Sabtu, 30 November 2013

Filled Under:

## RIYA’ ##



Makna asal kata riya’ adalah mengharap orang melihat posisinya. Terkadang dilakukan dengan amalan yang bukan ibadah, dan terkadang juga dengan ibadah.

Allah Swt. berfirman,

”... Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’....”(QS. Al-Ma’un [107]: 4-6)

Ada beberapa bentuk riya’, dan setiap muslim dituntut untuk mengetahuinya agar dapat menjauhinya.

1. Seseorang melakukan amalan semata-mata agar diketahui orang.

Bentuk ini termasuk dalam kategori munafik. Tidak diragukan lagi amalan seperti ini tidak diterima oleh Allah dan akan mendapatkan kemurkaan dan siksa dari-Nya.

2. Melakukan sesuatu amalan karena Allah, tetapi apabila ada orang lain, maka ia lebih bersemangat memperbagus ibadahnya (syirik tersembunyi).

Contoh, ada orang yang biasa shalat tahajjud, saat kedatangan tamu ia lebih menggiatkannya lagi. Ia senang jika ibadahnya dikenal atau dilihat orang.

3. Seseorang melakukan ibadah dengan ikhlas. Lalu ibadahnya diketahui masyarakat sehingga mereka memujinya. Dan dia merasa senang dan bangga atas pujian itu.

4. Riya’ yang paling halus adalah seorang yang menyembunyikan amal ketaatannya, akan tetapi apabila ia bertemu dengan orang lain, ia lebih suka jika orang itu mengawali mengucapkan salam, memberi hormat, serta memberi keringanan di dalam suatu urusan terhadapnya. Sekiranya tidak didapati hal seperti itu, dia merasa sakit hati, seolah-olah ketaatan yang disembunyikanny
a tidak ada manfaatnya. Na’udzubillah...

Kita memohon kepada Allah agar dijauhi dari penyakit riya’.

0 komentar:

Posting Komentar

Labels

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik