Menyongsong Datangnya Bulan Suci Ramadhan):-



Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Oleh Muhammad Yusran Hadi

KINI kita sudah berada di bulan Syaban dan tak lama lagi segera menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan. Maka sudah sepatutnya kita melakukan berbagai persiapan dalam rangka tarhib Ramadhan (menyambut Ramadhan). Ibarat sosok tamu yang agung, kedatangan bulan Ramadhan mesti disambut dengan perasaan gembira dan sukacita oleh umat Islam. Setelah sekian lama berpisah, maka tamu yang agung ini kembali ditunggu-tunggu dan dielu-elukan kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan kerinduan.

Hal ini sangat wajar, mengingat tamu yang mulia ini (baca: Ramadhan) datang dengan membawa berbagai keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat. Ramadhan merupakan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Selain itu, Ramadhan merupakan bulan keberkahan, karena pada bulan ini pahala suatu amal shalih dan ibadah dilipatgandakan. Begitu agung dan mulianya bulan ini sehingga Rasul saw menjulukinya sebagai Sayyid Asy-Syuhur (penghulu segala bulan).

Persiapan tarhib Ramadhan sangat penting dan perlu dilakukan, agar Ramadhan kita nantinya menjadi sukses. Sebagaimana halnya ketika kita akan menghadapi suatu ujian atau pertandingan, maka tentu kita terlebih dulu mempersiapkan diri, agar berhasil dalam ujian atau menang dalam pertandingan tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan agar Ramadhan kita sukses? Persiapan apa saja yang perlu kita lakukan dalam menyambut bulan yang mulia ini?

‘Tarhib’ Ramadhan
Menurut penulis, di antara persiapan tarhib Ramadhan yang penting dan perlu dilakukan yaitu:

Pertama, perbanyak puasa sunat pada bulan Syaban sebagaimana sunnah Rasulullah .Dalam sebuah riwayat, dari Aisyah ra ia berkata: “Aku belum pernah melihat Rosululloh menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Rasulullah paling banyak berpuasa dalam sebulan melainkan pada bulan Syaban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, mempelajari fiqh ash-shiyam (fikih puasa). Seorang muslim wajib mempelajari ibadah sehari-harinya,termasuk fikih puasa, karena sebentar lagi kita akan menjalankan kewajiban ibadah puasa. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana cara berpuasa yang benar agar ibadah kita diterima Allah swt. Dengan mempelajari fikih puasa maka kita dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum puasa seperti rukun puasa, sunat dan adab puasa, yang membatalkan puasa dan sebagainya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah mudahkan pendalaman dalam menuntut ilmu agamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, memberi kabar gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan kepada umat Islam. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasululloh Beliau selalu memberi taushiah menjelang kedatangan Ramadhan dengan memberi kabar gembira tentang bulan Ramadhan kepada para sahabatnya. Dari Abu Hurairah, menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah bersabda: “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Keempat, menjaga kesehatan dan stamina fisik. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat pada bulan Ramadhan sangat penting. Mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik dan penuh semangat. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya sangat terganggu dan tidak semangat. Rasulullah bersabda: “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)

Kelima, membersihkan rumah dan lingkungan. Islam memerintahkan kita untuk selalu hidup bersih dan sehat. Hal ini terbukti dengan perintah membersihkan diri dan tempat ibadah, terutama ketika kita mau shalat atau melakukan ibadah lainnya. Untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, maka kita perlu menjaga kebersihan di rumah dan di sekitar lingkungan kita. Bila kita kedatangan tamu ke rumah kita atau ke desa kita, maka kita sibuk membersihkan rumah dan lingkungan kita. Bahkan rumah atau desa dihias sedemikian rupa, agar tampak indah dan bersih. Maka, begitu pula sepatutnya kita menyambut bulan Ramadhan.

Rumah, masjid dan surau yang bersih dan indah tentu akan menciptakan suasana yang nyaman dalam beribadah, sehingga akan mendatangkan kekusyukan dalam beribadah. Sebaliknya rumah, masjid dan surau yang kotor dan bau, tentu akan mengganggu kenyamanan dalam ibadah sehingga menghilangkan kekusyukan. Apalagi sampai menimbulkan berbagai macam penyakit yang berbahaya akibat lingkungan yang kotor dan bau.

Keenam, persiapan finansial (keuangan). Bulan Ramadhan merupakan bulan amal shalih dan yang sangat digalakkan adalah berinfak dan bersedekah. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Dari Ibnu Abbas berliau bersabda: “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan sikap kedermawaaannyasemakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya untuk mengajarkan Alquran kepadanya. Dan biasanya Jibril mendatanginya setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajari Alquran. Sungguh keadaan Jibril sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR Bukhari dan Muslim).

Agar dapat memanfaatkan keberkahan bulan Ramadhan, maka sepatutnya seorang muslim menyiapkan sebahagian hartanya sebelum kedatangan bulan Ramadhan untuk diinfakkan dan disedekahkan pada bulan Ramadhan nantinya. Selain itu, persiapan finansial ini juga sangat bermanfaat untuk keperluan bersahur dan berbuka puasa. Terlebih lagi bila ingin menu berbuka puasa mencukupi dan sesuai dengan standar gizi yang diperlukan oleh tubuh kita.

Ketujuh, persiapan jiwa dan mental. Hendaklah kita menyambut bulan Ramadhan dengan rasa penuh kegembiaraan dan tulus hati serta jiwa yang bersih (taubat). Siapkan diri untuk melakukan berbagai amal shalih dan ibadah pada bulan Ramadhan. Selain itu, hendaklah menyucikan jiwa kita dengan cara bertaubat kepada Allah swt, agar jiwa kita bersih dari noda dosa. Begitu pula kita hendaklah membiasakan diri untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah, seperti puasa sunat, shalat sunat dan memperbanyak membaca Alquran. Sehingga kita terlatih dan terbiasa melakukan ibadah yang optimal.

Demikianlah di antara berbagai persiapan yang dapat kita lakukan dalam rangka menyambut kedatangan tamu yang agung dan mulia yang bernama Ramadhan. Mari kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, keimanan dan ketulusan hati. Raihlah berbagai keutamaan yang dibawa oleh Ramadhan dengan melakukan berbagai amal shalih dan ibadah secara optimal. Semoga kita sukses dalam ujian dan ibadah di bulan Ramadhan ini!

7 Hal Buat wanita Durhaka setelah Menikah


Pernikahan yang indah jadi dambaan untuk setiap wanita. Ditambah lagi bila mereka memperoleh suami sholeh yang dapat menuntun mereka ke jalan Allah SWT. Hingga pernikahan itu bisa bahagia dunia serta akhirat. Tetapi, nyatanya pernikahan yang diidam-idamkan itu dapat jadi awal masuknya seseorang wanita ke jurang neraka lantaran berbuat durhaka pada suaminya.

Mungkin saja banyak wanita yg tidak mengerti bahwa ada banyak perbuatan mereka pada suami yang malah menjerumuskannya ke neraka. Hal yang di anggap biasa untuk dilakukan tenyata ada yang dilarang dalam Islam.

Di bawah ini yaitu 7 hal yang dapat buat wanita menjadi durhaka setelah menikah.

1. Menuntut Keluarga Yang Ideal dan Sempurna
Banyak wanita yang membayangkan sebuah pernikahan yang indah. Bahkan di antara mereka ada yang menginginkan kehidupan selayaknya yang ada di sinetron atau novel-novel fiksi setelah menikah. Seperti hidup berkecukupan, bahagia, tidak repot dan bisa melakukan apapun yang diinginkan. Gambaran yang demikian lah yang akhirnya membuat mereka terobsesi untuk memiliki keluarga yang ideal dan sempurna.

Namun, ketika membayangkan hal tersebut wanita cendrung tidak memikirkan masalah keuangan, kelelahan, dan segudang problematika dalam sebuah rumah tangga. Nah, ketika harus menghadapi situasi sulit tersebut maka mereka kurang bisa untuk menerima keadaan. Hal ini biasanya akan membuat wanita suka menuntut agar suaminya bisa membina keluarga mereka sesuai dengan gambaran ideal yang diimpikan sebelum menikah.

Solusi terbaik agar wanita tersebut tidak menjadi durhaka setelah menikah adalah menambah pemahaman yang utuh mengenai problematika yang ada di dalam rumah tangga sebelum menikah. Itu dapat dilakukan dengan sharing kepada lembaga perkawinan atau anggota keluarga yang berpengalaman.

2. Nusyus (Tidak Taat Kepada Suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh serta tidak taatnya seorang wanita kepada suaminya. Wanita yang suka melanggar perintah suaminya ini dapat dikategorikan sebagai wanita durhaka. Banyak sikap yang menunjukkan bahwa seorang wanita menjadi durhaka kepada suaminya, antara lain menolak ajakan suami ketika mengajaknya tidur, menghianati suami, memasukkan orang yang tidak disukai suami ke dalam rumah.

Tidak hanya itu ssja, ternyata lalai dalam melayani suami juga termasuk sikap nusyus. Menghambur-hamburkan uang dan berbicara kasar kepada suami, menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, keluar tanpa izin, dan menyebarkan aib serta rahasia suami juga dapat menjerumuskan wanita menjadi seseorang yang durhaka. Untuk itu, menjadi seorang istri haruslah bisa menempatkan ketaatan kepada suamu di atas segala-galanya. Namun bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah SWT.

3. Tidak Suka Terhadap Keluarga Suami
Banyak wanita yang menginginkan supaya semua perhatian serta kasih sayang suami hanya untuk dirinya seorang. Perhatian si suami ini tidak boleh terbagi meskipun dengan orang tua suaminya. Padahal sebenarnya suami juga harus berbakti dan memuliakan orang tua terutama ibunya.

Kecemburuan tersebut dapat terlihat ketika mereka mereka tinggal di rumah orang tua si suami. Si wanita akan mengganggap bahwa ibu mertuanya itu adalah pesaing utama dalam mendapatkan cinta, dan perhatian dari sang suami. Karena rasa cemburunya tersebut membuat istri berani menghina dan melecehkan orang tua suaminya. Bahkan tidak jarang, ia berani untuk meminta suaminya berbuat durhaka terhadap orangtuanya.

Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istrinya. Itulah yang mendasari ia untu menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara. Namun, pada dasarnya ikatan sebuah pernikahan itu tidak hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan tetapi juga antar keluarga. Untuk itulah antara suami dan istri harus menjaga hubungan baik dengan keluarga masing-masing dan sebaliknya.

4. Tidak Bisa Menjaga Penampilannya
Banyak istri yang berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah. Keadaan sebaliknya justru terjadi ketika dirinya berada di hadapan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, hanya menggunakan pakaian seadaannya, rambut tidak tertata, jangankan menggunakan parfum terkadang aroma dapur yang menyengatlah yang tercium di hidung suami.

Sebenarnya, hal seperti ini tidak patut untuk dipelihara. Bisa jadi, ketika terus menerus dilakukan maka akan membuat suami menjadi tidak betah di rumah. Ia akan lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah. Untuk itu, berhias semestinya hanya ditunjukkan kepada suami dan janganlah memamerkan kecantikan di khalayak umum karena hanya suamilah yang berhak untuk melihat suami itu.

5. Mengungkit-Ungkit Kebaikan
Semua orang tentu pernah melakukan sebuah kebaikan, tanpa terkecuali seorang istri. Namun, kebaikan tersebut justru akan menjadi masalah ketika kebaikan itu diungkit-ungkit di hadapan suami dalam rangka pamer atau riya. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]

6. Sibuk di luar rumah
Menjadi seorang wanita karir memang tidak dilarang dalam Islam selagi mendapatkan izin dari suami. Namun, ketika si istri terlalu banyak melakukan kesibukan di luar rumah itulah yang tidak diperbolehkan. Terlebih lagi jika kesibukan tersebut membuat istri mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya .

Ketika suami pulang ke rumah dari bekerja, lalu mendapati semua pekerjaan belum terselesaikan dengan baik akan membuat hubungan rumah tangga menjadi tidak baik. Bila terjadi terus menerus akan membuat si suami tidak betah berada di rumah. Ketika wanita tidak bisa menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri maka ketika itulah ia menjadi seorang wanita yang durhaka karena lalai terhadap tugasnya.

7. Cemburu Buta
Perasaan cemburu memang menjadi tabiat wanita yang menjadi ekspresi cinta. Namun, ketika perasaan cemburu tersebut tidak beralasan dan sudah keterlaluan akan membuat rasa cemburu ini berubah menjadi cemburu yang tercela.

Biasanya, cemburu yang diisyaratkan oleh istri adalah cemburu karena kemaksiatan yang dilakukan oleh sang suami seperti berzina, zalim, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini maka hal tersebut adalah sebuah cemburu yang terpuji. Namun, jika hanya sebuah dugaan belaka tanpa bukti dan fakta maka inilah yang kemudian menjadi cemburu yang tercela.

Itulah 7 hal yang dapat bikin wanita jadi durhaka setelah menikah. Oleh karena itu, sebagai seorang wanita kita mesti dapat belajar jadi istri yang baik serta sholehah supaya tak menjerumuskan diri serta suami ke lubang neraka. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari artikel ini, terima kasih sudah membaca.

"AFWAN=MAAF??"bukannya afwan jawaban orang yg bilang terimakasih,,yg artinya terimakasih kembali/sama2??!! Nahh Looh..gimana tuuhh??!!

bismillah


Tidak terlintas dalam pikiran saya kenapa saya ingin mengayunkan jemari saya untuk membahas ini,Sekedar uneq-uneq yang mengganjal dihati.Sorry,..maaf kata ini selevel maknanya dengan kata afwan.Mungkin perbedaan subyek yang menggunakan saja. Nah,kata ” afwan ” ini muncul beriringan dengan kata “ikhwan,akhwat,syukron, jazakillah” dsb. Komunitas ” anak mushola“,hehe^_^ paradigma yang sebenernya tiak terlalu urgen untuk dibahas di kalangan masyarakat biasa. Hanya eksistensinya saja yang berbeda..

(zaman baheula),,ana sering denger temen2 klo ngucapin"maaf" itu pke kata AFWAN.
Ana pun terbiasa dgn ucapan itu,beda halnya ketika ana berada di lingkungan orang2 timur tengah,,mereka mengucapkan AFWAN itu klo orang bilang "Terimakasih" di jawabnya afwan.
hmm..sempet bingung bin aneh,,koq orang bilang terimakasih di jawab maaf..hehe..
dan klo orang timur tengah bilang MAAF=ASYIF bukan afwan kayak kita2 yg terbiasa dgn pengucapan "afwan"klo mau minta maaf.
Ana bikin note ini BUKAN NGAJAKIN DEBAT ,cuman ingin share sedikit ilmu yg ana tau.
sebenarnya makna kata dlm bhsa arab bgtu luas dan berbeda2 arti,tergantung penempatannya.Ana gak bilang klo kita GAK BOLEH ngucapin maaf pake kata AFWAN.
Karena sebenernya jika di rinci, kata ‘afwan mempunyai kalimat lengkap Asta’fika yang artinya aku benar-benar minta maaf kepadamu.
LALU KENAPA donk yun..orang arab klo bilang afwan adalah ucapan jawaban dri syukron??mau tau??beneran??hhee..
jadi gini....
Ada yang bisa kita pelajari dari kebiasaan orang Arab ini. Ketika diucapkan padanya kata Syukran maka jawabannya adalah ‘Afwan. Mereka masih merasa perlu meminta maaf ketika sudah berbuat baik kepada seseorang. Mereka merasa bahwa seharusnya masih bisa melakukan lebih daripada itu, namun yang dilakukan hanya sebatas itu. Sehingga masih merasa perlu mengucap kata ‘Afwan.

Bingung ya? Saya juga bingung gimana mau ngejelasinnya…(hehe)
Begitulah kurang lebih konsep syukran dan ‘afwan. Tidak seperti orang Indonesia yang kalo diucapkan padanya terima kasih, maka jawabannya adalah sama-sama. Seolah dia memang pantas untuk mendapatkan ucapan terima kasih itu. Yang dilakukan orang Indonesia ini sama dengan yang dilakukan oleh orang yang menggunakan bahasa Inggris. Thank You, maka jawabannya adalah you’re welcome atau doesn’t mind.

Saya lebih sepakat dengan kebiasaan orang Arab mengenai konsep terima kasih ini.

Satu hal lagi, orang Arab atau orang yang menggunakan bahasa Arab, sangat senang sekali dalam tutur katanya mendoakan orang lain. Misalnya dalam pengumuman hasil ujian. Maka selain Lulus, istilah lainnya adalah bukan Tidak Lulus, melainkan Semoga Allah Mengizinkan di lain waktu.

Sungguh indah sekali jika kita senang menebar doa kepada lawan bicara kita dalam keseharian kita..
LALU setelah muter2 ngomongin afwan mau diambil yg mana niih klo ngucapin maaf..
yaaa..mau MAAF=AFWAN ..mangga wae...teu nanaon..
mau MAAF=ASYIF juga mangga...no problem..hehe

Salah Siapa Bernarsis ria di Medsos



Alkisah, tersebutlah akun sosmed seorang akhwat yang hobi banget selfie. Foto-fotonya dengan bermacam gaya dan pose lengkap dari berbagai angle terpajang dengan rapi di sana.

Tibalah suatu saat, ia merasa terganggu dengan banyaknya akun laki-laki iseng yang usil meninggalkan komentar, like dan kepo terhadap dirinya. Akhwat itu marah, kesal, benci.. Sampai akhirnya ia membuat postingan dengan caption panjang lebar menjelaskan kalau dia bukan perempuan murahan yang gampang untuk dilecehkan.

I got curios. So I keep scrolling down. Then I understand why.

Girls, ketika kita membiarkan dengan sengaja akun sosmed kita open for public, kita harus sudah siap dengan segala resikonya. Tiap orang bebas memfollow, mengomentari, melihat-lihat bahkan sekadar menyalurkan hobi kepo mereka.

Kalau nggak mau difollow, dikomentari atau dikepoin.. Ya, settingnya diubah jadi private aja atuh. Kita bebas menyeleksi siapa aja yang bisa lihat-lihat postingan kita. Biar nggak sembarang orang bisa tahu aktifitas kita, terutama orang-orang yang nggak mengenal kita dengan baik, juga orang-orang yang kurang berkenan di hati kita.

Girls, kalau cantiknya kita nggak mau dipandangi dan dinikmati oleh laki-laki asing, ya sok atuh nggak usah upload foto diri full face di sosmed. Bahkan meski sudah menutup wajah dengan cadar.

Dengan dalih berdakwah dan memasyarakatkan sunnah, kita bergaya bak model dengan hijab rapat bahkan lengkap dengan cadarnya. Di bawah foto yang kita unggah, kita selipkan nasehat dan tausiyah yang sangat menyentuh.

Ironisnya, caption nasehat yang kita posting adalah tentang pentingnya ghadhul bashar alias menundukkan pandangan, sedang di atasnya persis terdapat foto diri kita dengan lirikan mata malu-malu dan senyum penuh misteri.

How sad.

Wanita itu indah, sekaligus sumber fitnah. Oleh karenanya Allah mensyariatkan wajibnya hijab untuk meredam pesona mereka. Karena Rasulullah shalallaahu alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan dalam sabda beliau,

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita .” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)

## RENUNGAN AKHIR TAHUN ##



Kita sudah relatif jauh mengarungi samudera kehidupan. Banyak yang sudah kita lihat dan raih. Tapi masih banyak yang kita keluhkan.

Mari kita berhenti sejenak. Bukalah kembali peta perjalanan hidup. Lihatlah berapa jauh jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang harus kita lalui.

Tak lama lagi, episode kehidupan yang kita lakoni di dunia akan segera berakhir. Kita semua berharap agar Allah menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah.

Persoalannya adalah, amal shaleh apa yang dapat kita jadikan bekal menuju hari esok??

Keterperdayaan terbesar kita adalah terus-menerus melakukan dosa karena memiliki harapan akan ampunan Allah. Ini adalah kesalahan besar. Sebab selain menjanjikan ampunan, Allah juga mengancam dengan azab-Nya yang pedih, sebagaimana firman-Nya,

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku,
bahwa Akulah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Al-Hijr [15]: 49-50)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.” (Al-Jasiyah [45]: 21)

Yakni orang-orang yang melakukan dosa dan amalan tercela menyangka kelak di akhirat mereka disamakan dengan orang-orang yang beramal shaleh! Tidak mungkin! Buruk sekali apa yang mereka sangka itu.

Ma’ruf al-Karkhi berkata, “Harapanmu terhadap rahmat Dzat yang tidak engkau taati adalah sebuah kebodohan.”

Disisi lain kita merasa kagum dan bangga dengan ibadah yang telah kita lakukan. Padahal orang-orang shaleh selama-lamanya selalu rindu kepada Allah dan takut kalau ibadah yang mereka lakukan tidak diterima.

Ibnul Qayyim berkata: “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah diantara tanda kegelapan hati dan ketololan.” Ia menambahkan, keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amal tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan.

Karenanya, merupakan kewajiban bagi kita (yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir) untuk tidak lalai dari mengintrospeksi diri.

Merenung dalam kesendirian merupakan sarana yang mampu membeningkan hati. Dengan merenung kita dapat melihat dengan jernih apa-apa yang telah kita perbuat selama ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (AL-Hasyr [59]: 18)

Banyak kebaikan yang didapat dari merenung (mengintrospeksi diri), diantaranya,

@ Mengkonsentrasikan hati untuk mengingat Allah.
@ Menjauhkan dari para pendengki, pencaci, pencari aib, dan penyuka kesalahan-kesalahan.
@ Pembersihan otak dari kotornya pikiran.
@ Penenang batin dari kegalauan akan banyaknya problem.
@ Memenjara tabiat dan kebiasaan tidak baik.
@ Penjauhan diri dari sebab-sebab kekasaran hati dikarenakan banyak melihat, banyak mendengar, banyak bercanda, berlebihan dalam tertawa, berteman dengan orang-orang bodoh, dan bercengkrama dengan orang-orang dungu.

Inilah yang semestinya kita lakukan menyongsong datangnya tahun baru. Hitunglah amal perbuatanmu sebelum engkau dihisab kelak.

Labels

loading...

Copyright @ 2017 Titian Tasbih.

Designed by Aufa | AUFA