Filled Under:

^.^ BERMULA dari PANDANGAN ^.^



Mata merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang tak terhingga nilainya.

Dengan mata kita dapat melihat orang-orang yang berinteraksi dengan kita.
Kita dapat berjalan kemana saja kita suka.
Kita dapat melihat panorama alam nan indah.
Melihat wajah suami/istri kita sepuas-puasnya.
Melihat wajah lucu si kecil sehingga timbul rasa bahagia yang tak dapat terlukiskan.

Dengan mata kita dapat melihat mushaf Al-Qur’an untuk kita baca dan renungkan maknanya.
Melihat hadits serta buku-buku lainnya sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi kita.

Disisi lain,

Mata juga merupakan salah satu pintu masuk setan. Pandangan liar akan menggiring seseorang ke dalam jurang kelalaian. Setan kemudian mengukir wajah orang yang dilihatnya di dalam hatinya, lalu menjadikannya patung yang menetap di dalam hati. Lalu menghiasinya dengan api syahwat, sehingga hati terus berdebar menahan bara api yang menyala-nyala di setiap penjuru.

Tentang bahaya mengumbar pandangan, Ibnul Qayyim menjelaskan,

“Pada dasarnya, setiap perbuatan maksiat dan kejahatan kebanyakan bermula dari pandangan mata. Pandangan merupakan awal kejadian buruk yang menimpa manusia. Pandangan dapat melahirkan perasaan, lalu perasaan akan melahirkan pikiran yang kemudian menumbuhkan syahwat. Untuk melampiaskan syahwat, timbullah keinginan, lalu terjadilah perbuatan. Selama tidak ada yang menghalangi, perbuatan itu terjadi secara berulang-ulang hingga menjelma menjadi ‘penyakit’ (kecemasan, kelemahan, kemalasan, sikap pasif, dan penyesalan).”

Agama memberikan ketentuan tentang hukum memandang perkara haram, yaitu bahwa pandangan pertama (secara tidak sengaja) diperbolehkan sedangkan yang selanjutnya adalah diharamkan.

Dalam kitab Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdullah pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hukum memandang hal-hal haram yang datang mendadak. Rasulullah memerintahkanny
a untuk menghindari pandangan selanjutnya. Riwayat ini menguatkan penafsiran surah An-Nur: 30-31.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya,...” (QS. An-Nur: 30).
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya,...” (QS. An-Nur: 31).

“... Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Ini adalah perintah Allah Ta’ala kepada kaum mukminin dan mukminat agar menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan. Jika tanpa sengaja melihat sesuatu yang diharamkan, maka hendaklah cepat-cepat memalingkan pandangan.”

Mari kita semua mawas diri, menyelamatkan jiwa dari kotoran hawa nafsu yang tak terkendali. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.

Doa yang diajarkan Rasulullah,

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, hatiku, dan angan-anganku.”

0 komentar:

Post a Comment

Labels

loading...

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | Probiotik