhib Ramadhan yang penting dan perlu dilakukan yaitu:

Pertama, perbanyak puasa sunat pada bulan Syaban sebagaimana sunnah Rasulullah .Dalam sebuah riwayat, dari Aisyah ra ia berkata: “Aku belum pernah melihat Rosululloh menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Rasulullah paling banyak berpuasa dalam sebulan melainkan pada bulan Syaban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, mempelajari fiqh ash-shiyam (fikih puasa). Seorang muslim wajib mempelajari ibadah sehari-harinya,termasuk fikih puasa, karena sebentar lagi kita akan menjalankan kewajiban ibadah puasa. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana cara berpuasa yang benar agar ibadah kita diterima Allah swt. Dengan mempelajari fikih puasa maka kita dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum puasa seperti rukun puasa, sunat dan adab puasa, yang membatalkan puasa dan sebagainya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah mudahkan pendalaman dalam menuntut ilmu agamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, memberi kabar gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan kepada umat Islam. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasululloh Beliau selalu memberi taushiah menjelang kedatangan Ramadhan dengan memberi kabar gembira tentang bulan Ramadhan kepada para sahabatnya. Dari Abu Hurairah, menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah bersabda: “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Keempat, menjaga kesehatan dan stamina fisik. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat pada bulan Ramadhan sangat penting. Mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik dan penuh semangat. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya sangat terganggu dan tidak semangat. Rasulullah bersabda: “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)

Kelima, membersihkan rumah dan lingkungan. Islam memerintahkan kita untuk selalu hidup bersih dan sehat. Hal ini terbukti dengan perintah membersihkan diri dan tempat ibadah, terutama ketika kita mau shalat atau melakukan ibadah lainnya. Untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, maka kita perlu menjaga kebersihan di rumah dan di sekitar lingkungan kita. Bila kita kedatangan tamu ke rumah kita atau ke desa kita, maka kita sibuk membersihkan rumah dan lingkungan kita. Bahkan rumah atau desa dihias sedemikian rupa, agar tampak indah dan bersih. Maka, begitu pula sepatutnya kita menyambut bulan Ramadhan.

Rumah, masjid dan surau yang bersih dan indah tentu akan menciptakan suasana yang nyaman dalam beribadah, sehingga akan mendatangkan kekusyukan dalam beribadah. Sebaliknya rumah, masjid dan surau yang kotor dan bau, tentu akan mengganggu kenyamanan dalam ibadah sehingga menghilangkan kekusyukan. Apalagi sampai menimbulkan berbagai macam penyakit yang berbahaya akibat lingkungan yang kotor dan bau.

Keenam, persiapan finansial (keuangan). Bulan Ramadhan merupakan bulan amal shalih dan yang sangat digalakkan adalah berinfak dan bersedekah. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Dari Ibnu Abbas berliau bersabda: “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan sikap kedermawaaannyasemakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya untuk mengajarkan Alquran kepadanya. Dan biasanya Jibril mendatanginya setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajari Alquran. Sungguh keadaan Jibril sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR Bukhari dan Muslim).

Agar dapat memanfaatkan keberkahan bulan Ramadhan, maka sepatutnya seorang muslim menyiapkan sebahagian hartanya sebelum kedatangan bulan Ramadhan untuk diinfakkan dan disedekahkan pada bulan Ramadhan nantinya. Selain itu, persiapan finansial ini juga sangat bermanfaat untuk keperluan bersahur dan berbuka puasa. Terlebih lagi bila ingin menu berbuka puasa mencukupi dan sesuai dengan standar gizi yang diperlukan oleh tubuh kita.

Ketujuh, persiapan jiwa dan mental. Hendaklah kita menyambut bulan Ramadhan dengan rasa penuh kegembiaraan dan tulus hati serta jiwa yang bersih (taubat). Siapkan diri untuk melakukan berbagai amal shalih dan ibadah pada bulan Ramadhan. Selain itu, hendaklah menyucikan jiwa kita dengan cara bertaubat kepada Allah swt, agar jiwa kita bersih dari noda dosa. Begitu pula kita hendaklah membiasakan diri untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah, seperti puasa sunat, shalat sunat dan memperbanyak membaca Alquran. Sehingga kita terlatih dan terbiasa melakukan ibadah yang optimal.

Demikianlah di antara berbagai persiapan yang dapat kita lakukan dalam rangka menyambut kedatangan tamu yang agung dan mulia yang bernama Ramadhan. Mari kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, keimanan dan ketulusan hati. Raihlah berbagai keutamaan yang dibawa oleh Ramadhan dengan melakukan berbagai amal shalih dan ibadah secara optimal. Semoga kita sukses dalam ujian dan ibadah di bulan Ramadhan ini!
READ MORE →
Bagikan Ke :

10 Wanita Yang Dirindukan Syurga.


10 Wanita Yang Dirindukan Syurga.

Riwayat Imran bin Hushain ra bahawa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya penghuni syurga yang paling sedikit adalah kaum wanita. (Shahih Muslim No.4921)

Oleh itu marilah wahai kaum wanita merebut peluang yang sedikit itu.

1. Wanita yang taat menjalankan agama.

Siapa yang tak kenal istri Fir'aun, seorang wanita yang taat berpegang teguh dengan agama ALLAH SWT sekalipun dia hidup di bawah seorang suami yang kafir. ALLAH SWT memberi gambaran yang indah dalam firmanNYA : "Dan ALLAH membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMU dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim" (QS at-Tahrim (66) : 11).

2. Wanita yang berhias dengan amal soleh.

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) ALLAH, ALLAH telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (QS al-Ahzab (33) : 35).

3. Wanita yang bagus dalam mendidik anak perempuan.

Aisyah ra berkata, "Ada seorang wanita yang datang menemuiku sambil membawa kedua putrinya. Dia datang untuk meminta. Saat itu aku tidak punya apapun selain sebutir kurma. Akhirnya aku tetap memberikannya kepada wanita tersebut. Lantas wanita tadi membelah sebutir kurma menjadi dua untuk diberikan kepada kedua putrinya. Wanita tersebut tidak makan sama sekali, kemudian berdiri dan pergi. Lalu Rasulullah SAW masuk menemuiku, maka aku pun menceritakan perihal wanita tersebut, mendengar hal tersebut lantas Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan dengan sesuatu, kemudian dia tetap berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut boleh menjadi penghalang baginya dari api neraka"

4. Wanita yang solat lima waktu, puasa Ramadhan, dan menjaga kehormatannya.

Jalan menuju syurga bagi kaum wanita sangat terbuka lebar. Di antara amalan yang dapat mengantarkan seorang wanita ke dalam syurga adalah dengan menjaga solat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kemaluan dan kesucian dirinya serta taat kepada suami. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila wanita solat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, dia menjaga kemaluannya, menaati suaminya, maka akan dikatakan padanya, "Masuklah ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki"

5. Wanita yang sabar menerima penyakit.

Menurut hadits Atha' bin Abi Rabbah RA berkata : Ibnu Abbas RA pernah bercerita kepadaku, "Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita penghuni syurga? Ada seorang wanita yang datang kepada NabiSAW dan berkata, "Wahai Nabi, aku menderita penyakit sejenis ayan, apabila penyakit itu kumat aku tidak sEdar sampai membuka auratku, berdo'alah kepada ALLAH agar menyembuhkanku, “Rasulullah SAW berkata, “Apabila kamu mau bersabar maka bagimu syurga, tetapi apabila tidak maka aku boleh mendo'akanmu kepada ALLAH.' Wanita tadi menjawab.' Baiklah aku bersabar, tetapi doakan agar aku tak sampai membuka aurat.' Rasulullah SAW pun mendoakannya."

6. Wanita yang tidak pernah menyakiti siapapun.

Abu Hurairah ra berkata."Ada yang bertanya kepada RasulullahSAW, ' Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang rajin solat malam dan puasa di siang hari serta bersedekah juga, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya!' Maka RasulullahSAW menjawab,"Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka!' Mereka bertanya kembali,'Di sana ada seorang wanita yang hanya solat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, tetapi dia tidak pernah menyakiti siapa pun?'RasulullahSAW menjawab.'Dia penghuni syurga'.

7. Wanita yang selalu mencari keredhaan suami.

Rasulullah SAW bersabda : “Maukah kalian aku khabarkan tentang para wanita penghuni syurga? Iaitu wanita yang pengasih, banyak anak, dan berperilaku baik. Jika ia dizalimi (suaminya marah kepadanya), atau ia berbuat zalim (kepada suaminya) ia akan berkata, "Ini tanganku berada di tanganmu. Aku tidak boleh memejamkan mataku hingga engkau redha padaku".

8. Wanita yang taat kepada suami dalam hal kebaikan.

Hushain bin Muhshin ra berkata : “Orang gajiku telah menceritakan kepadaku, "Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW untuk sebuah keperluan, Rasulullah SAW berkata, 'Ada apa ini, apakah engkau punya suami?' Aku menjawab,'Ya', Rasulullah SAW kembali bertanya,'Bagaimana ketaatanmu kepadanya?'Aku menjawab.'Aku tidak pernah meremehkan ketaatan dan pengabdian kepadanya, kecuali jika aku tidak mampu. Rasulullah SAW menjawab, “Lihatlah dirimu, sejauh mana kedudukanmu di mata suamimu, dia adalah syurga dan neraka bagimu.”

9. Wanita yang menyayangi binatang.

Alkisah, ada seekor anjing sedang berada di sekitar sumur air. Anjing itu hampir-hampir mati karena kehausan. Tidak jauh dari sumur, ada seorang wanita pezina dari kalangan Bani Israil. Lantas, dengan sigap wanita itu pun melepas sepatunya dan mengambil air dari sumur, kemudian meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Akhirnya, wanita tersebut diampuni ALLAH SWT disebabkan perbuatannya (memberi minum anjing).

10. Wanita yang amar ma'ruf nahi munkar.

ALLAH SWT berfirman : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada ALLAH dan RasulNYA. Mereka itu akan diberi rahmat oleh ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS at-Taubah (9) : 71)

Syaikh Ibnu Utsaimin ra mengatakan, "Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya tugas amar ma'ruf nahi munkar bukan hanya khusus bagi laki-laki saja, bahkan kaum wanita juga wajib untuk memerintahkan kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Akan tetapi, hal itu dilakukan di medannya kaum wanita, perkumpulan kaum wanita, bukan di perkumpulan kaum lelaki atau di pasar yang banyak kaum lelakinya."

Jadilah dirimu sekuntum Mawar Agama yang sentiasa dirindui Taman Firdausi. 
READ MORE →
Bagikan Ke :

HUKUM MENCUKUR BULU KAKI DAN BULU ROMA BAGI KAUM WANITA



assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Mencukur bulu kaki dan bulu roma bagi kaum wanita juga dilarang sebagai mana di dalam hadits berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِ
مَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Ertinya : Saidina Abdullah Bin Mas’ud ( r.a ) meriwayatkan sebuah hadits : “ Allah telah melaknat tukang-tukang tatoo dan perempuan-perempuan yang minta ditatoo, tukang-tukang cukur kening dan wanita-wanita yang minta dicukur kening dan dilaknat juga wanita-wanita yang minta dijarang-jarangkan gigi-gigi mereka agar kelihatan cantik serta dilaknat juga wanita-wanita yang cuba mengubah ciptaan Allah“ ~ Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rh , Al-Imam Muslim rh , Al-Imam Abu Daud rh dan Al-Imam at-Tobrani rh .

“ Tukang-tukang cukur kening dan wanita-wanita yang diminta dicukur kening-kening mereka “ di dalam hadist tersebut merangkumi juga wanita-wanita yang mencukur bulu-bulu kaki dan bulu-bulu roma mereka .

Kaum wanita yang benar-benar mahu menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya s.a.w mestilah berusaha menjauhi segala gejala-tarikan yang dilakukan oleh kaum Barat yang cuba menyesatkan umat Islam . Tidak sedikit drp kaum wanita Islam yang terpedaya dengan kaum Barat hasil iklan-iklan yang ditayangkan di media-massa .

Oleh itu , wajib bagi kaum lelaki dan wanita beriman mengetahui apakah perkara yang dibenarkan dan apa pula yang dilarang daripada melakukannya .

Wanita-wanita beriman dilarang mencukur bulu-bulu kaki dan bulu-bulu roma kerana ianya adalah merupakan salah-satu cubaan mengubah ciptaan Allah Ta’ala dan kerana ianya juga dilarang di dalam hadist di atas.

Namun , bagi kaum wanita yang mempunyai hormon yang kuat sehingga menyebabkan banyak bulu yang tumbuh di sekitar bahagia muka , tangan dan kaki dan menyebabkan seseorang wanita itu malu dan rendah diri kerana ianya merupakan perkara yang tidak normal , maka di saat itu TIDAK MENGAPA jika dilakukan proses menghilangkan dan mencukur bulu-bulu tersebut . Dan ini tidak dianggap mengubah ciptaan Allah Ta’ala bahkan ialah termasuk di dalam bab berubat dan mendapatkan rawatan .

HARUS dicukur jika bulu kaki wanita itu lebat dan banyak sehingga menyerupai kaum lelaki . HARUS dicukur bulu romanya jika ianya tumbuh secara tidak normal dan memalukan wanita itu dan HARUS pula digunting sedikit kening dan dibetulkan jika kening yang tumbuh itu panjang dan menyebabkan wanita itu merasa rendah diri.

Adapun jika seseorang wanita itu mencukur bulu kaki dan bulu roma serta kening mereka tanpa ada sebab-sebab yang diharuskan oleh syarak dan tanpa sebab untuk merawat ( setelah disahkan oleh doktor yang amanah bahawa itu adalah penyakit ) maka di saat itu TIDAK ADA SEBAB UNTUK WANITA ITU MENCUKUR BULU-BULU ROMA DAN BULU-BULU KAKINYA !!!. Wallahu A’alam Bis Sowab

Imam Ahmad menegaskan, “Kalau ada wanita yang tumbuh kumis atau janggut, maka tidaklah haram menghilangkannya, bahkan mustajab atau malah wajib.”Berdasarkan pendapat itu wanita hendaknya membersihkan wajahnya sesuai dengan kewanitaannya. Caranya, seperti disampaikan kembali oleh Imam Ahmad, membersihkan wajah dari rambut-rambut yang berlebihan, jangan memakai pisau cukur, tapi hilangkanlah dengan krem, bedak khusus atau yang sejenisnya.

MERAPIKAN ALIS

Nabi saw. bersabda, "Allah melaknat wanita yang membuang alisnya dan wanita yang minta dibuang alisnya." (HR Abu Daud)

Dalam hal ini, mencabut sama dengan membuang sehingga para ulama sepakat hukumnya haram dan termasuk dosa besar karen ancamannya berupa laknat dari Allah Swt. Adapun jika tidak dibuang atau dicabut, tetapi dipendekkan maka para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menganggap hukumnya sama dengan mencabut sehingga tetap haram, namun sebagian lagi menganggap makruh.

Adapun sekedar menghilangkan yang lebih atau yang menimbulkan gangguan dan bahaya, hal itu boleh-boleh saja.

18 Ramadhan 1433H

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilahaa illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
READ MORE →
Bagikan Ke :

Sekadar Peringatan



Mahasuci ALLAH yang Engkau bersifat dengan Baqa’ dan Qidam, Tuhan yang berkuasa mematikan sekalian yang bernyawa.
Mahasuci ALLAH yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa yang baik dan siapa yang kecewa.
Mahasuci ALLAH yang menjadikan lubang kubur sebesar-besar pengajaran untuk menjadi iktibar kepada orang yang lalai, dan sebesar-besar amaran kepada orang yang masih hidup.

Ingatlah! Bahawa sekalian mahluk ALLAH akan jahanam dan binasa, melainkan zat ALLAH Taala. Ialah Tuhan yang Mahabesar kuasa menghukum, manakala kita sekalian akan kembali menghadap hadirat ALLAH SWT.

Wahai Hamba ALLAH, hendaklah kamu ingat akan janji-janji ALLAH yang mana kamu ada bawa bersama-sama dari dunia ini.

Sekarang kamu telah menuju masuk ke negeri Akhirat.

Kamu telah mengaku bahawa tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarny
a melainkan ALLAH, dan bahawasanya Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah.

Ingatlah wahai Hamba ALLAH, apabila datang kepada kamu 2 orang malaikat yang serupa dengan kamu iaitu Mungkar dan Nakir, maka janganlah berasa gentar dan takut, janganlah kamu berdukacita dan risau serta janganlah kamu susah-hati dan terkejut.
Ketahuilah wahai Hamba ALLAH, bahawasanya Mungkar dan Nakir itu hamba ALLAH SWT, sebagaimana kamu juga hamba ALLAH SWT.
Apabila mereka menyuruh kamu duduk, mereka juga akan menyoal kamu.

Mereka berkata :

Siapakah Tuhan kamu?
Siapakah Nabi kamu?
Apakah agama kamu?
Apakah kiblat kamu?
Siapakah saudara kamu?
Apakah pegangan iktikad kamu?
Dan apakah kalimah yang kamu bawa bersama-sama kamu?

Di masa itu hendaklah kamu menjawab soalan-soalan mereka dengan cermat dan sehabis-habis terang, tepat dan betul.
Janganlah berasa gementar, janganlah cuak dan janganlah bergopoh-gapah, biarlah tenang dan berhati-hati.

Hendaklah kamu jawab begini :

ALLAH SWT Tuhanku,
Muhammad Nabiku,
Islam Agamaku,
Kitab Suci Al-Qur’an ikutanku,
Baitullah itu qiblatku,
Malahan solah lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan mengerjakan haji diwajibkan ke atas aku.
Semua orang Islam dan orang yang beriman adalah saudara aku, bahkan dari masa hidup hingga aku mati aku mengucap: “Lailahaillallah Muhammaddur Rasulullah”.

Wahai Hamba ALLAH, tetapkanlah hatimu, inilah dia suatu dugaan yang paling besar. Ingatlah bahawa kamu sekarang sedang tinggal di dalam alam Barzakh, sehingga sampai satu masa kelak, kamu akan dibangunkan semula untuk berkumpul di Padang Mahsyar.

Insaflah wahai Hamba ALLAH, bahawasanya mati ini adalah benar, soalan malaikat Mungkar dan Nakir di dalam kubur ini adalah benar, bangun dari kubur kemudian kita dihidupkan semula adalah benar, berkumpul dan berhimpun di Padang Mahsyar adalah benar, dihisab dan dikira segala amalan kamu adalah benar, minum di kolam air nabi adalah benar, ada syurga dan neraka adalah benar.

Bahawasanya hari Kiamat tetap akan adanya, begitu juga Tuhan yang maha berkuasa akan membangkitkan semula orang-orang yang di dalam kubur.

Di akhirnya kami ucapkan selamat berpisah dan selamat tinggal kamu disisi ALLAH SWT.

Semoga Tuhan akan memberi sejahtera kepada kamu. Tuhan jua yang menetapkan hati kamu. Kami sekalian berdoa mudah-mudahan ALLAH SWT menjinakkan hati kamu yang liar, dan ALLAH menaruh belas kasihan kepada kamu yang berdagang seorang diri di dalam kubur ini. Mudah-mudahan Tuhan akan memberi keampunan dan memaafkan kesalahan kamu serta menerima segala amal kebajikan kamu.

“Ya ALLAH Ya Tuhan, kami merayu dan bermohon kepada Mu supaya tidak disiksa mayat ini dengan kemegahan penghulu kami Muhammad SAW”.

Firman ALLAH SWT : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan hanya kepada KAMI kamu akan dikembalikan.” (Surah al-Ankabut ~ 29:57)

~ Muhasabah Diri ~

~ 18 Ramadhan 1433H ~
READ MORE →
Bagikan Ke :

ISTERI YANG PALING MAHAL

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

"Isteri yang mahal dari pandangan Islam ialah
isteri yang tidak meletakkan darjat &
kemuliaannya kepada wang,
tetapi kepada iman, kasih, jiwa dan
hatinya. Kalau diletakkan nilainya
kepada wang, wang akan hilang.
Kalau diletakkan kepada iman,
kasih serta hatinya, ia akan berkekalan
sehingga hari kiamat dan seterusnya
membawanya ke syurga"

~ 5 Ramadhan 1433H ~

READ MORE →
Bagikan Ke :

.■□■♡Kebahagiaa n yang menular♡■□■



Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh.

Tadi pagi, seorang pemuda berangkat kerja. Ia memanggil taksi dan naik sambil menyapa sopir taksi itu terlebih dahulu.

"Selamat pagi, Pak," katanya sambil tersenyum. "Pagi yang cerah ya?"Lalu ia bersenandung kecil.

Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya :) Dengan senang hati, ia melajukan taksinya. Sesampainya di tempat tujuar, pemuda itu membayar dengan selembar Rp20.000, untuk argo yang hampir Rp15.000

"Kembaliannya buat Bapak saja. Selamat bekerja, ya Pak," kata pemuda itu sambil tersenyum.

"Terima kasih," jawab sopir taksi itu dengan penuh syukur.

"Wah...aku bisa sarapan dulu nih," pikir sopir taksi itu. Dan ia pun menuju ke sebuah warung.

"Biasa, Pak?' tanya si mbok pemilik warung.

"Iya biasa, nasi sayur. Tapi untuk hari ini tambahkan sepotong ayam," jawab pak sopir dengan tersenyum.

Setelah selesai makan, ketika membayar nasi, ditambahkannya Rp1000. "Buat jajan anaknya si mbok," begitu katanya.

Dan dengan tambahan uang jajan seribu rupiah, pagi itu anak si mbok berangkat ke sekolah dengan senyum lebih lebar. Ia bisa membeli dua buah roti pagi ini. Dan satu roti, diberikannya pada temannya yang tidak punya bekal. Begitulah, cerita bisa berlanjut. Bergulir... seperti "bola salju"...

Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu.
Begitu juga keluarga si mbok.
Teman-teman si anak.
Keluarga mereka.
Semua tertular kebahagiaan! :)

Sahabat yang luar biasa!

Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular kepada siapa saja di sekitar kita. Siapkah kita menularkan kebahagiaan hari ini?

Selamat menjalankan Ibadah puasa,semoga amal kita diterimaNya.

aamiin.



**********(¨`•.•´¨)************
******(¨`•.•´¨).¸..(¨`•.•´¨)******
*(¨`•.•´*•. ¸.•´ ** `•.¸.•´ `•.•´¨)*
* `•.¸.• Happy Ramadhan .¸.•´*
******************************
*******(¨`•.•´¨) (¨`•.•´¨)*******
********`•.¸(¨`•.•´¨)..•´*******
***********`•.¸.•´************
READ MORE →
Bagikan Ke :

Sabar Ketika Marah

Marah adalah salah satu sifat mazmumah yang harus di jauhi supaya kita tidak termasuk dikalangan orang yang memilikmi sifat tercela. Sesiapa yang tidak dapat mengawal perasaan marah sebenarnya ia sedang dikuasi oleh hawa nafsu. Banyak keadaan marah boleh mendatangkan perkara buruk. Apabila seseorang itu marah, ia dibantu oleh syaitan. Syaitan adalah musuh utama manusia yang berjanji kepada ALLAH SWT untuk menggoda dan memesongkan anak cucu Adam.

Jangan marah nanti hati akan mengeras
Jangan marah nanti kewibawaanmu hilang
Jangan marah nanti syaitan akan menuntunmu berbuat kezaliman
Jangan marah nanti seluruh kedut2 diwajahmu muncul dan kau akan kelihatan tua

Hadiah terbaik bagi mereka yang menyakiti hati kita adalah kemaafan.
Sabar itu INDAH tetapi bukannya mudah.
Marah itu MUDAH tetapi kesannya tidak INDAH.
Maaf itu SUSAH tetapi kesannya sangat besar.
Semuanya boleh di laksanakan hanya kerana ALLAH.

Sekadar satu pesanan kepada sahabat2 yang dikasihi juga buat diriku sendiri....

~ 19 Ramadhan 1433H ~
READ MORE →
Bagikan Ke :

keutamaan Umar bin Khathab ra.



Hadis riwayat Ali ra.:
Ibnu Abbas ra. berkata: Jasad Umar bin Khathab ra. dibaringkan di atas tempat tidurnya kemudian orang-orang mengerumuninya, mereka mendoakan, memuji dan menyalatkan sebelum diangkat (ke kuburnya) dan aku berada di antara mereka. Kemudian dia melanjutkan: Tidak ada yang menarik perhatianku kecuali dengan seorang lelaki yang menarik pundakku dari belakang, maka aku pun menoleh ke arahnya, ternyata dia adalah Ali yang turut berduka cita atas meninggalnya Umar. Kemudian dia berkata: Tidak ada orang yang lebih aku sukai ketika berjumpa dengan Allah dengan seperti amal perbuatannya daripada engkau, mudah-mudahan Allah menempatkanmu bersama dua orang sahabatmu. Dalam hal ini aku sering mendengar Rasulullah saw. bersabda: Saya datang bersama Abu Bakar dan Umar. Aku masuk surga bersama Abu Bakar dan Umar. Dan aku pun keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Sungguh aku berharap semoga Allah berkenan mempertemukanmu dengan mereka. (Shahih Muslim No.4402)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat banyak orang sedang berkumpul dengan mengenakan pakaian yang beragam, ada yang menutupi sampai dada dan ada pula yang kurang dari itu, lalu lewatlah Umar bin Khathab dengan pakaian yang ia seret. Mereka bertanya: Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Agama. (Shahih Muslim No.4403)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat sebuah gelas besar berisi susu dihidangkan kepadaku. Lalu aku meminumnya hingga aku dapat menyaksikannya mengalir ke dalam kuku-kukuku kemudian sisa minumanku aku berikan kepada Umar bin Khathab. Para sahabat bertanya: Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Itu adalah ilmu. (Shahih Muslim No.4404)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat diriku berada di dekat sebuah sumur tua di mana terdapat sebuah timba. Kemudian aku mengambil air sumur itu sebanyak yang Allah kehendaki. Kemudian dipegang oleh Ibnu Abu Quhafah yang segera mengambil air sebanyak satu atau dua timba tetapi dalam pengambilan airnya terdapat kelemahan dan semoga Allah mengampuninya. Lalu timba tersebut berubah menjadi besar dan segera dipegang oleh Umar bin Khathab ra. dan aku tidak pernah melihat seorang jenius pun dari umat manusia yang dapat mengambil air seperti pengambilan Umar bin Khathab ra. hingga manusia dapat minum dengan puas beserta unta-unta mereka. (Shahih Muslim No.4405)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku bermimpi melihat diriku seakan-akan sedang mengambil air dengan timba yang berada di atas sebuah sumur tua. Kemudian datang Abu Bakar dan segera mengambil air sebanyak satu atau dua timba dengan pengambilan yang agak lemah, semoga Allah mengampuninya. Kemudian datang Umar dan mengambil air namun tiba-tiba timba tersebut berubah menjadi sebuah timba besar dan aku tidak pernah melihat seorang jenius pun dari umat manusia yang dapat menekuni pekerjaan seperti Umar hingga manusia dapat minum dengan puas dan menggiring unta-unta mereka ke kandang dalam keadaan puas minum. (Shahih Muslim No.4407)

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Aku masuk ke dalam surga dan melihat di dalamnya terdapat sebuah rumah atau sebuah istana lalu aku bertanya: Milik siapakah istana ini? Mereka menjawab: Milik Umar bin Khathab. Aku bermaksud memasukinya, namun segera teringat olehku kecemburuanmu. Mendengar itu seketika Umar menangis haru dan berkata: Wahai Rasulullah saw., apakah orang seperti engkau dicemburui. (Shahih Muslim No.4408)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Ketika tidur, tiba-tiba aku bermimpi melihat diriku berada di dalam surga dan menyaksikan seorang wanita sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku lalu bertanya: Milik siapakah istana ini? Mereka menjawab: Milik Umar bin Khathab. Tiba-tiba saja aku teringat akan kecemburuan Umar. Maka aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Lebih lanjut Abu Hurairah ra. mengatakan: Mendengar itu seketika Umar menangis sedang kami semua berada di majlis tersebut bersama Rasulullah saw. kemudian Umar berkata: Demi Allah, wahai Rasulullah, apakah kepada engkau aku cemburu?. (Shahih Muslim No.4409)

Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
Umar meminta izin untuk menjumpai Rasulullah saw. di mana ketika itu ada beberapa orang wanita Quraisy bersama beliau sedang mengajak beliau bicara dan menanyakan banyak (persoalan) dengan suara keras. Ketika Umar minta izin masuk, mereka bergegas beranjak saling mendahului ke arah tabir. Rasulullah saw. mengizinkan Umar untuk masuk sambil tersenyum. Lalu Umar berkata: Semoga Allah selalu menyenangkanmu wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Aku terheran melihat perilaku wanita-wanita yang tadi berada di sisiku, ketika mendengar suaramu, mereka bergegas menuju ke balik tabir. Umar menyela: Engkaulah orang yang paling berhak untuk ditakuti, wahai Rasulullah. Kepada wanita-wanita tadi Umar berkata: Wahai wanita-wanita yang menjadi musuh dirinya sendiri, apakah kalian merasa takut kepadaku dan tidak merasa takut kepada Rasulullah saw.? Mereka menjawab: Ya, karena kamu lebih kasar dan lebih keras daripada beliau. Rasulullah saw. kemudian bersabda: Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setan tidak akan pernah menemuimu sedang menelusuri suatu jalan kecuali ia akan menelusuri jalan selain jalanmu. (Shahih Muslim No.4410)

Hadis riwayat Umar ra., ia berkata:
Aku bertepatan dengan kehendak Tuhanku dalam tiga perkara; dalam perkara makam Ibrahim, dalam perkara hijab dan dalam perkara tawanan perang Badar. (Shahih Muslim No.4412)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, anaknya Abdullah bin Abdullah datang menemui Rasulullah saw. meminta agar Rasulullah saw. berkenan memberikan pakaiannya untuk digunakan mengkafani jenazah ayahnya. Beliau memenuhi permintaannya tersebut. Abdullah juga meminta agar beliau berkenan menyalatkan jenazah ayahnya. Rasulullah saw. pun berdiri hendak menyalatkan jenazah atasnya lalu Umar ikut berdiri dan menarik pakaian Rasulullah saw. seraya berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalatkan jenazah ayahnya padahal Allah telah melarangmu untuk menyalatkannya? Rasulullah saw. bersabda: Sebenarnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku lalu beliau membaca ayat: Kamu memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampunan bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun kamu mohonkan ampunan bagi mereka berulang sampai tujuh puluh kali. Aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali. Umar berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul itu orang munafik. Rasulullah saw. tetap menyalatkan jenazah bukan orang Islam tersebut. Saat itulah Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya. (Shahih Muslim No.4413)


Subhanakallohumma wabihamdika asyhadualla ilahaa illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Senyum Santun Erat Silaturohiim
READ MORE →
Bagikan Ke :

Obat Herbal Probiotik di Pelopori oleh Prof.Ahli mikrobakteriologi dunia